Terlihat Sehat, Ternyata 9 Makanan Ini Bisa Jadi Ancaman bagi Jantung

Linda Hasibuan, CNBC Indonesia
Sabtu, 03/10/2026 12:40 WIB
Foto: Ilustrasi Sereal. (Dok. Freepik)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Pola makan sehari-hari menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi kesehatan jantung. Bahkan, sejumlah makanan yang terlihat biasa dan kerap dipasarkan sebagai pilihan sehat ternyata perlu diperhatikan kandungan gizinya.

Seorang ahli jantung, Dr. Sanjay Bhojraj yang telah lebih dari dua dekade menangani penyakit jantung, penyumbatan arteri, dan gangguan metabolisme mengaku menemukan pola tertentu pada pasiennya.

Menurutnya, banyak pasien merasa telah menjalani gaya hidup sehat dengan rutin berolahraga dan mengelola stres. Namun, sebagian tetap datang dengan masalah kardiovaskular yang serius.


Ia menilai, salah satu hal yang sering luput diperhatikan adalah pilihan makanan yang dikonsumsi setiap hari.

Dalam pola makan ala Amerika, misalnya, terdapat sejumlah makanan yang dipasarkan dengan berbagai klaim seperti "heart smart", "plant-based", atau "rendah lemak". Namun, klaim tersebut tidak selalu menggambarkan keseluruhan profil nutrisi sebuah produk.

Beberapa makanan dan minuman juga dapat memiliki kandungan gula tambahan, natrium, lemak jenuh, atau tingkat pemrosesan yang tinggi. Konsumsi berlebihan dalam jangka panjang dapat berkontribusi terhadap berbagai faktor risiko penyakit kardiovaskular.

Berikut sembilan jenis makanan yang disebut ahli jantung tersebut tidak menjadi pilihannya sehari-hari melansir CNBC Make It.

1. Sereal sarapan tinggi gula

Sereal sarapan sering dianggap sebagai makanan praktis untuk memulai hari. Namun, beberapa produk mengandung gula tambahan dalam jumlah tinggi dan dipasarkan dengan kemasan yang menarik, termasuk menggunakan karakter kartun.

Konsumsi makanan tinggi gula dapat menyebabkan kenaikan kadar glukosa darah dengan cepat. Dalam jangka panjang, pola makan tinggi gula tambahan juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan gangguan metabolisme yang berkaitan dengan kesehatan jantung.

Sebagai alternatif, steel-cut oats atau oat giling kasar dapat dikonsumsi bersama buah beri dan kayu manis. Kombinasi tersebut memberikan serat dan sejumlah nutrisi dari bahan makanan utuh.

2. Daging olahan

Daging olahan seperti deli meats sering menjadi pilihan praktis untuk membuat sandwich. Namun, jenis makanan ini perlu dikonsumsi secara terbatas.

Produk seperti ham, salami, bacon, dan sejumlah daging olahan lainnya dapat mengandung natrium tinggi serta bahan pengawet tertentu, termasuk nitrit dan nitrat.

Konsumsi daging olahan dalam jumlah tinggi telah dikaitkan dengan sejumlah risiko kesehatan, termasuk penyakit kardiovaskular dan kanker tertentu.

Sebagai pilihan, daging kalkun atau dada ayam yang dipanggang sendiri dan diiris segar dapat digunakan sebagai isian sandwich.

3. Minuman bersoda dan minuman energi

Minuman berpemanis menjadi salah satu sumber gula tambahan yang mudah dikonsumsi tanpa disadari. Minuman energi juga dapat mengandung kafein dalam jumlah tinggi.

Konsumsi minuman berpemanis secara berlebihan dapat meningkatkan asupan kalori dan berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas serta diabetes tipe 2, yang keduanya merupakan faktor risiko penyakit jantung.

Sementara itu, produk berlabel "diet" tidak otomatis berarti lebih sehat. Penggunaan pemanis non-gula memiliki karakteristik dan efek yang berbeda-beda sehingga tetap perlu diperhatikan secara keseluruhan dalam pola makan

Sebagai alternatif, air soda dengan perasan lemon atau teh herbal tanpa gula dapat menjadi pilihan.

4. Makanan cepat saji yang digoreng

Kentang goreng, corn dog, funnel cake, dan berbagai makanan yang dimasak dengan metode deep-frying merupakan makanan yang sebaiknya tidak terlalu sering dikonsumsi.

