Jangan Panik Saat Gunung Meletus, Lakukan 7 Langkah Penyelamatan Ini

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Senin, 07/09/2026 12:30 WIB
Foto: Gunung berapi Gunung Anak Krakatau memuntahkan lahar panas terlihat dari desa Pasauran di Serang, provinsi Banten, Indonesia, 5 September 2026. (REUTERS/Rikardo)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Erupsi gunung api dapat memunculkan berbagai ancaman, mulai dari aliran lava, awan panas, lahar, gas beracun hingga hujan abu. Masyarakat yang berada di sekitar wilayah terdampak perlu mengikuti arahan pemerintah dan petugas setempat untuk mengurangi risiko cedera maupun kematian.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut, mengikuti instruksi otoritas lokal merupakan langkah terpenting untuk melindungi diri dan keluarga saat gunung api meletus. Petugas berwenang akan memberikan informasi terkait persiapan menghadapi erupsi, termasuk perintah untuk mengungsi atau berlindung di tempat yang aman.

Berikut panduan keselamatan selama erupsi gunung api melansir CDC, Senin (7/9/2026).


1. Segera mengungsi jika diperintahkan

Masyarakat harus segera meninggalkan lokasi apabila aliran lava, lahar, atau awan panas bergerak menuju tempat mereka berada. Jika pemerintah mengeluarkan peringatan evakuasi karena erupsi diperkirakan segera terjadi, jangan menunda untuk mengungsi.

Jika memungkinkan, gunakan kendaraan daripada berjalan kaki. Tutup seluruh pintu dan jendela mobil selama perjalanan.

Arahkan kendaraan melintasi jalur bahaya jika kondisi memungkinkan. Jika tidak, bergeraklah menjauhi sumber ancaman. Pengemudi juga perlu mewaspadai bahaya tidak biasa di jalan, termasuk material vulkanik maupun kerusakan akibat erupsi.

2. Berlindung di dalam bangunan

Apabila tidak diminta mengungsi, masyarakat disarankan tetap berada di dalam rumah. Tutup seluruh pintu, jendela, serta saluran pada perapian atau tungku untuk mencegah abu dan gas masuk.

Matikan kipas angin, pemanas, pendingin udara, serta sistem lain yang dapat menarik udara dari luar. Hewan peliharaan dan ternak juga perlu dimasukkan ke tempat perlindungan tertutup.

Jika sedang berada di luar rumah, segera cari bangunan untuk berlindung. Sementara itu, orang yang terjebak dalam guguran batu disarankan meringkuk seperti bola sambil melindungi bagian kepala.

3. Menjauh dari sungai dan dataran rendah

Masyarakat yang berada di dekat sungai atau aliran air perlu mewaspadai kenaikan permukaan air dan kemungkinan munculnya lahar di wilayah rendah.

Segera bergerak menuju tempat yang lebih tinggi apabila melihat permukaan air meningkat atau muncul tanda-tanda aliran lumpur vulkanik.

4. Segera tangani luka bakar

Korban yang mengalami luka bakar harus segera memperoleh pertolongan medis. CDC mengingatkan bahwa penanganan cepat dapat menyelamatkan nyawa.

Jika mata, hidung, atau tenggorokan mengalami iritasi akibat gas dan asap vulkanik, segera menjauh dari wilayah tersebut. Gejala biasanya akan mereda setelah paparan berhenti. Namun, apabila keluhan tetap berlanjut, korban disarankan berkonsultasi dengan tenaga medis.

5. Lindungi tubuh dari abu vulkanik

Abu vulkanik dapat membahayakan kesehatan, khususnya fungsi pernapasan. Saat hujan abu terjadi, masyarakat sebaiknya tetap berada di dalam ruangan dengan pintu dan jendela tertutup.

Jika harus keluar rumah, kenakan pakaian berlengan panjang dan celana panjang untuk melindungi kulit. Gunakan pula kacamata pelindung untuk mencegah abu masuk dan mengiritasi mata.

Masyarakat juga harus terus memantau arahan petugas jika hujan abu berlangsung lebih dari beberapa jam. Berlindung di dalam rumah terlalu lama belum tentu aman karena akumulasi abu dapat membebani dan merobohkan atap, sekaligus menyumbat saluran masuk udara.

6. Gunakan respirator N95

CDC merekomendasikan penggunaan respirator N95 yang telah disetujui National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). Masker ini perlu dipakai saat berada di luar rumah maupun ketika membersihkan abu yang masuk ke dalam bangunan.

Pengguna harus mengikuti petunjuk pemakaian agar respirator terpasang dengan benar dan memberikan perlindungan optimal. Apabila respirator N95 tidak tersedia, masker debu biasa dapat digunakan sebagai pilihan terakhir.

Namun, masyarakat sebaiknya hanya berada di luar ruangan dalam waktu singkat selama abu masih berjatuhan. Masker debu biasa tidak memberikan perlindungan sebaik respirator partikulat. Selain itu, respirator partikulat sekali pakai tidak dapat menyaring gas maupun uap beracun.

7. Hindari berkendara saat hujan abu lebat

Masyarakat disarankan tidak berkendara ketika hujan abu turun dengan lebat. Pergerakan kendaraan dapat menerbangkan kembali abu yang telah mengendap.

Abu juga dapat menyumbat mesin dan membuat kendaraan mogok. Karena itu, mesin mobil atau truk sebaiknya dimatikan jika kendaraan tidak digunakan untuk evakuasi.

Apabila terpaksa berkendara, pastikan jendela mobil tertutup. Jangan menyalakan pendingin udara karena sistem tersebut dapat menarik udara dan abu dari luar ke dalam kabin.


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pertamina Eco Runfest 2026 Bawa Inisiatif Ramah Lingkungan