5 Bahaya & Kerugian Pakai Air Fryer untuk Memasak

Thea Arbar, CNBC Indonesia
Minggu, 23/08/2026 09:30 WIB
Foto: Ilustrasi air fryer. (Istimewa)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Air fryer kini menjadi salah satu perangkat dapur populer karena mampu menghasilkan makanan renyah dengan sedikit atau tanpa minyak. Namun, di balik kepraktisannya, alat ini memiliki sejumlah risiko yang perlu diperhatikan saat digunakan.

Survei CNET pada awal 2026 menunjukkan hampir tiga perempat orang dewasa di Amerika Serikat memiliki air fryer atau berencana membelinya dalam setahun. Perangkat ini pada dasarnya merupakan oven konveksi berdaya tinggi yang menggunakan kipas untuk mengalirkan udara panas dengan cepat di sekitar makanan.


Meski relatif lebih hemat energi dibandingkan oven pemanggang, air fryer bukan berarti tanpa kekurangan. Berikut lima risiko yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan perangkat tersebut, seperti dikutip Mashed, Minggu (23/8/2026).

1. Potensi paparan plastik dan PFAS

Keranjang air fryer umumnya menggunakan logam dengan lapisan antilengket. Beberapa lapisan dapat mengandung PFAS atau per- and polyfluoroalkyl substances, yang kerap disebut sebagai bahan kimia abadi (forever chemicals). Paparan suhu tinggi dan kerusakan lapisan dapat meningkatkan kekhawatiran mengenai perpindahan bahan dari permukaan alat ke makanan.

Komponen plastik juga perlu diperhatikan, terutama jika mengalami kerusakan akibat panas. Karena itu, pengguna sebaiknya segera mengganti keranjang atau bagian yang lapisannya mulai mengelupas. Pilihan lain adalah menggunakan air fryer dengan keranjang berbahan kaca atau material yang tidak menggunakan lapisan PFAS.

2. Risiko luka bakar cukup tinggi

Suhu pada bagian tertentu air fryer, seperti keranjang dan ventilasi udara, dapat mencapai lebih dari 500 derajat Fahrenheit atau sekitar 260 derajat Celsius. Bagian tersebut bahkan dapat tetap panas setelah proses memasak selesai sehingga berisiko menyebabkan luka bakar jika disentuh langsung.

Pengguna disarankan selalu memegang keranjang melalui gagangnya dan menggunakan peralatan dapur untuk mengambil makanan. Wadah tambahan seperti loyang atau mangkuk kaca tahan panas juga dapat menjadi sangat panas karena posisinya dekat dengan sumber panas.

3. Masak ikan dengan air fryer picu oksidasi kolesterol

Air fryer umumnya dianggap sebagai alternatif yang lebih sehat dibandingkan menggoreng menggunakan banyak minyak. Namun, sebuah studi yang diterbitkan Journal of Food Science pada 2017 menemukan bahwa memasak ikan menggunakan air fryer dapat menurunkan kandungan asam lemak tak jenuh ganda sekaligus meningkatkan produk oksidasi kolesterol atau cholesterol oxidation products (COP).

Senyawa COP tersebut telah dikaitkan dengan penyakit jantung kronis dan sejumlah kondisi kesehatan lainnya. Temuan ini berkaitan dengan proses oksidasi yang terjadi ketika makanan berkolesterol terpapar suhu tinggi.

4. Kapasitas memasak terbatas

Ukuran keranjang menjadi kelemahan lain dari air fryer. Ruang memasak yang relatif kecil membuat pengguna tidak bisa memasukkan makanan dalam jumlah besar sekaligus tanpa mengurangi sirkulasi udara panas.

Akibatnya, makanan dalam jumlah banyak mungkin harus dimasak secara bertahap. Memaksakan keranjang terlalu penuh juga dapat membuat hasil masakan tidak merata dan mengurangi tekstur renyah yang menjadi keunggulan air fryer.

Sirkulasi udara panas dengan kecepatan tinggi memang membuat makanan cepat matang dan renyah. Namun, metode tersebut juga berpotensi membuat makanan kehilangan terlalu banyak kelembaban, terutama jika dimasak terlalu lama atau pada suhu terlalu tinggi.

Karena itu, pengguna perlu menyesuaikan suhu dan durasi memasak dengan jenis makanan. Dengan penggunaan yang tepat, sebagian besar risiko tersebut dapat diminimalkan tanpa harus mengorbankan kepraktisan air fryer.


(tfa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Medical Tourism,Klinik Kecantikan Kelas Dunia Investasi di Bali