6 Makanan Paling Cepat Picu Kanker, Sudah Terbukti Ilmiah

Linda Hasibuan,  CNBC Indonesia
21 August 2026 11:50
Penjual gorengan (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Penjual gorengan (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Pola makan sehari-hari menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi kesehatan dalam jangka panjang, termasuk risiko sejumlah penyakit kronis. Di tengah maraknya informasi kesehatan di media sosial, ahli gastroenterolog Dr. Saurabh Sethi membahas sejumlah jenis makanan dan minuman yang perlu dibatasi sebagai bagian dari upaya pencegahan kanker.

Dr. Sethi merupakan dokter yang dikenal aktif membagikan informasi kesehatan melalui media sosial. Salah satu kontennya mengenai pola makan untuk mendukung pencegahan kanker menekankan pentingnya memperbanyak buah, sayuran, biji-bijian utuh dan pangan nabati, sekaligus membatasi sejumlah makanan yang dikaitkan dengan risiko kesehatan.

Berikut enam kelompok makanan dan minuman yang memicu kanker, mengutip Times of India.

1. Daging olahan tingkat tinggi

Sosis, ham, kornet, bacon, hot dog, nugget, dan produk daging yang diasinkan, diasap atau diawetkan termasuk dalam kategori daging olahan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) mengklasifikasikan daging olahan sebagai karsinogen Grup 1, berdasarkan bukti yang cukup bahwa konsumsi daging olahan dapat menyebabkan kanker pada manusia. Hubungan yang paling kuat ditemukan dengan kanker kolorektal.

WHO juga mencatat bahwa dalam analisis yang ditinjau IARC, konsumsi 50 gram daging olahan setiap hari dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal sekitar 18 persen. Klasifikasi Grup 1 menunjukkan kekuatan bukti bahwa suatu paparan dapat menyebabkan kanker, bukan berarti tingkat bahayanya sama dengan rokok atau asbes.

Sebagai pilihan sehari-hari, konsumsi daging olahan dapat dikurangi dan digantikan dengan ikan, ayam yang dimasak sendiri, telur, kacang-kacangan atau lentil.

2. Minuman berpemanis

Minuman bersoda, teh kemasan, minuman berperisa dan berbagai minuman dengan tambahan gula dapat meningkatkan asupan kalori tanpa memberikan banyak zat gizi.

Konsumsi minuman berpemanis tidak dapat disebut sebagai penyebab langsung kanker. Namun, konsumsi berlebihan dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan obesitas, sementara kelebihan berat badan dan obesitas merupakan faktor risiko sejumlah kanker.

Karena itu, air putih tetap menjadi pilihan utama untuk hidrasi. Teh tanpa gula atau minuman lain tanpa tambahan gula juga dapat menjadi alternatif.

3. Makanan yang digoreng

Kentang goreng, keripik dan berbagai makanan yang dimasak dengan suhu tinggi dapat menghasilkan akrilamida, terutama ketika makanan kaya karbohidrat mengalami proses pemanasan hingga berwarna kecokelatan.

National Cancer Institute (NCI) menjelaskan bahwa akrilamida dapat terbentuk ketika makanan tertentu, termasuk kentang, dipanaskan pada suhu tinggi. Pada penelitian terhadap hewan, paparan akrilamida dapat meningkatkan risiko kanker. Namun, studi epidemiologi pada manusia belum menunjukkan bukti yang konsisten bahwa akrilamida dari makanan menyebabkan kanker.

Karena itu, klaim bahwa semua makanan yang digoreng secara otomatis meningkatkan risiko kanker perlu dihindari. Meski demikian, membatasi makanan yang digoreng dan memilih metode memasak seperti mengukus, merebus atau memanggang tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat.

4. Daging yang hangus atau terbakar

Memasak daging dengan suhu tinggi, terutama hingga gosong, dapat menghasilkan senyawa seperti heterocyclic amines (HCA) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH).

NCI menyebutkan bahwa sejumlah penelitian epidemiologi menemukan hubungan antara konsumsi daging yang dimasak matang sekali, digoreng atau dipanggang dengan risiko beberapa jenis kanker. Namun, bukti tersebut tidak selalu konsisten dan belum memungkinkan kesimpulan bahwa HCA atau PAH dalam daging secara langsung menyebabkan kanker pada manusia.

Untuk mengurangi pembentukan senyawa tersebut, daging sebaiknya tidak dimasak sampai gosong. Bagian yang hangus dapat dibuang dan metode memasak dengan suhu lebih rendah dapat lebih sering digunakan.

5. Alkohol

Berbeda dengan beberapa klaim mengenai makanan lain, hubungan antara konsumsi alkohol dan kanker telah memiliki dasar ilmiah yang kuat.

WHO menyatakan bahwa alkohol merupakan karsinogen yang telah terbukti dan berkaitan dengan sejumlah kanker, termasuk kanker payudara, hati, kolorektal serta kanker pada rongga mulut, tenggorokan dan kerongkongan.

IARC juga menyebutkan bahwa alkohol berperan dalam proses yang dapat meningkatkan risiko kanker, antara lain melalui kerusakan DNA, stres oksidatif dan perubahan hormonal.

Karena itu, anggapan bahwa minum alkohol dalam jumlah tertentu pasti memberikan manfaat bagi pencegahan kanker tidak tepat. Mengurangi konsumsi atau tidak mengonsumsi alkohol merupakan salah satu langkah yang dapat menurunkan risiko kanker terkait alkohol.

6. Makanan ultra-proses

Mi instan, makanan ringan kemasan, daging olahan, makanan siap santap dan berbagai produk dengan formulasi industri termasuk kelompok makanan yang sering dikategorikan sebagai ultra-proses.

Hubungan antara makanan ultra-proses dan kanker masih terus diteliti. Karena kelompok ini sangat beragam, tidak tepat menyebut setiap produk ultra-proses sebagai penyebab langsung kanker. Namun, pola makan yang tinggi makanan ultra-proses sering berjalan bersama rendahnya konsumsi makanan utuh dan dapat berkontribusi terhadap kelebihan energi, obesitas serta kualitas pola makan yang kurang baik.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article 5 Makanan Paling Disukai Sel Kanker, Warga RI Banyak yang Doyan


Most Popular
Features