Kemungkinan The Fed Naikkan Bunga 4 Kali Capai 67%

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
30 July 2018 11:37
Kemungkinan The Fed Naikkan Bunga 4 Kali Capai 67%
Jakarta, CNBC Indonesia - Investor kini semakin khawatir Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) akan mengerek suku bunga acuan sebanyak 4 kali pada tahun ini. Mengutip situs resmi CME Group yang merupakan pengelola bursa derivatif terkemuka di dunia.

Berdasarkan harga kontrak Fed Fund futures, terdapat 67,1% kemungkinan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan hingga ke level 2,25%-2,5% sampai dengan akhir tahun atau sebanyak 4 kali secara total. Padahal, pada 1 minggu yang lalu probabilitasnya masih berada di level 55,7%.

Di sisi lain, probabilitas bahwa suku bunga acuan akan berada di level 2%-2,25% atau mengimplikasikan kenaikan sebanyak 3 kali sepanjang tahun ini turun drastis menjadi 26,4% saja, dari yang sebelumnya 34,1% pada minggu lalu.


Mencuatnya persepsi bahwa the Fed akan mengerek suku bunga acuan hingga 2 kali lagi pada tahun ini (4 kali secara total) muncul seiring dengan kuatnya data perekonomian AS. Pada hari Jumat lalu, pembacaan awal untuk pertumbuhan ekonomi kuartal-II 2018 diumumkan di level 4,1% QoQ (annualized), dimana ini merupakan level tertinggi dalam nyaris 4 tahun.

Dalam konferensi pers yang digelar setelah data dirilis, Presiden Donald Trump bahkan dengan optimistis menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi akan lebih tinggi kedepannya.

"Kita akan mencapai level yang jauh lebih tinggi," papar presiden AS ke-45 tersebut.

Ia kemudian menyebut bahwa AS sedang menuju level pertumbuhan ekonomi tahunan tertinggi dalam lebih dari 13 tahun.

"Seiring dengan tercapainya kesepakatan dagang satu demi satu, kita akan mencapai level yang jauh lebih tinggi daripada angka-angka ini, dan angka-angka ini adalah angka yang baik," terang Trump.

Berbicara mengenai kesepakatan dagang, situasinya memang terus membaik. Dengan Uni Eropa, Trump dan Presiden Uni Eropa Jean-Claude Juncker sepakat untuk menurunkan hambatan tarif dan non-tarif di bidang perdagangan.

"Hari ini, kami sepakat bekerja bersama untuk menuju tarif nol, tidak adanya non-tariff barrier, dan tidak ada subsidi bagi produk-produk non otomotif. Kami juga akan meningkatkan perdagangan di bidang jasa, farmasi, produk-produk kesehatan, juga kedelai," ungkap Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih belum lama ini, seperti dikutip dari Reuters.

Trump menyebut Uni Eropa akan secepat mungkin meningkatkan pembelian kedelai dan Liquified Natural Gas (LNG) dari AS. Presiden AS ke-45 itu juga menyebut bahwa dirinya dan Juncker sepakat untuk mengumandangkan reformasi di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Sementara itu, Juncker menyebut AS akan membangun terminal baru untuk memfasilitasi ekspor LNG ke Benua Biru. Juncker memastikan Uni Eropa tidak akan mengenakan bea masuk tambahan bagi produk AS selama negosiasi berjalan.

Dengan berbagai kesepakatan itu, AS dan Uni Eropa akan memulai proses perundingan untuk membahas masalah pengenaan bea masuk baja dan aluminium asal Uni Eropa oleh AS serta pengenaan bea masuk balasan oleh Uni Eropa atas beragam produk Negeri Paman Sam. Ada kemungkinan pengenaan berbagai bea masuk itu akan dihentikan.

Dengan China, pada hari Kamis kemarin (26/7/2018) senat AS meloloskan RUU yang akan mengurangi atau bahkan menghilangkan bea masuk bagi produk-produk impor asal China.

Sejatinya, kebijakan ini tak hanya menyasar produk-produk asal China saja, namun menyasar barang-barang yang diproduksi diluar AS. Namun, berdasarkan analisis dari Reuters, dari sekitar 1660 produk yang akan diuntungkan oleh kebijakan ini, hampir setengahnya diproduksi di China.

Sebelumnya, House of Representatives juga telah memberikan persetujuan terhadap RUU ini. Dengan persetujuan dari Senat pada hari Kamis, maka kedua belah pihak akan bekerjasama untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan yang masih ada, sebelum pada akhirnya mengirimkan RUU tersebut ke meja Presiden Donald Trump untuk disahkan menjadi undang-undang.

Para pendukung dari RUU ini sebelumnya mengatakan bahwa perekonomian AS dapat diuntungkan dengan kebijakan ini, seiring dengan dieliminasinya bea masuk yang diberlakukan untuk melindungi industri-industri yang sebenarnya sudah tidak ada lagi di AS. National Association of Manufacturers mengatakan bahwa pelaku usaha di AS membayar US$ 1 juta setiap harinya untuk bea masuk tersebut.

"Itu tidak masuk akal karena itu adalah pajak langsung dan menghukum produksi dan penciptaan lapangan kerja di AS," papar Jay Timmons, Presiden National Association of Manufacturers dalam pernyataannya.

Dampak ke Pasar Saham Negatif
Namun demikian, semakin mencuatnya pesepsi mengenai kenaikan suku bunga acuan sebanyak 4 kali di AS direspon negatif oleh investor pasar saham. Hingga berita ini diturunkan, bursa saham utama kawasan Asia kompak diperdagangkan di zona merah: indeks Nikkei turun 0,75%, indeks Shanghai turun 0,16%, indeks Hang Seng turun 0,74%, indeks Strait Times turun 0,58%, dan indeks Kospi turun 0,15%.

Walaupun ekonomi AS sedang panas dan tensi perang dagang sedang mereda, ada kekhawatiran bahwa kedepannya risiko perang dagang bisa kembali mencuat. Jika hal ini yang terjadi, kenaikan suku bunga acuan yang kelewat agresif berpotensi mengancam laju perekonomian AS.

Bagi instrumen berisiko seperti saham, hal tersebut tentu bukan kabar baik.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading