Studi Ungkap Kasus Bunuh Diri Naik Saat Pasar Saham Anjlok
Jakarta, CNBC Indonesia - Kejatuhan pasar saham ternyata tidak hanya berdampak pada kerugian finansial, tetapi juga berkaitan dengan meningkatnya angka bunuh diri. Sebuah penelitian internasional menemukan kasus bunuh diri cenderung meningkat ketika indeks saham mengalami penurunan tajam.
Melansir The Conversation, penelitian yang mencakup 36 negara selama beberapa dekade menunjukkan angka bunuh diri meningkat pada tahun ketika pasar saham mengalami penurunan signifikan dan berlanjut hingga tahun berikutnya. Temuan tersebut menunjukkan dampak kejatuhan pasar saham terhadap kesehatan mental masyarakat dapat berlangsung cukup lama, bahkan setelah periode penurunan pasar berlalu.
Penelitian ini dilakukan oleh Brendan John Lambe, Associate Professor bidang Keuangan di De Montfort University, dan Tomasz Piotr Wisniewski, Profesor Keuangan di The Open University. Keduanya menjelaskan bahwa kondisi keuangan masyarakat memiliki keterkaitan dengan pasar saham, baik secara langsung melalui investasi maupun tidak langsung melalui dana pensiun.
Oleh karena itu, ketika pasar saham mengalami kejatuhan, dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat luas, bukan hanya para investor. Dalam penelitian tersebut, para peneliti juga melakukan simulasi untuk memperkirakan jumlah kasus bunuh diri yang berkaitan dengan krisis keuangan global pada 2008.
Hasilnya, diperkirakan terdapat tambahan 6.566 kasus bunuh diri di negara-negara yang diteliti selama periode 2008-2009 akibat penurunan tajam nilai saham. Angka tersebut merupakan hasil estimasi berdasarkan model penelitian, bukan jumlah kasus yang penyebabnya telah dipastikan secara individual. Peneliti juga menemukan hubungan antara kerugian pasar saham dan peningkatan angka bunuh diri terjadi pada laki-laki maupun perempuan.
Untuk memastikan hasil penelitian tidak semata-mata dipengaruhi faktor lain, para peneliti turut memperhitungkan berbagai kondisi sosial dan ekonomi yang berkaitan dengan risiko bunuh diri. Faktor-faktor tersebut mencakup pengangguran, penurunan produk domestik bruto (PDB), inflasi tinggi, ketidakstabilan keluarga, konsumsi alkohol, kepadatan penduduk, serta tingkat partisipasi perempuan dalam angkatan kerja.
Meski faktor-faktor tersebut telah diperhitungkan, penelitian menemukan penurunan pasar saham tetap memiliki hubungan tersendiri dengan peningkatan angka bunuh diri.
Hubungan Kondisi Keuangan dan Kesehatan Mental
Para peneliti juga menyoroti hubungan antara uang, kebahagiaan, dan kesehatan mental. Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan, masyarakat di negara dengan tingkat kemakmuran lebih tinggi cenderung memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih baik.
Namun, peningkatan pendapatan nasional dari waktu ke waktu tidak selalu diikuti dengan peningkatan kebahagiaan masyarakat. Fenomena ini dikenal sebagai Easterlin paradox atau paradoks Easterlin.
Penelitian terhadap pemenang lotre di Inggris, misalnya, menunjukkan mereka cenderung melaporkan peningkatan kesejahteraan mental setelah memperoleh uang dalam jumlah besar. Meski demikian, tambahan kekayaan tersebut juga dapat diikuti peningkatan konsumsi alkohol dan perilaku berisiko lainnya, yang berpotensi mengurangi manfaatnya bagi kesehatan.
Sementara itu, penelitian lain mengenai krisis keuangan global 2008 menemukan, penurunan harga rumah hingga berada di bawah nilai pinjaman yang belum dilunasi dapat meningkatkan tekanan psikologis pemilik rumah. Kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya kasus depresi serta penggunaan obat-obatan untuk mengatasinya. Para peneliti mengatakan, berbagai temuan tersebut memperlihatkan perubahan kondisi finansial dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang.
(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]