Jangan Sepelekan Kebiasaan Mendengkur Saat Tidur, Ternyata Bahaya

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Minggu, 27/09/2026 09:45 WIB
Foto: Kinga Howard via Unsplash

Jakarta, CNBC Indonesia - Mendengkur saat tidur kerap dianggap sebagai hal biasa, terutama setelah seseorang menjalani aktivitas yang melelahkan. Namun, jika hal tersebut terjadi hampir setiap kali tidur, kondisi itu ternyata tidak boleh dianggap sepele.

Praktisi kedokteran tidur, dr. Andreas Prasadja, RPSGT, mengatakan bahwa mendengkur secara terus-menerus dapat menjadi salah satu tanda adanya gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai. Andreas menyebutkan, selama sekitar dua dekade menangani pasien di Indonesia, ia masih sering menemukan orang yang baru mencari pertolongan medis setelah mengalami gangguan tidur selama bertahun-tahun.

"Selama dua dekade, saya melihat pasien Indonesia datang dengan gejala yang sudah berlangsung bertahun-tahun, mendengkur keras, rasa lelah di pagi hari, sulit konsentrasi, tapi baru mau ke dokter setelah kondisinya sudah serius," kata Andreas dalam acara Health Talk: Are You Sleeping Right? di Jakarta, dikutip pada Minggu (27/9/2026).


Ia menjelaskan bahwa mendengkur sesekali setelah tubuh mengalami kelelahan tidak selalu menjadi tanda masalah kesehatan yang serius. Namun, situasinya berbeda jika seseorang mendengkur hampir di setiap kesempatan tidurnya.

"Kalau sesekali mendengkur, memang benar lagi capek doang, enggak apa-apa. Nah, kalau setiap tidur mendengkur, ini yang mesti kita waspadai, enggak boleh diabaikan, karena bisa jadi ada risiko kesehatan," ujarnya.

Andreas menambahkan, gangguan tidur juga sangat berkaitan dengan kondisi kesehatan lainnya, terutama gangguan pernapasan saat tidur. Selain mendengkur, beberapa keluhan yang kerap dialami pasien meliputi rasa lelah yang tetap mendera saat bangun pagi serta kesulitan berkonsentrasi meski sudah tidur semalaman. Sayangnya, berbagai gejala tersebut sering kali dibiarkan berlarut-larut. Sebagian besar orang baru memeriksakan diri setelah keluhan semakin mengganggu aktivitas harian atau kondisi tubuh sudah telanjur parah.

Lebih lanjut, Andreas juga menyoroti keterkaitan langsung antara gangguan pernapasan saat tidur dengan masalah tekanan darah tinggi (hipertensi). "Sejak tahun 2003 sudah dinyatakan sebagai penyebab hipertensi," ungkapnya.

Faktor Kualitas Tidur dan Posisi Tubuh

Kualitas tidur yang baik tidak sekadar diukur dari berapa lama seseorang berada di atas tempat tidur, melainkan juga kondisi fisik secara keseluruhan selama tidur.

Dalam forum diskusi tersebut, para dokter turut membedah keterkaitan kualitas tidur dengan kesehatan tulang belakang, sistem pernapasan, hingga kondisi urologis. Selain itu, permukaan tempat tidur atau kasur yang digunakan juga memegang peranan penting dalam menunjang kenyamanan tubuh.

Pengamatan terhadap lebih dari 550 pasien yang menjadi bagian dari riset pengembangan tidur mengevaluasi sejumlah parameter, mulai dari keselarasan tulang belakang (spinal alignment), distribusi tekanan pada tubuh, siklus tidur, hingga frekuensi seseorang terbangun di tengah malam.

Posisi tidur pun tidak luput dari perhatian. Ketika seseorang tidur dengan posisi menyamping, tekanan tubuh cenderung lebih besar bertumpu pada area bahu dan pinggul.

Osteopath Dr. George Michael menjelaskan bahwa keseimbangan antara keselarasan tulang belakang dan titik tekanan tubuh sangat penting untuk diperhatikan demi menjaga kesehatan fisik secara menyeluruh.

"Kasur yang terlalu keras mungkin dapat menjaga keselarasan tulang belakang, tetapi justru meningkatkan tekanan pada titik-titik tertentu. Sementara itu, kasur yang lebih empuk dapat mengurangi tekanan, namun tidak selalu mampu menjaga keselarasan tulang belakang dengan baik," jelas George.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Timnas Bulutangkis Beregu Putra Raih Medali Emas Asian Games 2026