Gara-Gara Kabut Asap RI, Malaysia Derita Kerugian Rp6 Triliun
Jakarta, CNBC Indonesia - Kabut asap yang melanda Malaysia bukan hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi hingga puluhan juta ringgit setiap hari. Dampaknya merembet ke berbagai sektor, mulai dari pariwisata, penerbangan, pertanian, hingga aktivitas bisnis.
Melansir Straits Times, profesor ekonomi Sunway University, Yeah Kim Leng, memperkirakan kerugian akibat kabut asap berkepanjangan mencapai 20 juta ringgit Malaysia (Rp 88 miliar) hingga 50 juta ringgit Malaysia (Rp 219 miliar) per hari.
Yeah memperingatkan, total kerugian ekonomi dapat membengkak menjadi 600 juta (Rp 2,6 triliun) hingga 1,5 miliar ringgit (Rp 6,5 triliun) per bulan apabila dampak yang lebih luas ikut diperhitungkan.
Pariwisata hingga Pertanian Terpukul
Sektor pariwisata dan penerbangan menjadi dua bidang yang paling terdampak. Polusi udara dapat menekan jumlah kedatangan wisatawan hingga 8 persen, dengan potensi kerugian produk domestik bruto (PDB) mencapai 1,5 miliar ringgit.
Dampaknya juga dirasakan sektor pertanian dan perkebunan. Petani sayuran di Johor dilaporkan mengalami penurunan produksi, sementara hasil panen buah-buahan menyusut hingga setengahnya. Perkebunan kelapa sawit pun berpotensi mengalami dampak tertunda selama enam hingga 12 bulan.
Kabut asap yang mengurangi jarak pandang turut menghambat transportasi dan distribusi barang. Pengiriman menjadi terlambat, sedangkan sejumlah proyek konstruksi berjalan lebih lambat, bahkan terpaksa dihentikan sementara.
Produktivitas pekerja juga menurun akibat meningkatnya cuti sakit. Penutupan sekolah dan melemahnya aktivitas perdagangan usaha kecil dan menengah (UKM) semakin memperbesar beban ekonomi.
Biaya Kesehatan Ikut Membengkak
Selain mengganggu kegiatan ekonomi, kabut asap meningkatkan pengeluaran untuk layanan kesehatan.
Associate Professor Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Dr Mohd Hafiz bin Jaafar, mengatakan penelitiannya di Selangor menemukan bahwa tambahan kunjungan ke rumah sakit dan klinik selama periode kabut asap pada 2012-2015 menelan biaya sekitar 14,6 juta ringgit.
Secara nasional, biaya pengobatan penyakit terkait kabut asap meningkat dari sekitar 21 juta ringgit pada 1997 menjadi 410 juta ringgit pada 2013.
Angka tersebut baru mencakup biaya medis untuk penyakit pernapasan. Dampak terhadap jantung dan pembuluh darah, kehilangan pendapatan akibat cuti sakit, serta penurunan produktivitas belum sepenuhnya diperhitungkan.
Hafiz menegaskan, kabut asap tidak bisa dipandang semata-mata sebagai persoalan kesehatan. Krisis ini juga menimbulkan konsekuensi ekonomi yang besar, baik melalui biaya pengobatan maupun hilangnya waktu kerja dan terganggunya kegiatan usaha.
Malaysia Dorong Pencegahan Bersama Indonesia
Untuk mengurangi dampak kabut asap yang berulang, para ahli mendesak pemerintah Malaysia memperkuat langkah antisipasi sebelum musim kabut asap tiba.
Upaya tersebut mencakup sistem peringatan dini, penyampaian informasi kesehatan yang jelas, serta perlindungan bagi anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan penyakit asma atau gangguan jantung.
Hafiz juga mendorong kerja sama regional dengan Indonesia untuk mencegah kebakaran sebagai sumber kabut asap. Menurutnya, Malaysia dapat berkontribusi melalui dukungan pendanaan, bantuan teknis, dan pemantauan, tetapi keberhasilan upaya tersebut tetap membutuhkan kerja sama pemerintah Indonesia.
Ia menilai pertemuan tingkat tinggi diperlukan untuk memastikan komitmen nyata dari negara-negara di kawasan.
Pengalaman dari krisis kabut asap pada 1997, 2006, 2013, 2015, 2019, hingga 2026 menunjukkan bahwa persoalan ini terus berulang dengan konsekuensi kesehatan dan ekonomi yang besar.
Karena itu, pencegahan dinilai jauh lebih murah dibandingkan harus menanggung kerugian yang sama setiap beberapa tahun. Tanpa langkah bersama yang konsisten, kabut asap berpotensi terus menjadi beban bagi kesehatan masyarakat sekaligus menghambat pertumbuhan ekonomi kawasan.
(hsy/hsy)