9 Photos
Kekeringan Parah, Kampung yang Tenggelam Kini Muncul Lagi
Kekeringan akibat El Niño membuat air Bendungan Karian surut dan menyingkap reruntuhan permukiman lama, termasuk Masjid Al Mujahidin di Kampung Somang, Lebak.
Dampak kekeringan panjang akibat fenomena El Niño membuat elevasi air di Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, menyusut drastis. Kondisi tersebut menyingkap kembali sisa-sisa permukiman warga yang sebelumnya ditenggelamkan untuk pembangunan waduk. Deretan bangunan tanpa atap hingga dinding rumah yang tersisa kini terlihat di kawasan yang dulunya dihuni masyarakat. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Salah satu kawasan yang kembali terlihat adalah Kampung Somang, yang sebelumnya merupakan permukiman padat penduduk. Warga mulai meninggalkan kampung tersebut pada 2023 untuk proses penggenangan waduk. Meski sebagian bangunan tidak dihancurkan sepenuhnya, kawasan itu akhirnya terendam ketika air bendungan mulai menggenangi wilayah tersebut. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Selain Kampung Somang, penyusutan air juga menyingkap sisa-sisa permukiman di sejumlah kawasan lain, seperti Kampung Karian, Kampung Susukan, dan Kampung Cibolang. Pada Juli 2026, deretan rumah yang sebagian besar hanya menyisakan dinding kembali terlihat seiring surutnya air bendungan akibat kekeringan berkepanjangan. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Khusus di Kampung Karian, warga telah mengosongkan kawasan tersebut sejak 2021. Sebelum permukiman ditenggelamkan, sebagian warga membongkar material bangunan, mulai dari genteng, kaca, hingga kayu fondasi, untuk dimanfaatkan kembali. Kini, sisa-sisa bangunan yang tidak dibongkar sepenuhnya kembali terlihat setelah permukaan air bendungan turun. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Di antara reruntuhan rumah di Kampung Somang, terdapat satu bangunan yang masih berdiri utuh, yakni Masjid Al Mujahidin. Masjid tersebut memiliki kubah berwarna biru dan menara yang masih lengkap. Keberadaan bangunan itu menjadi pemandangan mencolok di tengah hamparan dinding rumah tanpa atap yang muncul akibat penyusutan air waduk. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Masjid Al Mujahidin disebut memiliki nilai sejarah panjang karena konon telah berdiri sejak era kolonial Belanda. Maman, warga yang dahulu tinggal di samping masjid tersebut, mengatakan bangunan itu didirikan oleh Abuya dan baru direnovasi sekitar 15 tahun lalu. "Yang mendirikan Abuya, katanya dibangun sejak zaman Belanda. Tapi baru direnovasi sekitar 15 tahun lalu," kata Maman, dikutip dari CNN Indonesia. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Sebelum kembali menjadi perhatian akibat surutnya air, Kampung Somang sempat menjadi lokasi pengambilan gambar film horor Jembatan Shiratal Mustaqim pada akhir 2024 hingga awal 2025. Saat produksi berlangsung, sebagian rumah warga sebenarnya sudah mulai terendam air bendungan. Menurut Maman, ketinggian air waduk sempat diturunkan sedikit untuk mendukung proses pengambilan gambar film tersebut. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Produksi film itu juga melibatkan masyarakat di sekitar danau, tepatnya di Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak. Warga setempat diberdayakan untuk mengisi berbagai posisi selama proses pembuatan film, mulai dari pemeran figuran hingga anggota tim teknis di lapangan. Keterlibatan tersebut membuat kawasan permukiman yang telah ditinggalkan itu sempat kembali menjadi lokasi aktivitas produksi. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Bendungan Karian diresmikan oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada Januari 2024 setelah pembangunannya dimulai pada 2015. Proyek yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut menelan anggaran sekitar Rp2,2 triliun. Bendungan ini memiliki kapasitas tampung hingga 315 juta meter kubik dengan luas genangan mencapai 1.773 hektare. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Bendungan Karian dibangun untuk menopang kebutuhan air masyarakat di Banten, DKI Jakarta, dan sebagian wilayah Jawa Barat. Dalam proses pembangunannya, pembebasan lahan dilakukan seluas 2.266,44 hektare. Proyek tersebut juga memerlukan relokasi berbagai fasilitas umum, 13.017 makam dari 54 lokasi pemakaman umum dan makam keramat, 29 tapak menara PLN, serta lahan milik pemerintah. Sebanyak 37 bangunan fasilitas umum turut dipindahkan, meliputi sekolah, masjid, madrasah, majelis, musala, kantor desa, polindes, dan posyandu. (REUTERS/Willy Kurniawan)