Dapat Hibah Rp203 M dari Belanda, RS PON Tambah Alat Kesehatan
Jakarta, CNBC Indonesia - RS Pusat Otak Nasional (PON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta menandatangani kontrak pengadaan alat kesehatan yang didanai melalui hibah Pemerintah Kerajaan Belanda melalui Invest International, Kamis (1/10/2026).
Direktur Utama RS PON, dr. Adin Nulkhasanah, Sp. S., MARS mengatakan penandatanganan kontrak tersebut menjadi tonggak penting bagi RS Pusat Otak Nasional (RS PON) dalam memasuki tahap implementasi penyediaan peralatan medis spesialistik untuk mendukung pengembangan layanan rumah sakit.
Hibah yang diberikan memiliki nilai 10 juta euro atau sekitar Rp203 miliar. Dana tersebut diperuntukkan bagi penyediaan berbagai peralatan medis spesialistik guna memperkuat kapasitas pelayanan RS PON.
"Hari ini bukan hanya tentang penandatanganan sebuah kontrak. Hari ini menandai transisi penting dari tahap persiapan menuju tahap implementasi. Pada akhirnya, seluruh proses ini bermuara pada satu tujuan, yaitu memberikan pelayanan yang lebih baik bagi pasien dan masyarakat," kata dr. Adin saat ditemui di kawasan Jakarta Timur, Kamis (1/10/2026).
Dalam dokumen hibah, Pemerintah Kerajaan Belanda tercatat sebagai pemberi hibah, sementara Invest International Public Programmes B.V. menjadi unit terkait dalam program hibah tersebut.
Kontrak pengadaan ditandatangani bersama empat Kontraktor Utama, yakni PT Medica Sukses Abadi, PT Triputra Aman Makmur, PT Boswell Mahakarya Indonesia, dan PT Airindo Sentra Medika.
Secara keseluruhan, proyek ini mencakup 17 subkontraktor, 68 produk, dan 137 unit alat kesehatan. Peralatan tersebut akan digunakan untuk mendukung berbagai layanan spesialistik di RS PON.
Adapun alat kesehatan yang akan disediakan mencakup kebutuhan radiologi dan imaging, sistem monitoring, neurointervensi, bedah saraf, rehabilitasi, anestesi, serta berbagai teknologi medis spesialistik lainnya.
Dimulai Sejak 2023
Proyek hibah tersebut telah melalui sejumlah tahapan sejak penjajakan dimulai pada 2023. Proses kemudian berlanjut dengan studi kelayakan, persetujuan Engagement Committee, due diligence, pembahasan co-financing, hingga penandatanganan Grant Arrangement.
Memasuki 2026, proyek masuk ke tahap persiapan pengadaan. Tahapan tersebut mencakup finalisasi daftar alat kesehatan, penerbitan Statement of No Objection (SoNO), contract review, market pricing approval, hingga finalisasi SoNO dan jadwal pencairan dana atau disbursement schedule.
Penandatanganan kontrak pada 1 Oktober 2026 menandai dimulainya fase pelaksanaan proyek.
Setelah kontrak ditandatangani, proses akan dilanjutkan dengan pengadaan, pengiriman, instalasi, uji fungsi, dan commissioning peralatan kesehatan. Berdasarkan rencana proyek, seluruh proses implementasi dijadwalkan berlangsung pada Oktober hingga Desember 2026.
Selanjutnya, proyek akan memasuki tahap monitoring dan evaluasi sebelum ditutup pada 2027.
Sementara itu, dr. Adin Nulkhasanah, juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kesehatan, Kementerian Keuangan, Kementerian PPN/Bappenas, Pemerintah Kerajaan Belanda, Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, Invest International, Project Management Unit (PMU), Project Implementation Unit (PIU), Dewan Pengawas RS PON, para kontraktor, serta seluruh pihak yang telah mendukung proses hibah tersebut sejak tahap awal.
"Kami berharap seluruh proses selanjutnya dapat dilaksanakan secara profesional, transparan, akuntabel, tepat waktu, dan sesuai spesifikasi. Yang terpenting, peralatan yang disediakan melalui hibah ini harus benar-benar memberikan manfaat bagi pasien dan memperkuat layanan neurologi di RS PON," paparnya.
Penandatanganan kontrak berlangsung di Auditorium RS PON Mahar Mardjono, Gedung B Lantai 16. Acara tersebut dihadiri perwakilan Kementerian Keuangan, Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Kesehatan, Dewan Pengawas RS PON, Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, Invest International, PMU dan PIU, jajaran Direksi RS PON, serta para Kontraktor Utama.
Melalui dukungan hibah tersebut, RS PON menargetkan penguatan kapasitas pelayanan neurologi dan berbagai layanan spesialistik. Pengadaan peralatan medis ini juga diharapkan meningkatkan kesiapan rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas serta berstandar internasional.
(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]