Hampir 800 Tahun Hilang, Makam Genghis Khan Masih Jadi Misteri
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejarah mencatat banyak harta karun dan peninggalan besar yang hilang ditelan zaman. Mulai dari emas Aztec hingga berlian Florentine seberat 137 karat.
Salah satu misteri terbesar yang hingga kini belum terpecahkan adalah keberadaan makam Jenghis Khan, penguasa Mongol yang pada abad ke-13 membangun salah satu imperium terbesar dalam sejarah.
Dalam buku The Museum of Lost Things: True Tales of Fabled Treasures, Legendary Cities, and Mythical Creatures That Vanished From History yang diterbitkan National Geographic Partners pada 2026, penulis Sam Kean mengulas berbagai peninggalan yang hilang dari sejarah, termasuk makam Jenghis Khan yang selama hampir delapan abad tak kunjung ditemukan.
Jika para arkeolog diminta menentukan makam hilang yang paling ingin ditemukan, makam Jenghis Khan kemungkinan menjadi salah satu yang paling menarik. Selain nilai sejarahnya, penemuan makam tersebut juga berpotensi menjawab berbagai legenda mengenai kematian dan pemakaman penguasa Mongol tersebut.
Dari Temüjin Menjadi Jenghis Khan
Melansir Live Science, Jenghis Khan diperkirakan lahir di Mongolia sekitar 1162 dengan nama Temüjin. Masa kecilnya jauh dari kehidupan seorang calon penguasa besar.
Ketika Temüjin berusia sekitar sembilan tahun, ayahnya yang merupakan seorang bangsawan tewas diracun oleh lawan. Setelah itu, keluarga Temüjin diasingkan oleh anggota klannya sendiri dan dibiarkan bertahan hidup di padang rumput.
Sejumlah catatan sejarah menggambarkan Temüjin sebagai sosok yang memiliki sisi emosional, bahkan disebut takut terhadap anjing dan mudah menangis. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika beranjak dewasa.
Ia pernah diperbudak, tetapi berhasil melarikan diri. Ia kemudian menyingkirkan berbagai pesaing dari kelompok-kelompok nomaden di sekitarnya. Pada 1206, Temüjin dinobatkan sebagai Jenghis Khan, gelar yang bermakna sebagai penguasa universal.
Di bawah kepemimpinannya, bangsa Mongol berubah menjadi kekuatan militer yang sangat besar.
Kematian Jenghis Khan Penuh Versi
Misteri makam Jenghis Khan semakin sulit dipecahkan karena bahkan penyebab kematiannya sendiri tidak diketahui secara pasti.
Berbagai cerita berkembang mengenai kematian sang penguasa. Ada versi yang menyebut Jenghis Khan meninggal setelah jatuh dari kuda. Cerita lain menyatakan ia tersambar petir atau terkena panah ketika berada di medan perang.
Ada pula kisah ekstrem yang menghubungkan kematiannya dengan seorang ratu dari wilayah taklukan. Namun, berbagai cerita tersebut tidak dapat dipastikan kebenarannya.
Setelah kematiannya, istrinya yang bernama Yesui disebut mengenakan jubah putih pada jenazah Jenghis Khan. Tubuhnya kemudian dibungkus dengan kain felt putih dan bahan harum sebelum dibalut dengan tali emas.
Setelah itu, perjalanan menuju tempat pemakaman dilakukan secara sangat rahasia.
Pemakaman yang Sengaja Disembunyikan
Menurut legenda yang berkembang, sekitar seribu prajurit berkuda mengawal jenazah Jenghis Khan menuju lokasi pemakaman. Untuk merahasiakan tempat tersebut, rombongan dikisahkan membunuh orang-orang yang mereka temui di sepanjang perjalanan. Bahkan, sejumlah cerita menyebut hewan yang berada di jalur perjalanan juga dibunuh agar tidak meninggalkan petunjuk.
Legenda lainnya menyebut makam Jenghis Khan dibuat sangat dalam dan jenazahnya dikuburkan bersama berbagai benda berharga, termasuk pelana, perhiasan emas, mutiara, serta sejumlah barang lainnya.
