Menkes Budi Kumpulkan Donor, Ungkap Kebutuhan Investasi Kesehatan RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumpulkan sejumlah mitra pembangunan hingga donor untuk mendukung transformasi kesehatan Indonesia dalam lima tahun mendatang. Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam Indonesia Health Partners Meeting (IHPM) ke-4 yang digelar Kementerian Kesehatan di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Pertemuan ini mempertemukan pemerintah dengan mitra pembangunan, donor, lembaga filantropi, lembaga pembangunan dan keuangan hingga sektor swasta. Budi bilang, Indonesia telah menyusun rencana strategis kesehatan untuk lima tahun ke depan sekaligus menghitung kebutuhan pembiayaan untuk menjalankannya.
Pendanaan tersebut tidak hanya mengandalkan anggaran Kementerian Kesehatan. Budi megungkap, sumber pembiayaan juga berasal dari pemerintah, BPJS Kesehatan hingga sektor swasta.
"Indonesia telah mempersiapkan rencana strategis selama lima tahun dengan pemerintah. Dan kita menentukan jumlah uang yang kita butuhkan. Jumlah uang total. Bukan hanya datang dari Menteri Kesehatan, dari pemerintah, tetapi juga dari BPJS dan sektor pribadi," kata Budi.
Budi menyebut kebutuhan pendanaan untuk mendukung transformasi sistem kesehatan mencapai sekitar US$233, sementara pembiayaan yang telah tersedia sekitar US$177. Ia kemudian menyebut masih terdapat kesenjangan sekitar US$36 hingga US$37 yang perlu dicari dalam lima tahun ke depan. Namun, satuan angka tersebut tidak tertangkap secara jelas dalam transkrip otomatis acara.
Budi menegaskan sumber pendanaan pembangunan kesehatan dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari hibah, pinjaman hingga bantuan teknis. Budi bilang, meski pendanaan pembangunan internasional mengalami penurunan, masih terdapat sumber pembiayaan yang dapat dimanfaatkan Indonesia selama pemerintah mampu menunjukkan program dan kebutuhan yang jelas kepada mitra.
"Uang itu bisa menjadi format yang berbeda. Kadang-kadang uang itu bisa menjadi grant, atau kadang-kadang uang itu bisa menjadi pinjaman, kadang-kadang uang itu bisa menjadi assistance, namun uang itu ada," ujarnya.
Budi mengungkapkan nilai bantuan donor untuk sektor kesehatan Indonesia kini telah mencapai sekitar US$1 miliar. Angka tersebut meningkat dibandingkan saat dirinya mulai menjabat Menteri Kesehatan, ketika nilainya berada di kisaran US$200 juta hingga US$300 juta.
"Waktu saya masuk sekitar 200-300 juta, sekarang sudah naik ke 1 miliar dolar, jadi ordernya lumayan besar sih," kata Budi.
Ia menyebut total bantuan yang pernah diberikan tersebut setara lebih dari Rp18 triliun. Adapun pendanaan donor biasanya memiliki siklus sekitar tiga hingga empat tahun sehingga terdapat program baru yang masuk menggantikan program yang berakhir.
Namun, pemerintah tidak ingin berbagai bantuan tersebut berjalan sendiri-sendiri. Budi mengatakan pengalaman selama pandemi Covid-19 menunjukkan Indonesia menerima banyak donasi dari luar negeri, tetapi bantuan tersebut belum terkoordinasi dengan optimal.
Kementerian Kesehatan kemudian membentuk donors office untuk membantu mengoordinasikan berbagai pendanaan tersebut.
"Sekarang dibantu sama Pak Asnawi, kita bikin donors office supaya donor-donor itu kalau datang, bisa masuknya terkoordinasi dengan bagus. Enggak harus semua lewat pemerintah, bisa juga langsung ke implementing agency yang lain. Tapi kita atur supaya outcome-nya sama," jelasnya.
Dengan skema tersebut, donor tetap dapat memilih bidang kesehatan yang ingin didukung. Ada yang dapat berfokus pada tuberkulosis (TBC), kesehatan ibu dan anak, kanker maupun persoalan kesehatan lainnya.
Bantuan juga tidak harus disalurkan melalui pemerintah pusat. Menurut Budi, pendanaan bisa masuk melalui pemerintah daerah hingga organisasi kemasyarakatan. Yang terpenting, seluruh program tercatat dan bergerak menuju target yang sama.
"Karena ada donor yang senang bantu tuberculosis, ada donor yang senang bantu ibu dan anak, ada donor yang senang bantu kanker dan lain sebagainya. Nah ini menjadi sarana komunikasi dari mereka," katanya.
Sementara itu dalam diskusi IHPM, Budi menekankan pemerintah tidak mungkin meningkatkan kesehatan 280 juta penduduk Indonesia sendirian. Ia bilang, mencapai target kesehatan membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk mitra pembangunan dan masyarakat.
Ia juga menilai program kesehatan tidak cukup hanya menjadi program pemerintah. Masyarakat perlu memiliki keinginan untuk menjaga kesehatannya sendiri, sementara pemerintah dan mitra menyediakan dukungan yang dibutuhkan.
Budi menekankan kepercayaan juga menjadi faktor penting untuk menarik pendanaan. Pemerintah, menurutnya, perlu menunjukkan kepada mitra bagaimana dana yang diberikan digunakan dan apa hasilnya.
"Kita perlu memberi Anda feedback, laporan apa yang telah kita lakukan, apa yang telah menjadi uang Anda dan semoga Anda dapat menambahkan uang tambahan," ujar Budi.