Perry Warjiyo: 'Jamu Pahit' BI Akan Terasa 9 Bulan Lagi

Market - Herdaru Purnomo, CNBC Indonesia 03 July 2018 16:50
Perry Warjiyo: 'Jamu Pahit' BI Akan Terasa 9 Bulan Lagi
Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengibaratkan bank sentral memberi jamu pahit dan jamu manis dalam menjaga stabilitas dan meningkatkan pertumbuhan.

Kenaikan bunga acuan BI hingga 50 basis poin (bps) terakhir, menurut Perry, merupakan jamu pahit. Namun, jamu pahit tersebut baru akan terasa 'pahitnya' sembilan bulan kemudian.

"Kenaikan bunga acuan ini jamu pahit. Di mana jamu pahitnya memang akan terasa beberapa waktu ke depan," kata Perry di Gedung BI, Selasa (3//7/2018).


Menurutnya, transmisi kenaikan BI 7-Day RR ke bunga deposito perbankan memakan waktu tiga hingga enam bulan sementara untuk bunga kredit bisa enam hingga sembilan bulan.

"Jadi, jamu pahit mungkin baru terasa 1,5 tahun lagi. Tapi saat ini stabilitas terjaga dengan baik," tuturnya.
Namun, Perry meyakini dengan terjaganya likuiditas perbankan maka tidak ada alasan bunga kredit naik lebih cepat.

Perry Warjiyo menegaskan kenaikan 50 bps dari bunga acuan BI memang mengantisipasi kondisi gejolak eskternal tersebut. Namun memang tak hanya untuk stabilitas, BI juga memikirkan pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.

"Kenaikan 50 bps itu merupakan jamu pahit tapi kita tahu kita berikan juga jamu manis biar tak berdampak ke dalam negeri," kata Perry.

Jamu manis tersebut, sambung Perry, adalah dengan menerapkan pelonggaran loan to value (LTV) sektor properti. Di mana nantinya akan mendongkrak pertumbuhan lewat domino effect dari pembangunan rumah dan geliat kredit.

"Ini tak hanya dorong kredit properti tapi bagaimanapun membuat yang belum punya rumah bisa memiliki rumah pertamanya karena ada pelonggaran uang muka," tuturnya.


(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading