Korsel dan Korut Batal Bertemu, Bursa Saham Asia Terkoreksi

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
16 May 2018 09:10
Korsel dan Korut Batal Bertemu, Bursa Saham Asia Terkoreksi
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham utama kawasan Asia dibuka melemah pada perdagangan hari ini (16/5/2018). Indeks Nikkei dibuka turun 0,39% ke level 22.730,1, indeks Kospi turun 0,48% ke level 2.446,6, indeks Strait Times dibuka turun 0,21% ke level 3.533, indeks Shanghai dibuka turun 0,37% ke level 3.180,2, dan indeks Hang Seng dibuka turun 0,44% ke level 31.014,7.

Sentimen negatif bagi pasar modal hari ini datang dari Korea Utara yang secara mengejutkan membatalkan pertemuan dengan Korea Selatan yang sejatinya akan dilakukan hari ini. Bahkan, Korea Utara juga mengancam untuk mundur dari pembicaraan yang telah dijadwalkan dengan AS pada 12 Juni mendatang di Singapura.

Pembicaraan dengan Korea Selatan sebelumnya dimaksudkan untuk membicarakan langkah-langkah konkrit guna memenuhi hal-hal yang dijanjikan pada saat deklarasi perdamaian antar kedua negara beberapa waktu silam.


Mengutip CNBC International, media milik pemerintahan Korea Utara melaporkan bahwa latihan militer gabungan antara AS dan Korea Selatan merupakan sebuah provokasi dan sebuah persiapan untuk melakukan invasi. Atas dasar itulah Korea Utara membatalkan pertemuannya dengan Korea Selatan.

Merespon kabar tersebut, investor dipaksa untuk melepas kepemilikannya atas aset-aset beresiko seperti saham. Telebih, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun kembali meroket ke atas 3%, yakni di level 3,0668%. Hal ini datang sebagai hasil dari ekspektasi atas akselerasi inflasi AS, seiring positifnya data-data ekonomi dari Negeri Paman Sam.

Teranyar, penjualan ritel naik 0,3% secara month-to-month (MtM), sesuai dengan ekspektasi pasar. Sementara pertumbuhan secara YoY mencapai 4,7%. Bila mengeluarkan penjualan mobil, bahan bakar, material bagunan, dan jasa makanan-minuman (sering disebut penjualan ritel inti atau core retail sales) ada kenaikan 0,4% MtM. Core retail sales ini paling mendekati konsumsi rumah tangga dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB).

Penjualan ritel yang tumbuh menandakan konsumsi masyarakat pun meningkat. Dari sini pula peningkatan ekspektasi inflasi berasal. Ketika ekspektasi inflasi naik, cara untuk menjangkarnya adalah menaikkan suku bunga acuan.

Namun, kenaikan suku bunga acuan yang kelewat agresif bisa mematikan ekonomi AS. Jika itu yang terjadi, tentunya negara-negara yang menjadi mitra dagang AS juga akan dirugikan.



TIM RISET CNBC INDONESIA



(roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading