Rahasia Arab Saudi Punya Air Melimpah Meski 95% Wilayahnya Gurun

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Jumat, 11/09/2026 11:05 WIB
Foto: Kawasan bersejarah Al Ula di Arab Saudi. (Dok. litaalbuquerque.com)

Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi dikenal sebagai salah satu negara terkering di dunia. Lebih dari 95% wilayahnya berupa gurun tandus, curah hujan tahunan di sejumlah wilayah bahkan kurang dari 100 milimeter, sementara suhu pada musim panas bisa melampaui 45 derajat Celsius.

Kondisi tersebut membuat Arab Saudi menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan air bersih bagi lebih dari 37 juta penduduknya. Terlebih, sebagian besar populasi tinggal di kawasan sekitar Laut Merah dan Teluk Persia, sementara wilayah pedalaman negara itu sangat kering dan jarang dihuni.

Meski tidak memiliki sumber air tawar alami, Arab Saudi membangun jaringan infrastruktur raksasa yang mengalirkan air dari kawasan pesisir hingga jauh ke tengah gurun. Air tersebut telah melalui proses desalinasi yang menghilangkan kadar garam dan mineral dari air laut atau air payau agar menghasilkan air tawar yang aman untuk dikonsumsi dan digunakan sehari-hari.


Melansir NDTV, Jumat (11/9/2026), jaringan tersebut terdiri dari pipa-pipa berukuran besar yang membawa air hasil desalinasi hingga ratusan kilometer. Sistem ini bahkan menyerupai "sungai buatan" yang mengalir di bawah salah satu kawasan paling kering di dunia.

Membangun jaringan air di tengah gurun bukan perkara mudah. Pipa harus mampu bertahan selama puluhan tahun menghadapi suhu ekstrem, pergeseran pasir hingga tekanan bawah tanah yang besar.

Pipa tersebut dibuat menggunakan baja karbon berkekuatan tinggi, material yang juga digunakan pada jaringan minyak dan gas. 

Setiap bagian pipa dapat memiliki panjang sekitar 12 hingga 18 meter. Ukuran tersebut digunakan untuk mengurangi jumlah sambungan yang dibutuhkan sepanjang jalur distribusi.

Pipa tersebut dilengkapi penyaring untuk mencegah ikan, kepiting, ubur-ubur dan biota laut lainnya masuk ke dalam sistem. 

Menyaring Air Laut

Setelah tiba di fasilitas desalinasi, air laut melewati sejumlah tahapan penyaringan. Pertama, air dialirkan melalui penyaring pasir gravitasi. Bahan kimia seperti ferric chloride dan sodium hypochlorite digunakan untuk membantu kotoran menggumpal sehingga lebih mudah dipisahkan.

Air kemudian melewati cartridge filter sangat halus yang mampu menangkap partikel berukuran sekitar 1 hingga 5 mikron. 

Namun, air yang terlalu murni juga memiliki persoalan tersendiri. Kandungan mineralnya sangat sedikit sehingga rasanya bisa menjadi hambar. Oleh karenanya, mineral penting seperti kalsium dan magnesium kembali ditambahkan. Tingkat keasaman atau pH air juga disesuaikan agar aman sekaligus nyaman dikonsumsi.

Solusi Mahal demi Air Bersih

Infrastruktur tersebut membutuhkan biaya yang sangat besar. Pembangunan jaringan pipa dapat menelan biaya jutaan dolar AS untuk setiap kilometer, sedangkan pembangunan fasilitas desalinasi skala besar membutuhkan investasi hingga ratusan juta dolar.

Biaya untuk menghasilkan satu meter kubik air juga dapat mencapai beberapa dolar AS, tergantung teknologi yang digunakan, harga energi, serta efisiensi fasilitas. Meski mahal, bagi Arab Saudi persoalannya bukan sekadar hitung-hitungan biaya.

Di negara dengan sumber air tawar alami yang sangat terbatas, sementara puluhan juta penduduk membutuhkan pasokan air setiap hari, desalinasi telah menjadi bagian penting dari infrastruktur nasional.


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:

Video: PBSI Bidik 1 Emas di Asian Games 2026