Saham-saham yang Paling 'Cuan' di Atas 100% Sepanjang 2018

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
27 February 2018 07:08
Dari 572 saham yang dapat diperdagangkan di BEI, terdapat 10 saham yang mampu mencatatkan imbal hasil setidaknya 100%
Jakarta, CNBC Indonesia - IHSG kembali menunjukkan performa yang menggembirakan pada tahun 2018, setelah mencatatkan imbal hasil sebesar 19,99% pada tahun 2017. Sepanjang tahun 2018 sampai dengan penutupan perdagangan kemarin, IHSG menguat sebesar 3,13%.

Dari 572 saham yang dapat diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI), terdapat 10 saham yang mampu mencatatkan imbal hasil setidaknya 100% hanya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan. Berikut kesepuluh saham tersebut seperti dirangkum oleh CNBC Indonesia.

Nama Perusahaan Kode Saham Sektor Imbal Hasil (ytd) :
  1. PT Prima Cakrawala Abadi Tbk [PCAR] Sektor Barang Konsumsi : 853%
  2. PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk [IKAI] Industri Dasar dan Kimia : 503%
  3. PT Toba Pulp Lestari Tbk [INRU] Industri Dasar dan Kimia : 285%
  4. PT Energi Mega Persada Tbk [ENRG] Pertambangan : 219%
  5. PT Bank Agris Tbk [AGRS] Jasa Keuangan : 165%
  6. PT Trust Finance Indonesia Tbk [TRUS] Jasa Keuangan : 131%
  7. PT Rukun Raharja Tbk [RAJA] Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi : 133%
  8. PT Indonesia Prima Property Tbk [OMRE] Properti, Real Estate, dan Konstruksi Bangunan : 116%
  9. PT Trada Alam Minera Tbk [TRAM] Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi : 108%
  10. PT Logindo Samudramakmur Tbk [LEAD] Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi : 100%

PCAR: Perusahaan publik pengolah rajungan pertama


PT Prima Cakrawala Abadi Tbk (PCAR) memulai debutnya di lantai bursa pada 29 Desember 2017 silam atau pada hari terakhir perdagangan tahun 2017. Perusahaan yang begerak di bidang pengolahan rajungan ini melepas sebanyak 466.666.700 saham atau setara dengan 40% dari total saham perusahaan. Dana yang berhasil dihimpun dari IPO adalah senilai Rp 72,33 miliar. Pada perdagangan perdananya di BEI, harga saham PCAR melesat hingga 69,3% ke level Rp 254/saham. PCAR merupakan perusahaan publik pertama yang bergerak di bidang pengolahan rajungan.

Mengutip prospektus yang disajikan perusahaan, per 31 Agustus 2017 perusahaan masih mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 3,5 miliar. Namun, nilainya telah jauh mengecil dibandingkan capaian periode yang sama tahun 2016 senilai Rp 6,5 miliar. Melasir Bisnis Indonesia, dengan dana segar hasil penawaran umum perdana, perusahaan menargetkan laba bersih sebesar Rp 11 miliar pada tahun ini.

IKAI: Diversifikasi ke sektor properti

PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (IKAI) merupakan produsen keramik yang sudah melantai di BEI sejak 1997 silam. Sepanjang 2017, rugi bersih perusahaan tercatat sebesar Rp 52,9 miliar, turun dibandingkan 2016 yang mencapai Rp 145,4 miliar. Hal ini diumumkan melalui laporan keuangan konsolidasi (unaudited) yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 31 Januari lalu.

Menariknya, penurunan rugi bersih ini bukan disebabkan oleh peningkatan pendapatan. Pada tahun lalu, pendapatan perusahaan yang berlokasi di Tangerang ini justru anjlok hingga 84% menjadi hanya Rp 13,3 miliar, dari yang sebelumnya Rp 83,7 miliar pada tahun 2016.

Penurunan beban administrasi lah yang menopang kinerja keuangan perusahaan. Sepanjang 2017, nilainya tercatat hanya sebesar Rp 23,4 miliar, turun jauh dari angka 2016 yang mencapai Rp 130,6 miliar. Melihat lebih jauh pos tersebut pada tahun 2016, diketahui bahwa beban terbesar berasal dari penurunan nilai persediaan yang mencapai Rp 68,4 miliar dan penurunan nilai piutang yang mencapai Rp 38,1 miliar. Pada tahun 2017, nilainya lantas turun masing-masing menjadi nol.

Harga saham IKAI tercatat mulai naik signifikan pada akhir Januari silam, ketika perusahaan telah selesai melakukan penawaran umum terbatas dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dan berhasil menghimpun dana segar senilai Rp 355,6 miliar.

Sebesar 41,95% dari perolehan dana tersebut atau senilai Rp 149,2 miliar akan digunakan perusahaan untuk melakukan diversifikasi portfolio bisnisnya ke sektor properti dengan mengakuisisi 3 perusahaan yaitu PT Realindo Sapta Optima, PT Mahkota Artha Mas, dan PT Mahkota Properti Indo Medan.

Diversifikasi ini diambil menyusul lesunya industri keramik dalam negeri yang dipicu oleh banjirnya produk impor dan lesunya sektor properti yang merupakan konsumen utama dari produk perusahaan.

Atas dasar inilah, perusahaan memilih untuk melakukan diversifikasi ke sektor diluar manufaktur, namun yang masih memiliki keterkaitan dengan lini bisnis utama perusahaan yaitu produksi keramik. Sektor properti pun menjadi pilihan perusahaan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(dru) (dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading