Masalah Finansial yang Bikin Pernikahan Kandas, Ternyata Bukan Gaji

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Senin, 31/08/2026 08:35 WIB
Foto: Ilustrasi: Pexels/Alexander Mass

Jakarta, CNBC Indonesia - Punya pasangan dengan gaji besar mungkin menjadi impian sebagian orang, namun besarnya penghasilan ternyata bukan jaminan sebuah hubungan atau pernikahan akan berjalan langgeng.

Biro jodoh Lunch Actually menyoroti fenomena checklist fatigue, yakni kondisi ketika seseorang memiliki daftar kriteria pasangan yang terlalu banyak dan spesifik, mulai dari tinggi badan, profesi, jabatan hingga besarnya penghasilan menjadi pertimbangan dalam mencari pasangan.

CEO dan Co-Founder Lunch Actually Violet Lim mengatakan, keinginan memiliki pasangan yang mapan secara finansial sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Namun, kata ia, kecocokan dalam mengelola keuangan justru lebih penting dibandingkan nominal gaji.

Hal ini menjadi relevan di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 438.168 kasus perceraian sepanjang 2025. Perselisihan dan pertengkaran menjadi penyebab terbesar, sementara faktor ekonomi berada di posisi kedua dengan 105.727 kasus atau hampir seperempat dari total perceraian nasional.

"Angka itu terjadi bukan hanya soal kekurangan uang," kata Violet dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (31/8/2026).

"Ini terjadi karena pasangan yang dari awal tidak sejalan dalam pengaturan uang, sehingga mereka tertekan. Penghasilan besar tidak menyelesaikan masalah tersebut. Percakapan atau persetujuan di awal adalah solusi untuk mencegah hal itu terjadi," lanjutnya.

Riset mengenai pernikahan jangka panjang menunjukkan konflik finansial menjadi salah satu persoalan serius dalam rumah tangga. Studi Jeffrey Dew dan Sonya Britt terhadap lebih dari 4.500 pasangan menemukan perselisihan mengenai uang menjadi prediktor perceraian yang kuat, bahkan dibandingkan pertengkaran mengenai anak, mertua, maupun urusan rumah tangga.

Menurut Lunch Actually, penghasilan besar pada dasarnya hanyalah angka, sedangkan kecocokan finansial berkaitan dengan perilaku. Dua orang dengan penghasilan tinggi masih bisa terus bertengkar apabila memiliki pandangan berbeda mengenai menabung, belanja dan gaya hidup.

Sebaliknya, pasangan dengan pendapatan lebih rendah tetapi memiliki cara pandang serupa mengenai keuangan bisa menghadapi lebih sedikit konflik finansial.

"Yang harus ditanyakan bukan 'berapa penghasilannya?'. Tapi lebih ke 'uangnya dipakai untuk apa, dan apakah itu sesuai dengan cara saya mengatur uang?'" ujar Violet.

Survei Tahunan Lunch Actually 2024 terhadap lebih dari 350 lajang di Singapura juga menunjukkan finansial tetap menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih pasangan. Sebanyak 57% perempuan tidak ingin menjalin hubungan dengan pria yang memiliki pendapatan lebih rendah, sedangkan 43% terbuka terhadap kemungkinan tersebut.

Di sisi lain, sebanyak 93% pria mengaku tidak keberatan berhubungan dengan perempuan yang berpenghasilan lebih tinggi. Survei tersebut juga menemukan 88% responden pernah berhenti menggunakan aplikasi kencan dan 63% menyebut kesulitan menemukan seseorang yang tulus sebagai alasan utamanya.

Waspada 'Checklist Fatigue' Saat Cari Pasangan

Lunch Actually juga memperingatkan fenomena checklist fatigue. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kelelahan yang muncul ketika seseorang memiliki terlalu banyak kriteria pasangan yang tidak bisa ditawar.

Seseorang, misalnya, bisa mempunyai 10 hingga 20 kriteria pasangan. Standar yang sangat spesifik tersebut membuat pilihan semakin sempit dan pencarian pasangan berpotensi berakhir menjadi proses panjang yang melelahkan secara emosional.

Fenomena kelelahan dalam mencari pasangan juga terlihat dalam survei OnePoll untuk Forbes Health pada 2024 terhadap 1.000 pengguna aplikasi kencan. Sebanyak 78% responden mengaku mengalami dating app burnout. Angkanya mencapai 79% pada Gen Z dan 80% pada perempuan.

"Semakin banyak pilihan ternyata tidak mempermudah. Yang ada malah menjadi kelelahan," kata Violet.

Ia bilang, mencari pasangan sebaiknya tidak hanya berfokus pada kriteria seperti tinggi badan, pekerjaan atau jabatan. Nilai hidup, cara menghadapi konflik, tanggung jawab hingga pandangan terhadap masa depan justru menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan untuk hubungan jangka panjang.

Begitu pula dalam persoalan finansial. Alih-alih hanya melihat besarnya gaji, seseorang dapat memperhatikan bagaimana calon pasangan mengelola uang, tujuan menabung, kebiasaan membelanjakan uang hingga tanggung jawab finansial terhadap keluarga.

Kehadiran secara emosional juga dinilai lebih penting dibandingkan status pekerjaan. Konsistensi, kehadiran dan kontribusi pasangan disebut lebih relevan untuk membangun kebahagiaan dalam hubungan daripada sekadar memiliki profil atau karier yang terlihat menarik.

"Tidak ada yang salah dengan menginginkan pasangan yang bekerja di bidang finansial. Tapi kalau itu yang kamu inginkan, kamu juga perlu paham konsekuensinya," kata Violet.

"Pernikahan yang baik terdiri dari dua orang yang saling menghargai, menginginkan kehidupan yang sama, dan tetap memilih satu sama lain kapanpun. Tidak ada jabatan pekerjaan yang pernah bisa menjamin itu," tuturnya.



(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pertamina Eco Runfest 2026 Bawa Inisiatif Ramah Lingkungan