Makanan yang digoreng umumnya memiliki kandungan kalori dan lemak yang tinggi. Jika dikonsumsi secara rutin, makanan tersebut dapat berkontribusi terhadap kelebihan asupan energi dan berbagai faktor risiko metabolik.

Alih-alih mengonsumsi makanan yang digoreng, makanan dapat dipanggang menggunakan sedikit minyak, misalnya minyak zaitun.

5. Roti putih dan karbohidrat olahan

Roti putih, crackers, serta berbagai produk berbahan tepung olahan memiliki kandungan serat yang lebih rendah dibandingkan produk berbahan biji-bijian utuh.

Karbohidrat olahan dapat dicerna lebih cepat dan menyebabkan kenaikan kadar gula darah yang lebih cepat dibandingkan makanan kaya serat.

Dalam jangka panjang, pola makan yang banyak mengandalkan karbohidrat olahan dapat berkontribusi terhadap peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular.

Pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah roti yang benar-benar terbuat dari 100 persen biji-bijian utuh atau produk sprouted grain.

6. Margarin dan olesan pengganti mentega

Margarin pernah dipromosikan sebagai alternatif mentega yang lebih ramah bagi kesehatan jantung. Namun, kandungan lemak trans pada sejumlah produk margarin lama menjadi perhatian besar dalam dunia kesehatan.

Lemak trans dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL dan menurunkan HDL, sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung.

Saat ini, banyak negara telah membatasi atau melarang penggunaan minyak terhidrogenasi parsial sebagai sumber lemak trans dalam makanan. Karena itu, kandungan nutrisi pada margarin berbeda-beda menurut produk dan negara.

Membaca label nutrisi menjadi langkah penting sebelum memilih produk. Minyak zaitun extra-virgin dapat digunakan sebagai salah satu alternatif lemak dalam pola makan.

7. 'Daging' nabati yang sangat diproses

Label "plant-based" tidak selalu berarti sebuah produk merupakan makanan utuh atau minim proses.

Sejumlah produk pengganti daging dibuat melalui proses panjang dan dapat mengandung natrium, minyak, serta berbagai bahan tambahan. Karena itu, konsumen tetap perlu memperhatikan daftar bahan dan informasi nilai gizi.

Pilihan berbasis tumbuhan yang lebih sederhana antara lain lentil, kacang-kacangan, dan tahu yang diproses secara minimal.

8. Sup kalengan tinggi natrium

Sup kalengan dapat menjadi makanan praktis, tetapi beberapa produk mengandung natrium dalam jumlah tinggi.

Asupan natrium yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah. Tekanan darah tinggi sendiri merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke.

Karena kandungan natrium setiap produk berbeda, konsumen sebaiknya memeriksa label nutrisi sebelum membeli.

Sup buatan sendiri dengan sayuran, kacang-kacangan, rempah-rempah, dan jumlah garam yang terukur dapat menjadi alternatif.

9. Krimer kopi beraroma

Krimer kopi beraroma juga menjadi salah satu produk yang perlu diperhatikan, terutama jika digunakan dalam jumlah besar dan setiap hari.

Beberapa produk dapat mengandung gula tambahan, minyak, serta bahan perisa. Kandungan tersebut berbeda-beda antara satu merek dan produk lainnya.

Karena itu, penting untuk membaca daftar bahan dan informasi nutrisi pada kemasan.

Sebagai alternatif, susu almond atau susu oat tanpa pemanis dapat digunakan, kemudian ditambahkan kayu manis atau sedikit ekstrak vanila untuk memberikan rasa.

Perubahan Kecil Bisa Menjadi Langkah Awal

Mengubah pola makan tidak harus dilakukan secara drastis dalam satu malam. Mengurangi konsumsi makanan tinggi gula tambahan, natrium, dan makanan ultra-proses secara bertahap dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih sehat.

Pada saat yang sama, makanan utuh seperti sayuran, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan sumber protein yang lebih minim proses dapat lebih sering dimasukkan ke dalam menu sehari-hari.

Yang perlu diperhatikan, tidak semua makanan dalam daftar tersebut harus dianggap sebagai makanan yang "berbahaya" jika dikonsumsi sesekali. Dampak kesehatan sangat dipengaruhi oleh jumlah, frekuensi konsumsi, keseluruhan pola makan, serta kondisi kesehatan masing-masing individu.

Bagi seseorang yang memiliki penyakit tertentu atau ingin melakukan perubahan pola makan secara signifikan, konsultasi dengan dokter atau ahli gizi dapat membantu menentukan pilihan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Desak Made Pecahkan Rekor & Sumbang Emas Ke-4 Untuk Indonesia