Aktor Prancis Jalani Eutanasia usai Berjuang Lawan Hernia Terlalu Lama
Jakarta, CNBC Indonesia - Aktor sekaligus sutradara asal Prancis, Arnaud Denis, meninggal dunia melalui prosedur eutanasia pada usia 43 tahun. Keputusan tersebut diambil setelah ia mengalami rasa sakit berkepanjangan dan kondisi yang membuatnya mengalami disabilitas berat usai pemasangan implan untuk mengatasi hernia.
Denis menjalani eutanasia di Namur, Belgia, pada Selasa. Pengacaranya, Philippe Courtois mengatakan keputusan tersebut telah melalui konsultasi dengan tiga dokter.
Eutanasia merupakan tindakan medis untuk mengakhiri hidup seseorang secara sengaja guna menghentikan penderitaan berat akibat kondisi medis tertentu. Praktik ini hanya diperbolehkan secara hukum di sejumlah negara dengan persyaratan ketat, termasuk Belgia.
"Keputusan yang diambil Arnaud Denis dibuat melalui konsultasi dengan tiga dokter di Namur. Tubuhnya sudah tidak mampu lagi menopangnya. Dia telah kehilangan kendali atas tubuhnya," kata Courtois, dikutip dari Euronews, Kamis (24/9/2026).
Courtois mengatakan, kematian Denis merupakan akhir dari rasa sakit hebat yang telah dialaminya selama berbulan-bulan. Denis dikenal antara lain melalui produksi Les Liaisons Dangereuses karya Choderlos de Laclos dan Les Femmes Savantes karya MoliĂšre.
Masalah kesehatannya bermula setelah menjalani operasi hernia pada pangkal paha kanan pada 17 Juli 2023. Dalam prosedur tersebut, Denis mendapat implan berupa jaring polipropilena atau polypropylene mesh.
Setelah operasi, ia dilaporkan mengalami berbagai efek samping. Kondisinya kemudian membuat Denis memutuskan menjalani operasi pengangkatan implan tersebut di Amerika Serikat pada April 2024.
Denis kemudian didiagnosis mengalami myalgic encephalomyelitis dalam konteks sindrom ASIA (Autoimmune/Inflammatory Syndrome Induced by Adjuvants), yakni kondisi peradangan yang dikaitkan dengan paparan terhadap bahan adjuvan. Implan tersebut diduga memicu peradangan berkepanjangan dan mengganggu sistem kekebalan tubuhnya.
Pada awal 2026, Denis pernah mengungkapkan bagaimana kondisi kesehatannya telah mengubah kehidupannya secara drastis.
"Saya tidak bisa lagi keluar rumah, saya tidak memiliki kehidupan sosial, saya sama sekali tidak memiliki kehidupan. Saya tidak lagi memiliki apa pun yang menjadi bagian dari martabat hidup seorang manusia," kata Denis kepada surat kabar regional Dauphiné Libéré.
Ia mengaku kondisinya terus memburuk dan menggambarkan kehidupannya seperti pasien kanker yang sudah memasuki stadium akhir. "Dokter tidak lagi memiliki apa pun yang bisa ditawarkan kepada saya," ujarnya.
Pada 5 Januari 2026, Denis mengajukan pengaduan kepada divisi kesehatan masyarakat di kantor Kejaksaan Paris atas dugaan "cedera yang tidak disengaja". Namun, perkara tersebut dihentikan pada akhir Agustus karena dinilai tidak terdapat bukti yang cukup untuk menetapkan adanya tindak pidana.
Denis kemudian melihat eutanasia sebagai jalan untuk mengakhiri penderitaannya. Pada awal tahun, ia sempat mengatakan seseorang mengetahui jauh di dalam dirinya ketika hidupnya tidak lagi dapat diselamatkan.
Pada 18 Maret, Denis dirawat di unit perawatan paliatif sebuah rumah sakit di Belgia sembari menunggu persetujuan atas permohonan eutanasianya.
Courtois menyebut kasus yang dialami Denis sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang selama ini kurang mendapat perhatian. Ia mengklaim ribuan pasien terpapar risiko implan tanpa memperoleh informasi yang cukup mengenai potensi komplikasinya.
Pengacara tersebut juga mengatakan produsen perangkat medis Medtronic pernah mengirim surat kepada Denis yang menyebut pemasangan perangkat penguat dinding tubuh dapat menyebabkan nyeri kronis maupun akut setelah operasi. Menurut Courtois, risiko tersebut tercantum dalam petunjuk penggunaan perangkat Dextile yang ditujukan bagi tenaga kesehatan. Ia mempersoalkan informasi tersebut yang menurutnya tidak disampaikan secara langsung kepada pasien.
Sebelum meninggal, Denis juga membentuk kelompok bernama French Victims of Hernia Prostheses. Kelompok tersebut mengumpulkan ratusan kesaksian di media sosial dari orang-orang yang mengaku mengalami efek samping setelah menggunakan implan hernia.