Ada pula kisah yang menyebut budak, selir dan kuda turut dikuburkan bersamanya. Salah satu versi bahkan menyatakan seekor anak unta dikuburkan hidup-hidup untuk membantu rombongan mengingat lokasi makam.
Setelah makam ditutup, para prajurit disebut mengalihkan aliran sungai atau menggunakan ribuan kuda untuk menginjak-injak tanah di atas makam agar jejaknya menghilang.
Dalam legenda paling ekstrem, para prajurit yang bertugas merahasiakan lokasi makam kemudian ikut dibunuh setelah kembali ke tempat asal. Orang-orang yang melakukan pembunuhan itu pun disebut turut dibantai.
Tidak diketahui seberapa besar kebenaran cerita tersebut. Namun, legenda itu menggambarkan betapa kuatnya tradisi kerahasiaan seputar makam Jenghis Khan.
Makam Dicari Selama Berabad-abad
Selama berabad-abad, sejumlah wilayah dikaitkan dengan keberadaan makam Jenghis Khan. Mongolia, China, Kazakhstan dan Rusia sama-sama memiliki berbagai klaim serta teori mengenai lokasi peninggalan sang penguasa.
Pada abad ke-20, pencarian makam Jenghis Khan menghadapi hambatan politik. Setelah berdirinya Republik Rakyat Mongolia pada 1924, pemerintah komunis yang memiliki hubungan erat dengan Uni Soviet membatasi berbagai bentuk pemujaan terhadap simbol nasional yang dianggap berpotensi membangkitkan nasionalisme.
Nama Jenghis Khan bahkan pernah dilarang untuk disebut secara terbuka.
Situasi berubah setelah runtuhnya pemerintahan komunis Mongolia pada 1992. Kawasan tersebut kemudian berkembang menjadi cagar alam dan sebagian wilayahnya dapat diakses publik.
Namun, pencarian makam tetap bukan perkara mudah.
Burkhan Khaldun, lokasi yang paling dicurigai sebagai tempat pemakaman sang raja, berada di salah satu kawasan terpencil dengan akses jalan yang terbatas. Vegetasi telah menutupi sebagian besar wilayah, sementara kondisi cuaca juga sangat ekstrem.
Suhu musim panas dapat mencapai sekitar 38 derajat Celsius, sedangkan musim dingin dapat turun hingga minus 46 derajat Celsius.
Para pencari makam harus menghadapi berbagai risiko, termasuk ular, suhu ekstrem dan medan yang sulit. Bahkan, terdapat penjelajah yang menghabiskan puluhan tahun menyusuri kawasan tersebut tetapi meninggal tanpa menemukan makam yang dicari.
Teknologi Satelit Ikut Memburu Makam Sang Khan
Upaya pencarian kemudian memasuki babak baru pada 2010. Sekelompok arkeolog menggunakan citra satelit kawasan Burkhan Khaldun dan meminta bantuan masyarakat untuk meneliti gambar tersebut.
Sekitar 10.000 sukarelawan dilaporkan menghabiskan sekitar 30.000 jam untuk meneliti wilayah seluas hampir 6.000 kilometer persegi.
Mereka mencari tanda-tanda seperti gundukan, cekungan dan struktur tidak biasa yang mungkin menunjukkan keberadaan makam.
Lebih dari 100 lokasi kemudian ditandai untuk diperiksa lebih lanjut. Penelitian lapangan akhirnya menemukan 55 situs arkeologi yang dinilai valid, termasuk struktur megalitikum, makam dari Zaman Perunggu dan sebuah kota kuno.
Namun, tidak satu pun di antaranya memberikan bukti keberadaan makam Jenghis Khan.
Seorang arkeolog menggambarkan pencarian tersebut seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Bedanya, dalam kasus ini, para pencari bahkan tidak mengetahui seperti apa bentuk "jarum" yang mereka cari.
Hampir 800 tahun setelah kematian Jenghis Khan, tulang-belulang penguasa Mongol tersebut masih belum ditemukan. Makamnya tetap tersembunyi, sementara legenda mengenai tempat peristirahatan terakhirnya terus mendorong para arkeolog dan penjelajah untuk mencari jawabannya.
(hsy/hsy)