Kementerian Kebudayaan Ungkap Nasib Masyarakat Adat Terdampak Karhutla

M Fakhri, CNBC Indonesia
Jumat, 23/10/2026 12:35 WIB
Foto: REUTERS/Arief Rahman Septian Prathama

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kebudayaan mengungkap kondisi masyarakat adat yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di tengah kebakaran dan paparan asap, masyarakat adat ternyata bergotong royong bersama relawan untuk memadamkan api hingga memanfaatkan tanaman obat tradisional untuk mengantisipasi gangguan kesehatan.

Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Kebudayaan, Sjamsul Hadi, mengatakan masyarakat adat di kawasan terdampak turut berupaya menangani kebakaran secara bersama-sama.

"Dalam hal ini masyarakat adat saat ini bergotong royong bersama-sama memadamkan dengan para relawan untuk memadamkan," ungkap Sjamsul dalam taklimat media di Jakarta, Kamis (22/10/2026).


Selain membantu pemadaman, masyarakat adat juga memanfaatkan pengetahuan tradisional untuk menghadapi dampak asap kebakaran. Salah satunya melalui pemanfaatan tanaman obat yang tersedia di lingkungan mereka.

"Namun dampak dari asap ini pun, masyarakat adat ini memiliki cara supaya tidak terjadi ISPA, penyakit ISPA. Nah, mereka memanfaatkan kekayaan tanaman obat mereka. Nah, dari situlah masyarakat adat dapat bertahan," jelasnya.

Sementara itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyoroti kebakaran hutan kali ini disebabkan oleh faktor manusia dan alam.

Ia mengatakan, kebakaran yang dipicu aktivitas manusia dapat melibatkan korporasi maupun perorangan, dan penindakan terhadap pihak-pihak tersebut telah dilakukan.

"Ini kan disebabkan oleh dua, yaitu oleh manusianya, karena ada pelaku-pelaku yang dengan sengaja melakukan pembakaran baik oleh korporasi maupun oleh perorangan sehingga sudah ada penindakan-penindakan juga terhadap korporasi dan perorangan itu. Dan ada juga yang memang alami. Ya, alami ini juga ada juga," kata Fadli.

Lebih lanjut, Fadli juga meminta agar persoalan karhutla tidak berkembang menjadi perselisihan antarnegara. Menurutnya, negara-negara tetangga perlu menyadari kemungkinan adanya keterlibatan investor dari negara mereka dalam perusahaan yang terkait dengan kebakaran hutan di Indonesia.

"Tapi negara-negara tetangga kita ini juga harus sadar bahwa perusahaan-perusahaan yang mungkin ada yang terlibat di dalam kebakaran hutan itu juga sebenarnya ya investornya dari mereka juga. Jadi punya peran di situ," ujarnya.

Atas dasar inilah, Ia menegaskan bahwa penanganan karhutla seharusnya tidak diwarnai aksi saling menyalahkan. Menurut Fadli, pihak yang terbukti bersalah harus diproses sesuai hukum yang berlaku.

"Dan saya kira ini bukan waktunya untuk saling menyalahkan. Karena pada prinsipnya siapa yang salah ya harus dihukum. Hukum memang harus ditegakkan," katanya.


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Timnas Indonesia Rebut 8 Emas di Asian Para Games 2026