2 Tanda Orang Punya Ego Besar, Jangan Tertipu Percaya Diri Palsu

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
21 September 2026 19:55
Ilustrasi
Foto: Hunters Race via Unsplash
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Seseorang yang terlihat sangat percaya diri belum tentu benar-benar merasa secure atau aman dengan dirinya sendiri. Sikap suka memamerkan pencapaian, mendominasi percakapan, hingga senang menjadi pusat perhatian justru bisa menjadi tanda ego besar yang menutupi rasa tidak aman.

Psikolog sekaligus profesor University of Maryland, Marisa G. Franco mengatakan, cukup mudah bagi seseorang untuk terkecoh ketika mencoba membedakan orang yang benar-benar percaya diri dengan mereka yang sekadar memiliki ego besar. Franco telah bertahun-tahun meneliti mengenai harga diri atau self-worth.

Dalam buku terbarunya, Worth: The New Science of Self-Esteem and Secure Attachment, ia membahas cara mengenali seseorang yang memiliki rasa aman dan penghargaan diri yang sehat. Ia bilang, kemampuan membedakan ego besar dan rasa percaya diri yang sehat penting dalam memilih teman, pasangan, rekan kerja, bahkan atasan. Sebab, hubungan dengan orang yang memiliki self-esteem sehat cenderung membuat seseorang merasa lebih dihargai dan aman.

2 Tanda Orang Punya Ego Besar

Melansir CNBC Make It, berikut dua tanda ego besar yang kerap disalahartikan sebagai kepercayaan diri serta lima ciri orang yang benar-benar merasa aman dengan dirinya sendiri.

1. Selalu ingin menjadi pusat perhatian

Percaya diri tidak sama dengan mendominasi. Franco menilai, orang yang terus berusaha menjadi pusat perhatian terkadang melakukannya karena sebenarnya merasa tidak aman.

Rasa tidak aman tersebut kemudian dikompensasi dengan usaha menarik perhatian dan membuat orang lain terkesan. Akibatnya, pertemuan sosial lebih dipandang sebagai kesempatan untuk memenangkan perhatian orang lain daripada membangun hubungan yang tulus.

Orang dengan kepercayaan diri yang sehat tidak selalu merasa perlu menjadi sosok paling menonjol dalam suatu ruangan.

2. Merasa dirinya lebih baik daripada orang lain

Tanda lain yang patut diperhatikan adalah kebiasaan memperlakukan orang berdasarkan status atau posisi sosial. Franco bilang, orang yang tidak aman dengan dirinya sendiri dapat enggan memberikan penghormatan kepada mereka yang dianggap setara dan memperlakukan dengan buruk orang yang dinilai berada di bawahnya.

Kebiasaan melihat manusia dalam sebuah hierarki dan menentukan perlakuan berdasarkan posisi tersebut dapat menjadi tanda rasa tidak aman, bukan kepercayaan diri.

5 Ciri Orang yang Benar-benar Aman dengan Dirinya

Franco menjelaskan, pekerjaan, bentuk tubuh, pasangan, mobil, rumah, atau kekayaan tidak otomatis membuat seseorang memiliki penghargaan diri yang sehat. Bahkan, sebuah meta-analisis menemukan kesuksesan dalam pekerjaan tidak serta-merta meningkatkan self-esteem. Meta-analisis lainnya menemukan bahwa dalam lima dari enam penelitian, penurunan berat badan juga tidak meningkatkan self-esteem.

Artinya, seseorang bisa kaya, menarik, dan memiliki banyak pencapaian tetapi tetap merasa tidak aman. Berikut lima ciri yang menurut Franco lebih menunjukkan seseorang benar-benar aman dengan dirinya sendiri.

1. Mempertimbangkan perasaan orang lain

Orang yang memiliki rasa aman terhadap dirinya melihat dirinya dan orang lain sama-sama berharga. Sehingga mereka cenderung mencari situasi yang menguntungkan semua pihak dan bukan kemenangan dengan mengorbankan orang lain.

Mereka juga mampu berempati dan mempertimbangkan kebutuhan orang lain. Misalnya, seseorang sedang sangat sibuk sehingga tidak dapat menghadiri pesta ulang tahun temannya. Meski memiliki alasan yang masuk akal, ia tetap mampu mengakui bahwa temannya mungkin kecewa dan menunjukkan kepedulian dengan cara lain.

2. Mampu mengelola emosi

Orang yang merasa aman dengan dirinya sendiri cenderung lebih mampu mengatur emosinya. Mereka tidak mudah kewalahan hingga kemudian melampiaskan emosi kepada orang lain atau tiba-tiba menarik diri.

Secara umum, kestabilan tersebut juga dapat membuat orang-orang di sekitarnya merasa lebih nyaman dan aman.

3. Berani menjadi diri sendiri

Alih-alih terus mempertanyakan apakah dirinya cukup baik bagi orang lain, orang yang memiliki rasa aman lebih memikirkan bagaimana mengekspresikan dirinya secara autentik.

Mereka memahami tidak semua orang akan menyukai dirinya dan dapat menerima kenyataan tersebut. Oleh karena itu, mereka tidak selalu mengubah diri hanya untuk mendapatkan persetujuan orang lain.

Sikap tersebut juga bisa terlihat dari selera pribadi. Mereka tidak merasa harus selalu mengikuti tren dan lebih nyaman memilih pakaian, aksesori, kendaraan, atau gaya hidup yang memang sesuai dengan dirinya.

4. Berani mengakui kesalahan

Orang yang aman dengan dirinya mampu melakukan kesalahan tanpa langsung menganggap dirinya sebagai orang yang gagal.

Karena tidak mengaitkan setiap kekurangan dengan rasa malu yang berlebihan, mereka lebih mampu mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas dampak tindakannya terhadap orang lain.

Semakin seseorang merasa aman dan autentik, menurut Franco, semakin kecil kecenderungannya untuk bersikap defensif. Mereka tidak perlu terus menyalahkan keadaan atau mengecilkan dampak kesalahan demi menghindari rasa tidak nyaman.

5. Bisa mengakui ketika sedang merasa tidak aman

Menariknya, orang yang benar-benar merasa aman bukan berarti tidak pernah mengalami rasa tidak aman. Mereka tetap dapat merasa cemas, marah, takut, atau rapuh. Bedanya, mereka mampu mengakui dan menerima berbagai emosi tersebut tanpa merasa malu terhadap dirinya sendiri.

Mereka juga memahami bahwa merasa kuat tidak membuat seseorang lebih unggul, sementara merasa lemah tidak membuat seseorang lebih rendah. Bagi mereka, emosi merupakan pengalaman yang dapat dirasakan dan dilewati, bukan alasan untuk menyalahkan atau merendahkan diri sendiri.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article 11 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang Pintar Menurut Psikolog


Most Popular
Features