Meski Libur, Rilis Data Ekonomi di Luar Ini Perlu Dicermati

Market - Raditya Hanung Prakoswa, CNBC Indonesia
10 June 2018 20:32
Tim Riset CNBC Indonesia merangkum rilis empat data ekonomi yang berpeluang mempengaruhi performa IHSG saat kembali dibuka paska libur lebaran.
Jakarta, CNBC IndonesiaBursa saham domestik akan tutup merayakan hari raya Idul Fitri. Menjelang libur panjang tersebut, pelaku pasar nampaknya masih bisa bernafas lega setelah IHSG masih mampu menguat 0,17% di sepanjang pekan lalu, sejalan dengan beberapa indeks utama di Asia Tenggara.

Meskipun demikian, investor perlu mewaspadai sejumlah data ekonomi yang akan dirilis pada pekan depan. Tim Riset CNBC Indonesia merangkum rilis empat data ekonomi yang berpeluang mempengaruhi performa IHSG saat kembali dibuka pasca libur lebaran.

Rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) - Selasa (12 Juni 2018 Pukul 19.30 WIB)


Pada hari Selasa (12/6/2018), Biro Statistik Ketenagakerjaan AS dijadwalkan merilis data inflasi periode Mei. Pada bulan April, indeks harga konsumen AS tercatat meningkat sebesar 2,48% secara year-on-year (YoY), angka tertinggi sejak Februari 2017.

Sementara, Personal Consumption Expenditure (PCE), yang menjadi indikator The Fed untuk mengukur tingkat inflasi, sudah mencapai target 2%. Untuk core PCE sudah mendekati 2%, tepatnya 1,9%.

Untuk Bulan Mei, inflasi AS diekspektasikan masih akan meningkat oleh pelaku pasar, seiring dukungan data-data ekonomi AS yang semakin positif. Misalnya, perekonomian AS menciptakan 223.000 pekerjaan baru di bulan Mei dibandingkan 188.000 yang diperkirakan para analis. Pendapatan per jam pun naik 0,3%, sementara angka pengangguran turun menjadi 3,8% di periode yang sama.

Sebagai catatan, angka pengangguran sebesar itu merupakan yang terendah dalam 18 bulan terakhir.

Kemudian, akibat aksi saling balas menaikkan bea masuk antara AS dan negara-negara lain, harga barang impor menjadi lebih mahal. Alih-alih melindungi produksi dalam negeri, pengusaha justru tertekan karena kenaikan harga bahan baku seperti baja. Mereka pun terpaksa mentransmisikan kenaikan biaya produksi menjadi kenaikan harga di tingkat konsumen.

Hal ini sudah tercermin dalam rilis data pemesanan pabrik manufaktur pada April turun 0,8% secara month-to-month (MtM). Jauh memburuk dibandingkan Maret yang naik 1,7%. Data April juga lebih rendah dari konsensus yang memperkirakan penurunan 0,5%.

The Fed sudah bersumpah untuk menjaga perekonomian AS dari overheating, dengan inflasi ditargetkan sebesar 2% pada 2018. Awalnya, pelaku pasar (dan The Fed sendiri) memperkirakan tahun ini akan terjadi tiga kali kenaikan suku bunga. Namun jika laju perekonomian semakin cepat dan inflasi semakin menekan, maka kenaikan sampai empat kali bukan hal mustahil.

Rilis data cadangan minyak mentah AS - Rabu (13 Juni 2018 Pukul 21.30 WIB)

US Energy Information Administration (EIA) dijadwalkan merilis data cadangan minyak mentah AS dalam sepekan hingga tanggal 8 Juni 2018. Sebagai catatan, cadangan minyak mentah AS dilaporkan naik 2,1 juta barel dalam sepekan hingga tanggal 1 Juni, jauh melebihi ekspektasi analis yang mengestimasikan penurunan sebesar 1,8 juta barel.  

Tidak hanya itu, EIA juga melaporkan bahwa produksi minyak mentah mingguan Negeri Paman Sam juga kembali mencetak rekor baru sepanjang sejarah, di angka 10,8 juta barel per hari (bph) di sepanjang pekan lalu. Merespon pengumuman data itu, harga minyak langsung amblas. Light sweet sempat terkoreksi hingga 1,62% ke US$64,46/barel, sedangkan brent juga turun drastis nyaris 1% ke US$74,66/barel.

Apabila data yang dirilis nanti kembali menunjukkan situasi yang sama, harga minyak dapat kembali terkoreksi cukup signifikan. Apalagi sentimen melonggarnya pemangkasan produksi minyak OPEC dan Rusia saat ini masih ada di permukaan.       

Rilis Federal Funds Rate - Kamis (14 Juni 2018 Pukul 01.00 WIB)

Semua mata nampaknya akan tertuju kepada pertemuan The Fed pekan ini, seraya menunggu bagaimana arah kebijakan moneter yang akan diambil bank sentral AS itu pada 14 Juni 2018. Pasar masih mereka-reka apakah the Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuannya atau tidak.

Namun, sebagian kalangan meyakini The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuannya merujuk pada data perekonomian di negeri Paman Sam yang semakin pulih.  Tingkat pengangguran di AS saat ini menyentuh angka 3,8% atau terendah dalam 18 tahun terakhir. Penurunan angka pengangguran mengidikasikan ekonomi negara tersebut semakin tumbuh sehingga kemungkinan besar the Fed bisa menaikkan suku bunga acuan untuk mencegah overheating.

Teranyar, jumlah pengisi tunjangan tunakarya (jobless claim) pada pekan yang berakhir 2 Juni tercatat sebesar 222.000 orang, turun 1.000 orang dibandingkan pekan sebelumnya dan lebih baik ketimbang ekspektasi pasar yaitu 225.000 orang.

Mengutip CME Fedwatch hari ini, probabilitas The Fed untuk menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin ke 1,75%-2%, mencapai sebesar 91,3%.

Rilis kebijakan moneter European Central Bank (ECB) - Kamis (14 Juni 2018 Pukul 19.30 WIB)

ECB akan merilis kebijakan moneternya beberapa jam setelah The Fed mengumumkan suku bunga acuannya. Aura pengetatan moneter juga sebenarnya terasa di Eropa, tidak hanya di Negeri Paman Sam.

Pertumbuhan ekonomi Benua Biru yang menguat dan kondisi pasar tenaga kerja yang semakin solid, telah mendukung kepercayaan diri ECB bahwa inflasi akan mencapai target.

"Sinyal yang ada menunjukkan peningkatan konvergensi inflasi menuju target yang kita harapkan, dan baik kekuatan ekonomi di Eropa, maupun fakta bahwa kekuatan tersebut terus mendukung formasi upah, mendukung kepercayaan diri kita bahwa inflasi akan mencapai tingkatan sedikit di bawah 2% dalam jangka menengah" ujar Peter Praet, Ekonom ECB, dikutip dari Reuters.

Inflasi di zona euro melompat ke 1,9% pada Mei dibandingkan 1,2% bulan sebelumnya. Lonjakan inflasi Mei itu utamanya disebabkan oleh harga minyak yang naik tajam 6,1% dibandingkan 2,6% pada. Kemudian, angka pengangguran juga turun dari 8,6% menjadi 8,5%, yang merupakan level terendah dalam sembilan tahun.

Setelah sebelumnya berusaha menggenjot pertumbuhan ekonomi dengan mempertahankan suku bunga acuan dan tetap menjalankan stimulus moneter, kini ECB akan mendiskusikan kemungkinan untuk melonggarkan stimulus moneter setelah melihat inflasi mulai meningkat mendekati target 2%.
 


(RHG/RHG)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading