Babak Belur! Butuh Berapa Lama IHSG Bisa Bangkit dari Teror MSCI?
Jakarta, CNBC Indonesia - Drama Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih menghantui pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terpuruk pada perdagangan Senin (19/10/2026) hingga ditutup di level 4.996,61, terendah sejak pandemi Covid-19 pada 2020.
IHSG hari ini melemah 3,64% setelah sempat turun hingga 5,36% dan menyentuh level 4.907,37 pada perdagangan intraday. Meski berhasil memangkas sebagian besar koreksinya menjelang penutupan, indeks tetap gagal bertahan di atas level psikologis 5.000.
Tekanan ini muncul setelah MSCI membuka konsultasi mengenai potensi penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market pada 15 Oktober 2026.
Kejatuhan IHSG kali ini bahkan menjadi salah satu yang paling ekstrem dalam sejarah pasar modal Indonesia, melampaui penurunan harian terdalam saat krisis keuangan global 2008.
IHSG Terpuruk, Lebih Parah dari Krisis 2008
Kejatuhan IHSG kali ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Hanya dalam dua hari bursa setelah pengumuman MSCI, indeks sudah turun dari kisaran 5.800 hingga menembus level 5.000.
Pada perdagangan Senin (19/10/2026), IHSG bahkan sempat menyentuh 4.907,37 sebelum memangkas koreksi dan ditutup melemah 3,64% ke level 4.996,61.
Tekanan paling tajam terjadi pada Jumat (16/10/2026), ketika IHSG ambruk lebih dari 11% dalam sehari. Penurunan ini menjadi yang terdalam dalam 28 tahun terakhir atau sejak krisis moneter 1998.
Berdasarkan data Refinitiv, kejatuhan tersebut bahkan lebih parah dibandingkan saat krisis keuangan global 2008, ketika IHSG pernah turun 10,38% dalam sehari. Penurunan yang lebih dalam terakhir kali terjadi pada 8 Januari 1998, yakni sebesar 11,95%.
Besarnya tekanan jual bahkan sempat membuat perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dihentikan sementara (trading halt) pada Jumat pagi, setelah IHSG merosot hingga 8%.
Di tengah kondisi tersebut, BEI juga memangkas batas auto rejection bawah (ARB) dari 15% menjadi 7%, efektif mulai Senin (19/10/2026). Artinya, batas maksimal penurunan harga saham dalam sehari menjadi lebih ketat untuk meredam volatilitas.
Dengan pelemahan yang berlanjut hingga awal pekan, IHSG kini kembali berada di level yang terakhir terlihat pada 2020, saat pandemi Covid-19 mengguncang pasar saham Indonesia.
Berkaca dari MSCI Sebelumnya, Berapa Lama IHSG Bangkit?
Tekanan akibat sentimen MSCI bukan pertama kalinya terjadi sepanjang 2026. Sejak Januari, IHSG telah beberapa kali bergejolak setelah pengumuman MSCI terkait free float, transparansi kepemilikan saham, hingga klasifikasi pasar Indonesia.
Reaksi pasar pun beragam. Sejumlah pengumuman diikuti penurunan tajam, sementara beberapa lainnya justru disambut penguatan IHSG.
Pada 27 Januari, MSCI mengumumkan pembekuan sementara sejumlah penyesuaian indeks saham Indonesia.
IHSG kemudian anjlok 7,35% sehari setelahnya dan kembali melemah pada 29 Januari, sebelum rebound 1,18% pada 30 Januari. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan dan indeks kembali turun ke level 7.922,73 pada 2 Februari.
Tekanan lebih panjang terjadi setelah pengumuman MSCI pada 20 April dan 12 Mei. IHSG masing-masing melemah selama enam dan lima hari bursa berturut-turut sebelum kembali menguat pada 29 April dan 22 Mei.
Sementara itu, setelah MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market pada Juni, IHSG turun 3,56% pada 24 Juni sebelum rebound 1,96% sehari kemudian.
Tidak semua pengumuman MSCI berujung pelemahan. IHSG justru langsung menguat setelah pengumuman MSCI pada Februari, Juni, dan Juli.
Dari delapan pengumuman sebelum Oktober, IHSG langsung menguat pada tiga kesempatan. Pada lima kesempatan lainnya, indeks membutuhkan satu hingga enam hari bursa untuk kembali mencatatkan kenaikan.
Meski demikian, rebound tidak selalu berarti IHSG telah pulih sepenuhnya. Kondisi Oktober juga berbeda karena MSCI kini membuka konsultasi mengenai potensi penurunan status Indonesia menjadi Standalone Market.
Net Sell Masih Berlanjut, Bahkan Saat IHSG Mulai Rebound
Tekanan terhadap IHSG setelah pengumuman MSCI juga diikuti aksi jual investor asing. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing beberapa kali masih mencatatkan net sell meskipun IHSG sudah mulai menguat.
Salah satu tekanan jual terbesar terjadi setelah pengumuman MSCI pada 27 Januari 2026. Pada perdagangan 28 Januari, investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp6,17 triliun. Aksi jual berlanjut selama tiga hari bursa berturut-turut dengan akumulasi mencapai Rp12,34 triliun.
Menariknya, ketika IHSG mulai rebound pada 30 Januari, investor asing masih membukukan net sell sebesar Rp1,53 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan indeks belum tentu diikuti kembalinya aliran dana asing.
Pola serupa terlihat pada April. Meski investor asing masih mencatatkan net buy pada 21 April, flow kemudian berbalik menjadi net sell selama tujuh hari bursa berturut-turut. Secara kumulatif, dana asing yang keluar mencapai sekitar Rp10,40 triliun setelah memperhitungkan pembelian bersih pada hari pertama.
Sementara itu, tekanan jual paling panjang terjadi setelah pengumuman MSCI pada 18 Juni. Investor asing mencatatkan net sell selama 10 hari bursa berturut-turut, dengan akumulasi sekitar Rp9,37 triliun.
Pada Oktober, aksi jual asing kembali terlihat. Sehari setelah MSCI membuka konsultasi mengenai potensi penurunan status Indonesia menjadi Standalone Market, investor asing mencatatkan net sell Rp3,34 triliun pada 16 Oktober, bersamaan dengan kejatuhan IHSG lebih dari 11%. Aksi jual tersebut masih berlanjut pada perdagangan Senin (19/10/2026).
Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa tekanan jual investor asing tidak selalu mereda ketika IHSG mulai rebound. Dalam beberapa periode, indeks sudah kembali menguat, tetapi dana asing masih terus keluar dari pasar saham domestik.
(mae/mae)