Kisah Pasien Indonesia yang Berjuang Memperoleh Kesembuhan di Malaysia
Kuala Lumpur, CNBC Indonesia - Raut muka Robby Hadianto (40 tahun) memancarkan kebahagiaan. Maklum, pria asal Pekanbaru, Riau, beserta keluarga sudah boleh pulang meninggalkan Sunway Medical Centre Sunway City, Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (27/8/2026).
Selama tiga hari, sang anak berkelamin laki-laki berusia enam bulan menjalani pengobatan disertai rawat inap di Sunway Medical Centre Sunway City akibat didiagnosis menderita pertusis. Seperti dikutip dari berbagai sumber, pertusis atau batuk rejan adalah infeksi bakteri Bordetella pertussis pada saluran pernapasan dan paru-paru yang sangat menular dan ditandai dengan batuk keras terus-menerus hingga penderitanya sulit bernapas.
Saat berbincang dengan CNBC Indonesia bersama empat jurnalis asal Indonesia, Robby menceritakan kalau anaknya telah menjalani pengobatan di rumah sakit yang berada di Pekanbaru, Riau. Perinciannya rawat jalan selama dua pekan dan rawat inap selama satu pekan.
Akan tetapi, menurut Robby dan keluarga, perkembangan kesehatan anaknya tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan. Fakta tersebut yang membuatnya mencari second opinion di Malaysia.
Berbekal informasi yang diperoleh dari rekan kerjanya yang pernah berobat di Sunway Medical Centre Sunway City, Robby dibantu oleh AssistCare, perusahaan medical tourism asal Indonesia. AssistCare lantas membantu setiap tahapan pengobatan hingga pelayanan yang akan didapat selama di Sunway City.
"Waktu itu sel darah putihnya cukup tinggi (54 ribu). Jadi kami mendapat informasi (pengobatan) di Sunway sehingga akhirnya kami datang ke Sunway," kata Robby.
Ia menilai pelayanan berlangsung cepat. Ketika tiba di Sunway Medical Centre Sunway City, siang hari, sang anak telah ditangani di IGD khusus anak pada sore hari. Dokter yang menangani adalah Dokter Zehan (Spesialis Pernapasan Anak Dr. Noor Zehan).
"Anak kami ditangani dengan baik. Alhamdulillah dengan kondisi sekarang sudah turun leukositnya, hari ini sudah bisa pulang," ujar Robby.
Lebih lanjut, Robby menilai terdapat perbedaan yang nyata setelah anaknya menjalani pengobatan di Indonesia dengan Malaysia, dalam hal ini Sunway Medical Centre Sunway City. Tercatat Robby beserta keluarga menginap selama tiga hari.
"Kalau berobat di Indonesia mungkin kalau saya melihat di Sunway ini lebih ke analisisnya ya. Mereka melakukan analisis yang tepat sehingga dapat melakukan terapi yang tepat. Makanya lebih membaik hasilnya. Kami melihatnya begitu," kata Robby.
"Penanganannya cepat. Begitu kami masuk, kami sudah dijanjikan masuk emergency, langsung ditangani, sesudah itu langsung dikasih kamar karena sudah dipersiapkan dari awal oleh AssistCare," lanjutnya menjelaskan.
Menurut dia, dari sisi peralatan, RS di Indonesia tidak kalah dengan RS di Malaysia. Namun, ada perbedaan dari sisi analisis dokter terhadap kondisi sang anak.
"Karena (anak) kami juga dirawat di Indonesia sudah satu minggu lebih. Jadi karena leukosit itu tidak turun, kami oleh AssistCare dibantu ke Sunway. Alhamdulillah dapat penanganan yang tepat," kata Robby.
Dalam kesempatan itu, Robby juga mengapresiasi pelayanan Sunway Medical Centre Sunway City. Selain dari sisi pelayanan kesehatan, fasilitas yang tersedia juga nyaman mulai dari kamar pasien hingga kamar pendamping.
"Untuk pendamping juga diberi makanan, tidak hanya pasien. Jadi kami tidak repot-repot harus mencari sendiri," ujar Robby.
CEO Sunway Medical Centre Sunway City Erica Lam mengatakan, pasien asal Indonesia, sebagaimana pasien internasional lainnya, menginginkan pelayanan yang terbaik. Sebagai RS swasta terbesar di Malaysia, Sunway Medical Centre Sunway City banyak berinvestasi dalam pelayanan subspesialis, di mana ada lebih dari 80 subspesialis.
Menurut Erica, pasien asal Indonesia yang datang ke Malaysia menginginkan untuk memperoleh pelayanan dengan teknologi terbaru di sektor kesehatan yang belum tersedia di Indonesia. Sebagai contoh Sunway Medical Centre Sunway City bisa menangani kanker yang diderita anak, sesuatu yang belum dimiliki RS lain di Malaysia.
"Intinya kami selalu melihat dari perspektif pasien. Karena pasien tentu tidak penting di negara manapun terkadang tidak memperoleh informasi yang tepat dan yang dibutuhkan terkait penyakit. Sebab terkadang Anda pergi ke RS terdekat dan berharap yang terbaik," kata Erica kepada wartawan di The Library Sunway Sanctuary, Sunway City, Kuala Lumpur, Jumat (28/8/2026).
(miq/miq)