Kabut Asap Kepung Sumatra, Warga Sesak hingga Anak Tak Bisa Sekolah

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Rabu, 07/10/2026 17:00 WIB
Foto: Warga melaksanakan shalat di tengah kabut asap yang menyelimuti kawasan Pekanbaru, Riau (11/9/2019). (AP Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui sejumlah wilayah di Sumatra hingga Rabu (7/10/2026). Dari Palembang, Pekanbaru hingga Kabupaten Bungo, Jambi, warga mulai merasakan langsung dampaknya.

Mata perih, batuk, sesak napas hingga aktivitas sekolah anak-anak yang terganggu menjadi bagian dari keseharian mereka. Kondisi udara di Palembang, Sumatra Selatan, bahkan sempat memburuk drastis.

Konsentrasi PM2.5 dilaporkan mencapai 900 hingga 1.025 mikrogram per meter kubik pada dini hari dalam beberapa hari terakhir. Saraswati, warga Palembang bilang, kabut asap kali ini sudah sangat mengganggu kehidupan keluarganya.

Kabut asap akibat kebakaran hutan di Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Selasa (11/8/2026). (REUTERS/Abriansyah Liberto) Foto: REUTERS/Abriansyah Liberto

"Sekarang parah sekali. Kadar udara sampai di 500 hingga 1.000 lebih, langit menguning, abu bertebaran," kata Saraswati kepada CNBC Indonesia, Rabu (7/10/2026).

Ia juga bilang, dirinya, suami, hingga anaknya mengalami batuk cukup parah. Aktivitas keluarga pun praktis terhenti karena kondisi udara di luar rumah.


"Anak diliburkan sekolah, kami tidak bisa ke mana-mana atau beraktivitas," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat Saraswati semakin khawatir karena anaknya memiliki riwayat bronkitis. Berbagai cara dilakukan untuk mengurangi paparan asap di dalam rumah.

Ventilasi rumah ditutup dan celah-celah jendela dilapisi kain. Dua unit air purifier yang tersedia di rumah juga terus digunakan, tetapi menurutnya masih belum cukup untuk menghadapi kondisi udara saat ini.

Menurut Saraswati, kondisi kabut asap telah berlangsung selama sekitar tiga bulan. Ia berharap penanganan dilakukan lebih serius karena warga membutuhkan udara bersih, termasuk bantuan masker dan air purifier.

Keluhan serupa disampaikan Radhiah, warga Pekanbaru berusia 64 tahun. Ia bilang kondisi udara masih berada pada zona merah dan kabut asap terasa cukup pekat.

"Cukup pekat, pedih di mata, cukup mengganggu. Sudah [merasakan dampaknya], mata perih dan sesak napas," kata Radhiah kepada CNBC Indonesia.

Warga melintasi jalan saat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti Palembang, Sumatra Selatan, pada 2 Oktober 2026.  (AL ZULKIFLI / AFP)

Radhiah kini mengurangi kegiatan di luar rumah dan selalu menggunakan masker ketika harus bepergian. Kondisi Pekanbaru pada Rabu (7/10/2026) pagi memang masih buruk. Berdasarkan pemantauan IQAir, indeks kualitas udara atau AQI+ pada pukul 08.00 WIB mencapai 253 atau kategori sangat tidak sehat. Konsentrasi PM2.5 tercatat 178,4 mikrogram per meter kubik.

Dampak kesehatan akibat kabut asap juga mulai tercatat dalam jumlah besar. Pemerintah Kota Pekanbaru mencatat total kumulatif 9.932 warga mengalami gangguan kesehatan terkait kabut asap sejak 25 Agustus hingga 5 Oktober 2026. Banyak warga mengeluhkan ISPA, pneumonia, mata merah, iritasi kulit hingga asma. Kelompok yang banyak terdampak adalah balita, anak-anak dan lanjut usia.

Radhiah yang memiliki penyakit asma berharap kebakaran lahan tidak terus berulang, terutama di kawasan gambut yang sulit dipadamkan.

