Atlet HYROX Buka Suara soal Insiden BAB di Beijing, Akui Trauma
Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang atlet HYROX asal Australia, Joanna Wietrzyk, akhirnya buka suara soal insiden BAB saat perlombaan di Beijing, China, pada September 2026 lalu.
Dalam wawancara dengan BBC, atlet berusia 24 tahun tersebut mengaku bahwa ambisinya untuk memenangkan perlombaan telah menutup matanya. Ia menyadari keputusan untuk terus berkompetisi saat itu berisiko bagi peserta lain.
Wietrzyk menyampaikan permintaan maaf dan mengakui bahwa dirinya bertanggung jawab atas keputusan tersebut.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Wietrzyk menjelaskan bahwa dia mengalami infeksi bakteri akibat keracunan makanan. Namun, sebelum perlombaan dimulai, ia merasa sehat dan tidak menyangka akan mengalami gangguan pencernaan secara tiba-tiba.
Di tengah perlombaan, ia mengalami diare hingga kotoran terlihat menempel di bagian tubuhnya. Meski demikian, ia tetap melanjutkan kompetisi hingga garis finis dan berhasil memenangkan perlombaan.
Keputusan tersebut kemudian memicu kontroversi setelah foto dan video kejadian tersebar luas di media sosial. Banyak orang mempertanyakan mengapa penyelenggara membiarkannya terus bertanding, mengingat peserta lain juga menggunakan lintasan dan peralatan olahraga yang sama.
Sempat Ingin Berhenti dari Dunia Olahraga
Wietrzyk mengaku tidak menyangka kejadian tersebut akan menjadi sorotan internasional. Ia bahkan sempat mempertimbangkan untuk meninggalkan olahraga yang selama ini membesarkan namanya dan membuatnya mencatatkan rekor dunia.
Ia juga menyesali unggahan media sosial setelah perlombaan yang memuat kalimat "Go hard or go home" dan "a win is a win". Menurutnya, saat itu ia masih berada dalam kondisi emosional setelah kejadian dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Setelah melakukan refleksi, Wietrzyk akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada sesama peserta, penonton, masyarakat China, serta penyelenggara HYROX. Ia juga memutuskan untuk mengundurkan diri secara retrospektif dari perlombaan tersebut dan menyerahkan gelar kemenangannya.
Di sisi lain, pendiri HYROX, Moritz Fürste, turut menyampaikan permintaan maaf. Ia mengakui bahwa pihak penyelenggara melakukan kesalahan karena tidak segera menghentikan atlet ketika insiden terjadi.
HYROX kemudian memperbarui peraturan kompetisi. Dalam aturan baru tersebut, direktur perlombaan memiliki wewenang untuk menghentikan peserta apabila kondisi seperti muntah, urine, darah, atau kotoran berpotensi menimbulkan risiko kontaminasi maupun membahayakan keselamatan atlet lain.
Bersiap Kembali Bertanding setelah Masa Sulit
Meski mengalami tekanan besar, Wietrzyk kini bertekad kembali berkompetisi. Ia dijadwalkan mengikuti perlombaan HYROX di Hamburg, Jerman, pada Jumat, 30 Oktober 2026.
Ia mengaku merasa gugup menghadapi pertandingan pertamanya setelah insiden di Beijing. Namun, ia berharap kejadian tersebut tidak terus melekat sebagai identitas dirinya.
Selama beberapa waktu, Wietrzyk memilih menjauh dari media sosial dan membatasi interaksi dengan dunia luar untuk memulihkan kondisi mentalnya. Ia juga mengungkapkan bahwa keluarganya sempat menerima ancaman akibat kontroversi tersebut.
Menurutnya, pengalaman itu menjadi pelajaran penting mengenai tekanan media sosial dan tanggung jawab seorang atlet.
Wietrzyk menyadari bahwa kemenangan bukanlah satu-satunya hal yang penting dalam kehidupan seorang atlet. Ia berharap dapat kembali berprestasi sekaligus menginspirasi orang lain melalui pengalaman yang telah dilaluinya.
(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]