NPF Bengkak, Bukopin Jual BSB ke Bank Bahrain dan Malaysia

Market - Donald Banjarnahor, CNBC Indonesia
27 April 2018 10:40
NPF Bengkak, Bukopin Jual BSB ke Bank Bahrain dan Malaysia
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah kinerja keuangan yang tertekan serta permasalahan revisi laporan keuangan, PT Bank Bukopin Tbk tetap melanjutkan divestasi anak usaha PT Bank Syariah Bukopin (BSB).

Direktur Utama Bukopin Eko Rachmansyah Gindo mengatakan ada dua bank asing dan sebuah koperasi nasional yang tertarik untuk mengakuisisi BSB. "Dua Bank tersebut adalah Al Baraka asal Bahrain dan Affin Bank dari Malaysia," ujar Eko kepada CNBC Indonesia, Kamis (26/4/2018).

Al Baraka Banking Group adalah bank syariah yang berbasis di Bahrain dan telah beroperasi di 15 negara, khususnya Timur Tengah.


Al Baraka memiliki total ekuitas sekitar US$2,1 miliar. Adapun Affin Bank adalah grup keuangan asal Malaysia yang juga memiliki anak usaha bank syariah.

Meski demikian, dia belum mau mengungkapkan nama koperasi nasional yang memiliki modal besar dan tertarik untuk mengakuisisi BSB. "Kami akan divestasi sekitar 40% dengan target dana sekitar Rp 400 miliar," ujar Eko.

Dalam kesepakatan ASEAN Banking Integration Framework (ABIF), Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan  memperketat izin bagi bank Malaysia yang ingin masuk ke Indonesia. Malaysia telah memiliki dua bank di Indonesia, yakni Bank CIMB Niaga dan Maybank, namun baru satu bank Indonesia yang telah memiliki izin beroperasi di Malaysia, yakni Bank Mandiri.

Dengan azas resiprokal, Malaysia harus membuka izin bank kedua asal Indonesia untuk beroperasi di Negeri Jiran, sebelum Indonesia membolehkan bank ketiga asal Malaysia untuk beroperasi di Indonesia.

Eko menambahkan hasil divestasi dari BSB akan digunakan untuk penambahan modal Bukopin yang telah tergerus akibat kenaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) dan revisi laporan keuangan akibat modifikasi data kartu kredit.

"Kami juga akan rights issue pada Juni mendatang dengan target senilai Rp 2 triliun. Bila hasil rights issue tidak sampai Rp 2 triliun maka hasil divestasi dari BSB ini akan menambah," ujarnya.

Divestasi ini dilakukan di kala keuangan BSB sedang tertekan yang tercemin dalam rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) gross menembus 7,68% pada akhir triwulan I/2018. Rasio NPF dari bank yang dipimpin oleh Saidi Mulia Lubis ini meningkat lebih dari 3 kali lipat dari setahun yang tercatat 2,22%.

BSB juga melakukan pencadangan yang cukup besar terdapat pembiayaan bermasalah sehingga rasiao cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) aset keuangan terhadap aset produktif mencapai 4,46% dari setahun lalu yang hanya 1,89%.

Kenaikan pencadangan tersebut menyebabkan NPF net BSB berada pada kisaran 3,86%, masih di bawah batas ambang kesehatan Otoritas Jasa Keuangan sebesar 5%.

Adapun modal disetor dari BSB pada akhir triwulan I/2018 mencapai Rp 1,05 triliun. Meski demikian BSB mengalami penurunan modal akibat rugi tahun-tahun sebelumnya yang tercatat Rp 205,58 miliar, sehingga total ekuitas hanya Rp 882,32 miliar.

(roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading