Kenapa Saat Cemas GERD Bisa Kambuh? Ini Penjelasannya

Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
Senin, 24/08/2026 17:05 WIB
Foto: Ilustrasi GERD. (Dokumentasi Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penyakit refluks gastroesofageal (GERD) dan kecemasan merupakan dua kondisi yang berbeda, tetapi penelitian menunjukkan adanya hubungan di antara keduanya. Keduanya bahkan dapat menimbulkan sejumlah gejala yang serupa sehingga terkadang sulit dibedakan.

Melansir Healthline, Senin (24/8/2026), GERD merupakan kondisi kronis ketika asam lambung atau isi lambung naik kembali ke kerongkongan. Refluks asam sesekali dapat terjadi pada siapa saja, tetapi refluks yang berulang dan menimbulkan gejala dapat menjadi tanda GERD.

Sementara itu, kecemasan merupakan respons alami tubuh terhadap stres. Namun, rasa cemas yang berat atau berlangsung dalam waktu lama hingga mengganggu aktivitas sehari-hari dapat mengarah pada gangguan kecemasan.


GERD dan kecemasan saling berkaitan
Belum diketahui secara pasti apakah GERD secara langsung menyebabkan kecemasan atau sebaliknya. Meski demikian, sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara kedua kondisi tersebut.

Sebuah penelitian pada 2019 menemukan bahwa penderita GERD memiliki gejala kecemasan dan depresi yang lebih tinggi, terutama pada mereka yang mengalami nyeri dada. Kondisi ini dapat menjadi tantangan karena nyeri dada akibat GERD maupun kecemasan dapat terasa mirip dengan gejala serangan jantung.

Penelitian lain pada 2018 menunjukkan bahwa orang dengan gangguan kecemasan mungkin lebih rentan mengalami GERD. Salah satu dugaan mekanismenya adalah kecemasan dapat memengaruhi fungsi sfingter esofagus bagian bawah, meningkatkan ketegangan otot, serta berpotensi memengaruhi produksi asam lambung.

Menariknya, penelitian tersebut juga menemukan bahwa penderita kecemasan dapat merasakan gejala refluks lebih berat meskipun tingkat refluks asam yang dialami tidak berbeda secara signifikan dari orang tanpa kecemasan.

Gejalanya bisa sulit dibedakan
GERD dan kecemasan memiliki sejumlah gejala yang dapat tumpang tindih, antara lain:
- nyeri dada
- sensasi terbakar di dada atau heartburn;
- mual
- nyeri perut
- sensasi mengganjal di tenggorokan atau globus
- suara serak dan batuk kronis
- gangguan tidur atau insomnia

Di sisi lain, masing-masing kondisi memiliki gejala yang lebih khas. GERD dapat menyebabkan kesulitan menelan atau disfagia serta regurgitasi, yaitu naiknya kembali cairan asam atau makanan ke mulut. Kecemasan lebih sering dikaitkan dengan gejala seperti jantung berdebar, napas cepat atau hiperventilasi, rasa gelisah, dan perasaan seolah sesuatu yang buruk akan terjadi.

Kemiripan tersebut membuat diagnosis yang tepat menjadi penting. Gejala yang menetap atau mengganggu aktivitas sebaiknya diperiksakan kepada tenaga kesehatan.

Bagaimana cara menangani GERD dan kecemasan?
Penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Untuk GERD, dokter dapat mempertimbangkan obat seperti penghambat pompa proton (PPI), penghambat reseptor H2, atau antasida.

Sementara itu, gangguan kecemasan dapat ditangani dengan obat tertentu, termasuk selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) dan serotonin-norepinephrine reuptake inhibitors (SNRI), serta psikoterapi seperti terapi perilaku kognitif (CBT).

Penelitian mengenai penanganan kedua kondisi secara bersamaan masih terbatas. Salah satu penelitian pada 2017 terhadap 96 orang dengan GERD dan kecemasan melaporkan bahwa kombinasi pantoprazole untuk GERD dan amitriptilin memberikan penurunan gejala kedua kondisi setelah empat minggu pengobatan. Namun, pemilihan obat tetap harus dilakukan berdasarkan evaluasi dan anjuran dokter.

Stres juga dapat memengaruhi gejala refluks
Stres dan kecemasan bukanlah hal yang sepenuhnya sama. Stres merupakan respons terhadap pemicu tertentu, sedangkan kecemasan lebih berkaitan dengan rasa khawatir atau gelisah yang dapat berlangsung lebih lama dan terkadang muncul tanpa pemicu yang jelas.

Meski demikian, stres dapat berperan dalam muncul atau memburuknya gejala refluks. Penelitian pada 2023 menemukan bahwa orang dengan tingkat stres sedang hingga tinggi memiliki kemungkinan hampir dua kali lipat mengalami gejala refluks asam dibandingkan mereka yang memiliki tingkat stres rendah.

Hubungan antara kondisi psikologis dan sistem pencernaan juga menjadi perhatian dalam penelitian. Kecemasan diketahui dapat berkaitan dengan berbagai keluhan saluran pencernaan, termasuk gangguan pencernaan atau dispepsia, meskipun mekanisme hubungan tersebut masih terus diteliti.

Kesimpulan
GERD dan kecemasan bukanlah kondisi yang sama, tetapi keduanya dapat saling berkaitan dan memiliki gejala yang tumpang tindih. GERD dapat memengaruhi kualitas hidup dan memperburuk kecemasan, sementara kecemasan dan stres berpotensi membuat gejala refluks terasa lebih berat.

Karena gejala seperti nyeri dada dapat memiliki berbagai penyebab, jangan langsung menganggapnya sebagai GERD atau kecemasan. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya, terutama jika nyeri dada terasa berat, baru muncul, atau disertai gejala yang mengkhawatirkan.


(miq/miq)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Medical Tourism,Klinik Kecantikan Kelas Dunia Investasi di Bali