Gereja Berusia 1.700 Tahun Ditemukan di Bawah Danau, di Sini Lokasinya
Jakarta, CNBC Indonesia - Para arkeolog menemukan sisa-sisa gereja kuno berusia sekitar 1.700 tahun di bawah Danau İznik, Turki. Temuan tersebut diduga berkaitan dengan Konsili Nicea Pertama, salah satu pertemuan paling penting dalam sejarah Kekristenan.
Namun, dugaan gereja tersebut menjadi lokasi berlangsungnya Konsili Nicea, atau konsili para uskup sedunia, pada 325 Masehi masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi.
Melansir Live Science, Selasa (18/8/2026), Nicaea merupakan kota Yunani kuno yang terletak di wilayah Turki modern, tepatnya di tepi Danau İznik yang juga dikenal sebagai Danau Nicaea. Konsili Nicea Pertama digelar pada 325 Masehi dan mempertemukan para uskup Kristen untuk menyelesaikan sejumlah perbedaan teologis.
Pertemuan tersebut kemudian menghasilkan Kredo Nicea (Nicene Creed), salah satu rumusan utama keyakinan Kristen. Pada masa itu, Kekaisaran Romawi berada di bawah pemerintahan Kaisar Konstantinus I, yang hidup sekitar 272 hingga 337 Masehi. Konstantinus telah melegalkan Kekristenan dan menurut sumber sejarah, memainkan peran penting dalam penyelenggaraan konsili tersebut.
Ada Gereja Lebih Tua di Bawah Basilika
Sisa sebuah gereja berukuran besar pertama kali ditemukan para arkeolog di bawah Danau İznik pada 2014. Sejak penggalian dimulai pada 2015, tim peneliti secara bertahap menemukan sisa bangunan gereja lain yang lebih kecil tepat di bawahnya.
Mustafa Şahin, profesor arkeologi dari Bursa Uludağ University yang memimpin penggalian, mengatakan tim menemukan lantai batu dari gereja kecil tersebut sekitar 30 sentimeter di bawah basilica. Posisi itu menunjukkan gereja kecil kemungkinan dibangun lebih dahulu dibandingkan basilika yang berada di atasnya.
Şahin bilang, temuan tersebut menarik karena salah satu peserta Konsili Nicea, Eusebius dari Caesarea, menyebut pertemuan berlangsung di sebuah "rumah doa" atau gereja kecil. Karakteristik itu dinilai lebih sesuai dengan bangunan kecil yang baru ditemukan dibandingkan basilika besar di atasnya.
Tim arkeolog sejauh ini belum dapat menentukan ukuran pasti gereja kecil tersebut. Namun berdasarkan catatan sejarah, Şahin menduga bangunan itu mungkin merupakan Gereja Neophytos, sedangkan basilika besar yang kemudian dibangun di atasnya kemungkinan adalah Church of Holy Fathers.
Neophytos merupakan seorang Kristen yang hidup di Nicaea dan dibunuh pada 303 Masehi. Sementara Church of Holy Fathers disebut dibangun untuk mengenang Konsili Nicea.
Berdasarkan kombinasi catatan sejarah dan peninggalan arkeologi, gereja kecil itu diperkirakan hancur akibat gempa bumi pada 368 Masehi. Gereja yang lebih besar kemudian dibangun di lokasi tersebut sekitar 380 Masehi.
Sejauh ini, arkeolog belum menemukan dinding maupun dekorasi dari gereja kecil tersebut. Bahan utama bangunan juga belum dapat dipastikan karena hanya fondasi lantai batu yang masih bertahan.
Şahin menduga sebagian besar struktur gereja kemungkinan terbuat dari kayu.
Benarkah Lokasi Konsili Nicea?
Meski demikian, sejumlah ahli yang tidak terlibat dalam penggalian meminta agar temuan tersebut tidak buru-buru disebut sebagai lokasi Konsili Nicea.
Mereka menilai belum ada kepastian bahwa para uskup menggelar pertemuan di gereja tersebut. Bahkan jika gereja itu sempat digunakan, pertemuan paling penting kemungkinan berlangsung di istana kekaisaran milik Konstantinus.
Persoalannya, hingga kini lokasi istana kekaisaran tersebut belum ditemukan. Ada kemungkinan bangunannya juga berada di bawah Danau İznik.
Profesor klasik University of Illinois Chicago Young Richard Kim mengatakan usia gereja kecil tersebut juga belum dapat dipastikan secara meyakinkan. Ia menunjukkan bahwa Eusebius dari Caesarea menyebut sesi pembukaan konsili berlangsung di "istana kekaisaran". Konsili juga berjalan selama sekitar tiga bulan.
Karena itu, menurut Kim, belum dapat dipastikan apakah gereja yang ditemukan memang menjadi salah satu lokasi pertemuan para peserta konsili.
Pandangan serupa disampaikan Charles Odahl, profesor emeritus sejarah dari Boise State University. Ia menilai Konsili Nicea berlangsung di sebuah istana kekaisaran di tepi Danau Nicaea.
"Gereja bawah air ini berada di dekatnya, tetapi bukan lokasi pertemuan konsili di bawah kaisar," kata Odahl.
Sementara itu, sejarawan Royal Holloway, University of London, David Gwynn menilai bukti bahwa gereja tersebut mungkin berasal dari awal abad ke-4 cukup menjanjikan. Artinya, bangunan tersebut berpotensi memiliki hubungan dengan Konsili Nicea.
Namun, ia mengingatkan agar arti penting bangunan fisik tersebut tidak dibesar-besarkan. Menurut Gwynn, temuan itu lebih tepat dilihat sebagai bukti yang memberikan gambaran tambahan mengenai lingkungan tempat berlangsungnya salah satu peristiwa penting dalam perkembangan Kekristenan.
Konsili Nicea sendiri merupakan pertemuan dalam skala besar. Acara tersebut berlangsung lebih dari satu bulan, melibatkan ratusan uskup dan kemungkinan sekitar 2.000 pendeta serta staf pendukung.
Meski lokasi persis pertemuan masih diperdebatkan, Gwynn menilai penggalian di Danau İznik tetap memberikan informasi baru sekaligus kembali menarik perhatian terhadap peristiwa yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan Kekristenan. Penggalian dan analisis terhadap situs tersebut hingga kini masih berlangsung.
(hsy/hsy)