Bos OnlyFans Dapat Rp12,5 Triliun sebelum Meninggal Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Mendiang pemilik platform OnlyFans, Leonid Radvinsky, menerima pembayaran dividen lebih dari US$700 juta atau Rp12,5 Triliun (kurs 1USD = Rp17.702) sebelum meninggal dunia akibat kanker pada awal tahun ini.
Radvinsky meninggal dunia pada 23 Maret 2026 dalam usia 43 tahun. Pengusaha kelahiran Ukraina yang dibesarkan di Amerika Serikat (AS) itu telah menguasai OnlyFans sejak membeli platform tersebut dari pendirinya di Inggris pada 2018.
Laporan tahunan Fenix International Ltd, perusahaan Inggris yang menaungi OnlyFans, menunjukkan perusahaan membukukan laba sebelum pajak sebesar US$714 juta atau sekitar Rp12,64 triliun pada tahun lalu. Angka tersebut meningkat 5% dibandingkan 2024.
Perusahaan membayarkan dividen sebesar US$535 juta atau sekitar Rp8,83 triliun untuk tahun buku yang berakhir pada 30 November 2025. Setelah periode tersebut hingga 26 Maret 2026, perusahaan kembali membayarkan dividen dengan total US$174 juta atau sekitar Rp2,87 triliun.
Dengan demikian, total pembayaran dividen tersebut mencapai sekitar US$709 juta atau setara Rp11,7 triliun. Setelah Radvinsky meninggal dunia, kepemilikan perusahaan beralih kepada istrinya, Yekaterina "Katie" Chudnovsky.
Besarnya keuntungan OnlyFans terbilang mencolok jika dibandingkan dengan jumlah pegawainya. Fenix International hanya mempekerjakan 47 orang.
Sebagai perbandingan, raksasa ritel Inggris Marks & Spencer yang memiliki lebih dari 65.000 pegawai membukukan laba sekitar 671 juta pound sterling pada tahun lalu.
OnlyFans sendiri mengalami lonjakan popularitas selama pandemi Covid-19. Pertumbuhan tersebut bahkan mengantarkan Radvinsky masuk dalam daftar miliarder tahunan Forbes hanya tiga tahun kemudian.
Platform ini menyediakan berbagai konten berbasis langganan, mulai dari memasak hingga kebugaran. Namun, OnlyFans lebih dikenal sebagai platform konten dewasa dan dianggap turut mengubah industri tersebut dengan memungkinkan interaksi langsung antara kreator dan pelanggan.
Kreator dapat berhubungan dengan penggemar melalui siaran langsung, pesan personal, hingga permintaan khusus untuk membuat foto dan video tertentu. Dari setiap pembayaran yang dilakukan pengguna, OnlyFans mengambil komisi sebesar 20%.
Sepanjang 2025, OnlyFans tercatat memiliki 132 juta pelanggan berbayar dan 2,5 juta kreator aktif.
CEO OnlyFans Keily Blair mengatakan perusahaan telah membayarkan lebih dari US$30 miliar atau sekitar Rp495 triliun kepada para kreator sejak platform tersebut diluncurkan satu dekade lalu.
"OnlyFans memberikan peluang nyata kepada orang-orang dengan menciptakan ruang yang aman dan teregulasi, tempat mereka dapat memonetisasi konten kepada basis penggemar global," kata Blair, dikutip dari BBC International, Rabu (26/8/2026).
Menurut Blair, perusahaan yang berbasis di Inggris tersebut juga telah memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian negara itu. OnlyFans disebut telah membayar lebih dari 600 juta pound sterling dalam bentuk pajak perusahaan sejak 2016.
Di balik pertumbuhannya, OnlyFans juga menghadapi sorotan regulator terkait konten dewasa. Dokumenter BBC Three sebelumnya mengungkap tuduhan eksploitasi, pemaksaan, dan kekerasan terhadap sejumlah kreator di platform tersebut.
Pada 2024, regulator Inggris juga menyelidiki kemungkinan anak-anak dapat mengakses konten pornografi di OnlyFans. Perusahaan saat itu menyebut persoalan tersebut berkaitan dengan masalah teknis.
Regulator komunikasi Inggris, Ofcom, pada akhirnya menghentikan penyelidikan tersebut. Namun, OnlyFans tetap dijatuhi denda sekitar 1 juta pound sterling karena dinilai gagal memberikan informasi yang akurat mengenai mekanisme pemeriksaan usia pengguna. Secara aturan, pengguna OnlyFans harus berusia minimal 18 tahun.
(hsy/hsy)