Pemerintah Kota Pekanbaru sendiri menyatakan hingga Selasa (6/10/2026) tidak ditemukan titik api baru di wilayah kota. BPBD menyebut kabut asap yang masih menyelimuti Pekanbaru merupakan asap kiriman dari daerah lain.

Anak-anak di Jambi Sekolah Online

Petugas gabungan berupaya memadamkan api di Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi (21/8/2026). (Dok. BPBD Kabupaten Batang Hari) Foto: (Dok. BPBD Kabupaten Batang Hari)

Kabut asap juga mengubah kehidupan anak-anak di Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Sri Rahayu, warga Muara Bungo, mengatakan kabut asap sudah dirasakan sejak Agustus 2026 dan belakangan semakin pekat.

"Kondisi sekarang di Muara Bungo kabut asap makin pekat, udara semakin tidak sehat baik di luar maupun di dalam rumah," kata Sri Rahayu kepada CNBC Indonesia.

Anak-anaknya pun lebih sering mengikuti pembelajaran secara daring sejak 27 Agustus. Saat kondisi kabut tidak terlalu pekat dan sekolah kembali dilakukan secara tatap muka, siswa diwajibkan menggunakan masker dan kegiatan belajar dibatasi di dalam ruangan.

Keterangan Sri sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Bungo. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bungo sebelumnya menerbitkan surat edaran yang mengalihkan kegiatan pembelajaran menjadi daring mulai 27 Agustus 2026 karena memburuknya kualitas udara.

Bagi Sri, dampaknya tidak hanya terasa pada pendidikan anak. "Yang sering dialami anak-anak batuk dan sakit tenggorokan. Suami sering mengeluh mata perih dan sedikit sesak karena dia kerja di luar ruangan," ujarnya.

Anak-anak kini lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Bahkan aktivitas bermain sebisa mungkin dilakukan di dalam ruangan untuk mengurangi paparan asap.

Kondisi kabut asap yang berkepanjangan juga mulai mengganggu kegiatan sekolah. Menurut Sri, anaknya yang duduk di sekolah dasar seharusnya sudah mulai mengikuti ujian tengah semester pada Senin lalu. Namun jadwal tersebut berubah setelah adanya arahan untuk kembali melakukan pembelajaran daring.

"Sebagai orang tua dalam keadaan seperti ini pasti khawatir, terutama tentang kesehatan anak. Apabila kabut ini berlangsung lebih lama lagi juga tidak baik untuk pendidikan anak-anak karena mereka lebih sering belajar di rumah yang terkadang tidak maksimal," katanya.

Saat ini, anak sulungnya sedang mengalami batuk. Suaminya juga kerap mengalami mata gatal dan perih. Pada malam hari, kondisi udara bahkan terkadang membuat tidur menjadi tidak nyaman karena udara terasa sulit dihirup.

Kabut asap di Jambi memang masih tebal. Pemerintah Provinsi Jambi bahkan menjadwalkan kembali Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 9-10 Oktober 2026. Gubernur Jambi Al Haris mengatakan upaya sebelumnya terkendala jarak pandang yang rendah akibat tebalnya kabut asap.

Kondisi ini turut mengganggu transportasi. Sedikitnya delapan penerbangan rute Jakarta-Jambi dan Jambi-Jakarta mengalami keterlambatan pada Selasa (6/10/2026) karena jarak pandang yang belum stabil.

Di media sosial, keluhan mengenai kondisi udara di Sumatra juga bermunculan. Salah satunya datang dari akun Instagram @sel.inanicole yang menyoroti situasi di Palembang dan Jambi.

"Sesederhana bernapas. Bahkan itu pun, sekarang jadi kemewahan," tulis akun tersebut.

Ia menceritakan keluarganya di Jambi harus menggunakan masker, bahkan berlapis, ketika keluar rumah karena paparan asap dapat langsung memicu batuk.

"Bayi dan anak-anak yang bahkan belum mengerti apa yang terjadi ikut sesak, ikut sakit. Mereka bukan yang menyalakan api. Tapi mereka yang menanggung asapnya," tulisnya.


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pemerintah Siap Lelang SBSN, Target Dana Rp10 Triliun