Awas Liver Jebol! Kenali Ciri Penyakit Hati & Bahaya Konsumsi Gula
Jakarta, CNBC Indonesia - Hati atau liver merupakan salah satu organ paling vital yang terus bekerja tanpa henti menjaga keseimbangan sistem tubuh manusia. Namun, bahaya kerusakan hati atau liver disease kini semakin mengintai masyarakat akibat berbagai kebiasaan dan faktor risiko yang kerap disepelekan.
Mengutip artikel The Cleveland Clinic, Kamis (23/10/2026), penyakit hati merupakan istilah luas yang mencakup seluruh kondisi kerusakan yang memengaruhi fungsi optimal organ tersebut.
Hati memainkan peranan krusial untuk membantu membersihkan darah dari racun, memproses nutrisi, hingga melawan infeksi mematikan. Sejalan dengan hal itu, artikel terbitan Beautynesia pada Kamis (22/10/2026) turut menegaskan bahwa organ vital ini mengatur penyimpanan energi dan memproduksi empedu untuk mencerna asupan lemak harian.
"Seiring berjalannya waktu, penyakit hati dapat menyebabkan jaringan parut yang parah, kanker hati, gagal hati, hingga harus diganti hati yang baru," tulis The Cleveland Clinic.
Tanpa kita sadari, penyakit hati ini secara perlahan merusak organ melalui empat tahapan utama:
-
Hepatitis: Tahapan ini berupa pembengkakan dan iritasi (peradangan) di jaringan hati sebagai respons alami tubuh saat mengalami cedera atau infeksi virus.
-
Fibrosis: Tahapan ini ditandai dengan jaringan parut yang mulai terbentuk akibat peradangan kronis yang berkelanjutan.
-
Sirosis: Sirosis adalah jaringan parut permanen yang parah dan secara langsung memengaruhi penurunan fungsi hati.
-
Penyakit hati stadium akhir: Tahap ini juga dikenal luas dengan istilah gagal hati, di mana organ sudah tidak lagi mampu berfungsi secara memadai untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
Dalam mendiagnosis tingkat keparahannya, penyedia layanan kesehatan akan menggunakan sejumlah tes spesifik.
"Mereka akan menggunakan tes laboratorium dan citraan scan juga," papar The Cleveland Clinic.
Pemeriksaan ini mencakup tes darah untuk menilai fungsi hati, tes pencitraan medis canggih seperti CT scan, elastografi, MRI, dan ultrasonografi, serta prosedur biopsi atau pengambilan sampel kecil jaringan hati.
Mirisnya, gejala kerusakan hati ini acap kali tidak disadari pada tahap awal stadium. Namun, tanda-tanda pada stadium lanjut mulai bermunculan dan harus diwaspadai, meliputi kulit dan mata yang menguning (penyakit kuning), perubahan urine menjadi berwarna gelap, feses berwarna terang, bau napas apek, gatal pada kulit tanpa ruam (pruritus), hingga kerusakan fungsi otak ringan (ensefalopati hepatik).
Lantas, kapan penderita harus segera dilarikan ke rumah sakit?
The Cleveland Clinic mengingatkan bahwa penanganan sejak dini sangatlah menentukan, khususnya jika penderita mulai mengalami penumpukan cairan di perut (asites), sindrom hepatorenal, hingga ditemukannya tumor mematikan pada hati.
Dalam pengobatan pada tahap awal, perbaikan dapat diupayakan melalui perubahan gaya hidup ekstrem, seperti menerapkan pola makan bernutrisi tinggi, rutin berolahraga, hingga berhenti total mengonsumsi alkohol. Namun, pada tahap stadium yang lebih parah, prosedur cuci darah hingga operasi transplantasi hati menjadi satu-satunya jalur medis yang tersisa.
Lalu, apa pemicu utamanya?
Terkait dengan faktor pemicu kerusakan hati, masyarakat harus ekstra waspada terhadap bahaya konsumsi gula berlebih yang acap kali dianggap sepele dan aman. Hal mengejutkan lain yang turut memicu bahaya adalah konsumsi produk herbal seperti Kava, sebuah tanaman Piper methysticum yang diklaim ampuh mengurangi kecemasan.
"Meski berasal dari tanaman, kava tidak otomatis aman bagi tubuh. Penggunaannya telah dikaitkan dengan kasus cedera hati yang jarang terjadi, tetapi dapat berakibat serius," tegas redaksi Beautynesia.
Di Indonesia sendiri, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara resmi telah melarang keras produksi dan peredaran luas obat tradisional serta suplemen yang mengandung zat kava tersebut.
(tps/tps)