Analisis

BI Makin Sulit Pangkas Suku Bunga Acuan

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
16 February 2018 12:12
BI Makin Sulit Pangkas Suku Bunga Acuan
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan atau BI 7 days reverse repo rate di level 4,25% pada rapat dewan gubernur yang berlangsung selama dua hari (14-15 Februari 2018). Keputusan ini sesuai dengan konsensus pasar yang dikumpulkan oleh CNBC Indonesia.

Secara total sepanjang 2016 dan 2017, bank sentral telah memangkas suku bunga acuan sebesar 150 bps, sekaligus mengadopsi 7-days reverse repo rate sebagai acuan yang baru, menggantikan BI Rate.

Analisis: BI Makin Sulit Pangkas Suku Bunga AcuanFoto: Riset CNBC Indonesia



Ruang Pelonggaran Semakin Tipis

Suku bunga acuan merupakan salah satu instrumen moneter yang paling lazim digunakan untuk menstimulasi perekonomian. Saat ini, perekonomian Indonesia jelas butuh dorongan lebih untuk tumbuh.

Bagaimana tidak, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya naik sebesar 4 bps pada tahun lalu menjadi 5,07%, dari yang sebelumnya 5,03% pada tahun 2016. Padahal, ekonomi global diproyeksikan tumbuh sebesar 3,6% pada tahun 2017, naik 40 bps dari capaian 2016 yang sebesar 3,2%.

Lantas, apa yang menyebabkan Bank Indonesia harus menahan diri dari pelonggaran suku bunga acuan lebih lanjut?

Selisih (spread) antara suku bunga acuan dan inflasi yang sudah semakin tipis menjadi jawabannya. Suku bunga acuan merupakan refleksi dari resiko yang ada di suatu negara, salah satunya inflasi.

Terhitung sejak 2015, inflasi Indonesia berada dalam level yang relatif rendah.  Bank Indonesia lantas merespon hal ini dengan memotong suku bunga acuan secara besar-besaran, dimulai pada tahun 2016.

Selain didorong inflasi yang rendah, langkah bank sentral dalam menurunkan suku bunga juga didorong oleh lembaga pemeringkat yang beramai-ramai menaikkan outlook dan peringkat surat utang Indonesia.

Dengan asumsi suku bunga acuan pada tahun ini tidak berubah sampai dengan akhir tahun dan target inflasi tahun 2018 yang ditetapkan pemerintah sebesar 3,5% tercapai, maka selisih suku bunga acuan dan inflasi akan menjadi 0,75%. Padahal, secara rata-rata dalam rentang 2010-2017, nilainya adalah sebesar 1,15% (115bps).

Dana Asing Berpotensi Keluar

Apa yang terjadi jika BI tetap nekat memotong suku bunga acuan? Dana asing berpotensi keluar dari Indonesia dan rupiah akan semakin tertekan.

Ketika bank sentral memotong suku bunga acuan, industri keuangan akan ikut menurunkan suku bunga yang mereka tawarkan, baik itu bunga simpanan maupun pinjaman. Ketika hal ini terjadi, investor asing akan menganggap bahwa investasi di Indonesia tidak lagi semenarik dulu, mengingat bunganya sudah turun. Terlebih, Amerika Serikat terus mengerek suku bunga acuannya, sementara negara-negara maju lainnya pun juga sudah mulai bersiap-siap menaikkan suku bunga. Akibatnya, aliran dana keluar (capital outflow) sangat mungkin terjadi.

Kemudian, imbal hasil obligasi pemerintah saat ini sudah berada dalam tingkat yang sangat rendah. Akibatnya ketika suku bunga acuan diturunkan, investor asing akan melihat bahwa potensi kenaikan (upside) dari instrumen ini sudah tidak besar, sehingga mereka memilih untuk keluar pasar.

Analisis: BI Makin Sulit Pangkas Suku Bunga AcuanFoto: Riset CNBC Indonesia


Berharap Peringkat Surat Utang Naik Lagi

Satu-satunya peluang bagi BI untuk dapat menurunkan suku bunga acuan namun tetap menjaga dana investor asing di dalam negeri adalah jika peringkat surat utang Indonesia dinaikkan kembali.

Kembali dinaikannya peringkat surat utang khususnya oleh lembaga pemeringkat kenamaan seperti Standard & Poor’s/S&P, Moody’s, dan Fitch Ratings akan menunjukkan bahwa resiko berinvestasi di Indonesia sudah semakin rendah, sehingga bisa menjustify pemotongan suku bunga acuan. Namun, rasanya pemotongan sebesar 25 bps sudah yang terbesar yang bisa dilaksanakan tahun ini.

Sebenarnya, inflasi yang rendah juga bisa menjadi dasar BI bagi untuk memangkas suku acuan. Namun, kecil kemungkinan bahwa pemerintah bisa menekan laju inflasi secara drastis pada tahun ini, apalagi dengan konsumsi rumah tangga yang diharapkan bisa pulih.

TIM RISET CNBC INDONESIA
(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading