Menebak Arah Pergerakan Rupiah Pekan Depan

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
05 May 2018 17:40
Menebak Arah Pergerakan Rupiah Pekan Depan
Jakarta, CNBC Indonesia - Sepanjang minggu ini, rupiah terdepresasi 0,36% terhadap dolar AS di pasar spot ke level Rp 13.935. Bahkan, rupiah sempat mencapai titik terlemahnya di level Rp 13.973/dolar AS pada 3 Mei lalu. Jika ditarik dari awal tahun, pelemahan rupiah melebar menjadi 2,7%.

Lantas, bagaimana prospek pergerakan rupiah pekan depan?

Rupiah berpotensi kembali melemah pekan depan. Penyebabnya, ketakutan atas kenaikan suku bunga acuan oleh the Federal Reserve yang lebih agresif dari perkiraan masih akan menghantui.


Terlebih, kemarin (4/5/2018) tingkat pengangguran AS per akhir April diumumkan di angka 3,9%, lebih rendah dibandingkan konsesus yang sebesar 4%, terlepas dari penciptaan lapangan kerja sektor non-pertanian yang diumumkan di bawah estimasi (164.000 vs. 192.000). Tingkat pengangguran per akhir April merupakan yang terendah dalam hampir 18 tahun.

Respon dari pelaku pasar pun bisa ditebak. Pada akhir perdagangan kemarin, indeks dolar AS yang menggambarkan pergerakan dolar AS terhadap mata uang utama dunia lainnya menguat hingga 0,17% ke level 92,569, dimana ini merupakan titik tertinggi pada tahun ini.

Pada perdagangan hari Senin nanti (7/5/2018), price-in dengan melakukan aksi beli terhadap dolar AS berpotensi terus dilakukan. Apalagi, sepanjang tahun 2017 dolar AS terus-menerus melemah sepanjang tahun, seakan-akan mengabaikan kenaikan suku bunga acuan yang sebanyak 3 kali.

Hal tersebut disebabkan oleh kencangnya reli Wall Street yang juga mendorong bursa saham di negara-negara lain (termasuk Indonesia) untuk terkerek naik. Akibatnya, dolar AS menjadi ditinggalkan kala itu. Namun kini, ketika Wall Street sudah mulai kehabisan tenaga, dolar AS mulai balas dendam.

Dari sisi geopolitik, situasi juga berpotensi menguntungkan dolar AS. Hingga kini, presiden AS Donald Trump nampak masih tak bergeming dari rencananya untuk menarik diri dari kesepakatan dengan Iran, sebuah hal yang sudah dikatakannya semenjak menjadi kandidat presiden. Trump memiliki waktu sampai dengan 12 Mei untuk memutuskan apakah akan menarik diri atau tetap berada dalam kesepakatan yang ditandatangani pada era Presiden Barack Obama tersebut.

Jika pada minggu depan ada kepastian bahwa AS benar-benar akan menarik diri, bukan hubungan antara AS dan Iran saja yang bisa memanas, melainkan juga hubungan AS dan Rusia yang merupakan sekutu dari Iran.

Bank Indonesia Biarkan Dolar AS ke Rp 14.000?

Di sisi lain, intervensi dari Bank Indonesia (BI) nampak tak terlalu bisa diharapkan. Walaupun sempat menyatakan telah melakukan intervensi dalam jumlah yang besar belum lama ini, kini indikasi yang diberikan oleh bank sentral menunjukkan hal lain.

Kemarin, Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari pergerakan dolar AS yang semakin mendekati Rp 14.000/dolar AS. BI memandang, ekonomi Indonesia akan tetap baik-baik saja meskipun rupiah menembus level tersebut.

"Jangan terlalu dikhawatirkan, seolah-olah kita akan alami suatu kesulitan besar. Tidak. Ini hanya psikologis saja karena dampak terhadap ekonomi tidak terlalu signifikan," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Nanang Hendarsah di Gedung BI, Jumat.

Lebih lanjut, Nanang menambahkan intervensi yang dilakukan bank sentral bukan bertujuan untuk mencapai level tertentu, melainkan mengelola volatilitas.

Dengan mencermati pernyataan tersebut, besar kemungkinan bank sentral akan membiarkan rupiah menyentuh level Rp 14.000/dolar AS jika tekanan jual kelewat besar. Pasalnya, terus-menerus melakukan intevensi hanya akan menguras cadangan devisa tanpa memberikan kepastian bahwa tekanan jual akan mereda.

(ank/ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading