Rupiah Terdepresiasi, Pyridam Mulai Efisiensi Penuhi Target

Market - Exist In Exist, CNBC Indonesia
25 May 2018 12:39
Rupiah Terdepresiasi, Pyridam Mulai Efisiensi Penuhi Target
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pyridam Farma Tbk. (PYFA) menargetkan pertumbuhan laba bersih tahun ini sebesar 8% atau mencapai Rp 7,69 miliar. Perseroan akan meningkatkan efisiensi karena ada potensi peningkatan beban dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Sekretaris Perusahaan PYFA Steven A A Setiawan mengatakan target pertumbuhan ini sejalan dengan target pertumbuhan penjualan bersih sebesar 6% atau mencapai Rp 236,38 miliar. Selain itu, perseroan akan meningkatkan efisiensi dalam segala kegiatan dan segala jenis biaya, baik biaya produksi ataupun biaya lainnya.

"Kami optimis target ini bisa kita capai dengan beberapa strategi, seperti melanjutkan percepatan peluncuran produk baru dan meluncurkan sejumlah produk baru," ujar Steven dalam paparan publik di BEI, Jumat (25/05/2018).


Perseroan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) juga menyampaikan hasil kinerja 2017. Perseroan membukukan laba bersih senilai Rp 7,12 miliar sepanjang 2017, meningkat 38,49% dibanding tahun sebelumnya senilai Rp 5,14 miliar.

Steven menginformasikan berdasarkan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) hari ini ditetapkan tidak ada pembagian dividen dari laba tersebut.

"Hasil RUPST menetapkan penggunaan bersih 2017 sebesar Rp 7,12 miliar sebagai laba yang ditahan, dan Rp 1 miliar dari jumlah tersebut akan digunakan sebagai tambahan dana cadangan wajib sehingga total dana cadangan wajib menjadi Rp 2 miliar," jelasnya dalam paparan publik di BEI, Jumat (25/05/2018).

Pertumbuhan laba ini, jelasnya, didukung oleh penjualan bersih yang juga meningkat 2,79% dari Rp 216,95 miliar pada tahun 2016 menjadi Rp 223 miliar pada tahun 2017.

"Perolehan dari hasil penjualan bersumber pada segmen usaha farmasi dan maklo dengan kontribusi sebesar 96,7%, sedangkan alat kesehatan sebesar 3,3%," paparnya.

Meskipun demikian, Steven mengatakan terdapat beberapa tantangan yang dihadapi perusahaan sepanjang 2017, antara lain ketergantungan impor bahan baku farmasi, tergerusnya pasar obat resep oleh obat generik program BPJS, dan bergejolaknya ekonomi global akibat kebijakan proteksionisme AS yang memancing perang dagang dengan Tiongkon.

"Hambatan lainnya adalah kenaikan Fed Rate juga menyebabkan repatriasi global dan pelemahan rupiah serta perekonomian Tiongkok yang masih lesu," tambahnya. (hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading