Wamenkes Dante Bicara Urgensi Investasi Kesehatan & Kualitas Hidup

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Kamis, 08/10/2026 16:15 WIB
Foto: Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyampaikan pemaparannya dalam acara Health Summit 2026 di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Investasi dan kemajuan di sektor kesehatan hanya akan bermakna apabila kualitas hidup masyarakat juga mengalami peningkatan. Hal itu disampaikan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dalam acara Health Summit 2026 di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Kamis (8/10/2026).



Mengawali paparannya, Dante mengutip peribahasa klasik "Health is nothing but without health, everything is nothing". Peribahasa klasik itu, menurut dia, seringkali didengar sebagai pengingat sederhana.

"Namun hari ini makna dari peribahasa tersebut menjulang menjadi kenyataan yang paling major. Kenapa saya bisa bilang ini dulu? Karena kita bisa bicara tentang kesehatan makro, produksi pasar, angka investasi yang masuk," kata Dante.

"Namun di ujung dari semua ucapan yang kita lakukan tersebut, kesehatan dan kualitas hidup manusia menjadi fokus yang paling Utama. Investasi menjadi tidak ada artinya, pasar menjadi tidak ada artinya, proyeksi tidak ada artinya, tapi ujung-ujungnya adalah kesehatan masyarakat itu sendiri," lanjutnya.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu lantas menjelaskan, Kementerian Kesehatan sedang melakukan transformasi kesehatan untuk meningkatkan kinerja kesehatan masyarakat di Indonesia. Transformasi kesehatan itu tidak boleh berhenti dan harus dinilai keberhasilannya bukan sekedar penambahan fasilitas kesehatan semata, tetapi yang terukur adalah kepastian mutlak.

"Apa itu? Kepastian mutlaknya adalah kesembuhan, keselamatan, dan kualitas hidup manusia, bukan investasi. Kepastian mutlaknya adalah itu. Melalui penguatan sistem itu, setiap ikhtiar dan upaya yang kita lakukan diarahkan pada percepatan layanan yang lebih optimal di masa yang akan datang," ujar Dante.

Untuk mewujudkan lompatan besar tersebut, menurut dia, Kemenkes tidak bisa berjalan sendiri. Kemenkes memandang sektor swasta, bukan sekedar investor, melainkan mitra strategis dan katalisator utama.

"Sekali lagi mitra strategis dan katalisator utama. Kami percaya bahwa kontribusi inovasi dunia usaha tidak memperkuat inovasi kesehatan kita saja, tetapi juga menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional secara cepat," kata Dante.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan, investasi kesehatan terus menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa. Pertumbuhan langsung signifikan pada farmasi, alat kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia.

"Namun pergerakan modal ini sudah jelas, investasi swasta didorong oleh langkah yang lebih jauh bukan sekedar menambah fasilitas fisik saja, kapasitas fisik saja, kita ingin setiap rupiah investasi membuat gelombang yang lebih lagi, teknologi yang lebih nyata untuk melakukan pelayanan promotiv preventif yang lebih baik di masa yang akan datang," ujar Dante.

Sekaligus, menurut dia, menciptakan ekosistem kesehatan yang lebih mandiri, lebih tangguh, inovatif dan punya daya saling global yang tinggi. Ini yang paling penting.

"Bahwa pasar utama kita bukan pasar di dalam negeri saja tapi pasar utama kita adalah juga pasar global. Jadi investasi yang tadi sudah disampaikan oleh bapak-bapak investor sekalian itu harus dijangkau pasar global yang lebih strategis, walaupun tempat yang di Indonesia dan kapasitas pasar kita juga sudah lebih baik," kata Dante.

Pelajaran pandemi Covid-19
Pelopor ahli diabetes molekuler itu lantas menceritakan hikmah dari pandemi Covid-19. Ketika itu, Indonesia mengalami berbagai macam defisit kapasitas dan kemampuan untuk memproduksi bahan-bahan yang dipakai dalam pelayanan kesehatan.

Pandemi, menurut Dante, mengajarkan ketahanan bangsa tergantung pada kekuatan investasi saat rantai pasok tertekan. Berangkat dari pelajaran tersebut, Kemenkes berusaha untuk merajut kepastian rantai pasok industri dari hulu hingga hilir sehingga investasi secara keseluruhan bisa menjangkau ke pelayanan yang lebih mandiri.

"Peluang besar ada di depan mata kita. Membangun kapabilitas riset klinis, dan manufaktur yang mandiri, bukan hanya sekedar mengamankan kebutuhan nasional, tetapi juga membawa produk Indonesia ke persaingan secara global," ujar Dante.

"Ini yang akan saya highlight pada hari ini bahwa pasar kita adalah pasar global. Mungkin pasar nasional juga penting, tetapi pasar global adalah investasi yang harus dikejar kalau kita ingin mempunyai mimpi yang tinggi untuk Indonesia di masa depan," lanjutnya.

Pria kelahiran Temanggung itu melanjutkan, di tengah lajunya inovasi yang bergerak tanpa henti mulai dari artificial intelligence hingga kedokteran presisi, inovasi harus menempatkan manusia sebagai poros utama atau people center.

"Ingat, manusia sebagai poros utama atau people center," kata Dante.

Setiap teknologi yang canggih, lanjut dia, harus mendapatkan karakteristik genetik populasi bagi seluruh lapisan masyarakat dan tetap terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. Menurut Dante, teknologi hanyalah instrumen, tetapi keselamatan dan kesehatan masyarakat adalah tujuan akhir.

"Jadi seluruh ekosistem yang kita rajut mulai dari kualitas pelayanan, kekuatan investasi, kemandirian industri hingga teknologi yang terukur, benang merahnya bermuara pada satu kunci: Kolaborasi," ujar Dante.

Pemerintah, menurut dia, hadir sebagai orkestrator, yang menetapkan arah dan bentuk regulasi. Sementara dunia usaha harus menjalankan beriringan dalam satu irama yang utuh.

"Kalau orkestrasi ini berjalan dengan baik maka saya merasa sangat yakin bahwa iklim usaha dan investasi di Indonesia akan menjadi poros utama untuk kesehatan masyarakat sebagai people center yang utama. Dan juga mendorong persaingan berubah yang lebih baik untuk sistem investasi di bidang kesehatan Indonesia yang lebih maju di masa yang datang," kata Dante.



(miq/miq)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Cara BPOM Dorong Inovasi - Jaga Mutu Obat dan Produk Kesehatan