Jerman Bidik Banyak Mahasiswa Asal Indonesia, Ini Alasannya
Jakarta, CNBC Indonesia - Jerman merupakan salah satu negara yang menjadi tujuan masyarakat Indonesia untuk meneruskan pendidikan tinggi. Setidaknya lebih dari 5.000 mahasiswa asal tanah air yang menuntut ilmu di negara tersebut.
"Dan tentu saja, kami sangat tertarik untuk meningkatkan jumlah tersebut dalam arti menarik talenta-talenta terbaik juga dari Indonesia," kata Presiden DAAD, Prof. Dr. Joybrato Mukherjee dalam konferensi pers, Jumat (23/10/2026).
DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst atau Dinas Pertukaran Akademis Jerman) adalah organisasi pendanaan terbesar di dunia yang bergerak di bidang pertukaran pelajar, mahasiswa, dan peneliti internasional. Didirikan pada tahun 1925 di Jerman, DAAD beranggotakan berbagai institusi pendidikan tinggi dan badan mahasiswa Jerman.
Joybrato mengatakan, DAAD mendukung lebih dari 600 mahasiswa untuk kandidat doktor, peneliti dan peserta lainnya. Sebanyak 250 orang juga menerima beasiswa di Jerman. Ke depannya tidak ada target untuk jumlah mahasiswa internasional bisa bersekolah di Jerman.
"Jadi, fokusnya bukan sekadar meningkatkan jumlah mahasiswa dari seluruh penjuru dunia, melainkan lebih kepada menjaring talenta-talenta unggul, mahasiswa terbaik, mereka yang memiliki minat paling besar, serta mereka yang paling kompeten," kata dia.
DAAD, lanjut dia, hanya menawarkan berbagai pilihan program. Namun keputusan tetap berada di tangan mahasiswa.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Wakil Duta Besar Jerman untuk Indonesia Oliver Sperling. Dia mengatakan, sulit menentukan angka pasti karena luasnya wilayah Indonesia.
"Pertama, mengenai jumlah pelajar, perlu dipahami bahwa Indonesia adalah negara yang sangat luas dengan populasi yang sangat muda, sehingga sulit untuk menentukan angka pastinya. Menurut saya, yang jauh lebih penting adalah berupaya memperluas kerja sama itu sendiri," kata Sperling.
Sperling juga menjelaskan kompetensi yang dibutuhkan di Indonesia sama seperti yang Jerman butuhkan. Ini termasuk menghadapi tantangan yang sangat besar dan mencermati persoalannya bersama-sama.
"Ini adalah hal yang perlu kita upayakan bersama agar kita bisa menjadi lebih baik dan mengatasi berbagai tantangan yang kita hadapi saat ini baik di bidang teknis, sosial, maupun medis," kata Sperling.