Karhutla Bikin Kasus ISPA Naik 61,3%, Anak-anak Paling Rentan
Jakarta, CNBC Indonesia - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kalimantan Selatan mencapai 182.710 kasus pada September 2026, di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah tersebut. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkapkan, kasus ISPA mengalami peningkatan sekitar 61,3% berdasarkan data dinas kesehatan yang dipaparkan.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Khairiyadi, Sp.A, Subsp.Respi.(K), M.Kes mengatakan, peningkatan kasus ISPA terjadi selama periode kemarau dan paparan kabut asap akibat karhutla. Jumlah kasus mencapai puncaknya pada September sebelum menunjukkan penurunan pada Oktober.
"Terdapat 182.710 kasus ISPA. Saya lihat ini tidak bisa diklaim apakah itu pneumonia atau saluran napas atas," ujar Khairiyadi dalam Webinar Media IDAI bertajuk "Dampak Karhutla dan Meningkatnya Pneumonia pada Anak", Selasa (3/11/2026).
Ia mendata, wilayah dengan kasus ISPA terbanyak adalah Kota Banjarmasin, disusul Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. Ketiga daerah tersebut juga termasuk wilayah yang mengalami kebakaran lahan.
Khairiyadi menjelaskan, peningkatan kasus ISPA tidak serta-merta menunjukkan lonjakan pneumonia. Pasalnya, ISPA mencakup berbagai penyakit yang menyerang saluran pernapasan, baik bagian atas maupun bawah.
Ia mengakui data kasus pneumonia secara khusus masih terbatas karena sebagian besar pencatatan penyakit pernapasan masih digabungkan dalam kategori ISPA.
Anak-anak Paling Rentan Terpapar Asap Karhutla
Khairiyadi mengingatkan, anak-anak, terutama yang berusia di bawah lima tahun, merupakan kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan akibat asap karhutla. Hal ini disebabkan saluran pernapasan anak yang masih relatif kecil, frekuensi bernapas lebih tinggi, serta paru-paru dan sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang.
Selain itu, anak dengan penyakit penyerta seperti asma, penyakit jantung, gangguan kekebalan tubuh, maupun masalah gizi memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan kesehatan. Khairiyadi menjelaskan, asap karhutla mengandung berbagai zat berbahaya, termasuk partikel halus PM2,5 dan PM10, karbon monoksida, serta gas hasil pembakaran vegetasi.
Partikel PM2,5 dapat masuk hingga saluran pernapasan bagian bawah dan memicu peradangan. Paparan tersebut juga dapat mengganggu sistem pertahanan saluran pernapasan sehingga tubuh lebih rentan terhadap infeksi.
"Dampaknya tidak hanya berupa ISPA, tetapi juga dapat memperburuk asma dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan lainnya," kata ia.
Berdasarkan pengamatannya di rumah sakit, sejumlah pasien anak yang sebelumnya memiliki asma terkontrol justru mengalami serangan berulang selama musim karhutla. Bahkan, ada pasien yang sebelumnya sudah tidak menggunakan obat pengontrol asma tetapi kembali mengalami serangan hingga dua atau tiga kali selama periode paparan asap.
Khairiyadi sendiri mengaku mengalami tiga kali serangan asma selama musim kemarau pada Mei hingga Oktober 2026, meskipun sebelumnya tidak mengalami kekambuhan selama sekitar tiga tahun.
"Selama musim kemarau ini, musim karhutla yang Mei sampai Oktober ini, karena saya punya asma, saya tiga kali mendapat serangan asma, padahal sudah tiga tahun terakhir saya tidak pernah serangan," ungkapnya.