Trump Pasang Badan, Sebut Piala Dunia Bakal Rugi Jika Infantino Pergi
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump membela Presiden FIFA Gianni Infantino di tengah gelombang tekanan yang mendesak pimpinan badan sepak bola dunia tersebut untuk mengundurkan diri. Tekanan ini mencuat menyusul kegagalan rencana kontroversial terkait penjualan saham Piala Dunia kepada investor swasta.
Melalui unggahan di akun Truth Social miliknya pada Senin malam, Trump memperingatkan bahwa FIFA akan melakukan kesalahan fatal jika anggotanya berupaya menggantikan Infantino. Trump mengklaim bahwa tanpa kepemimpinan Infantino, turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut tidak akan pernah lagi meraih kesuksesan atau keuntungan sebesar saat ini.
Pernyataan keras Trump muncul setelah tiga konfederasi sepak bola regional-UEFA (Eropa), CONCACAF (Amerika Utara), dan AFC (Asia)-mengeluarkan surat bersama yang mengecam keras langkah Infantino. Ketiga badan tersebut menuduh Infantino mengkhianati kepercayaan anggota "melalui tipu daya" setelah berencana membentuk anak perusahaan untuk mengelola turnamen, yang membuka peluang investor swasta membeli hingga 20% saham.
UEFA, CONCACAF, dan AFC menilai upaya penjualan hak kepemilikan Piala Dunia bukan sekadar kesalahan prosedural, melainkan pelanggaran mendasar terhadap kepercayaan institusional.
"Ketika kepercayaan dikhianati melalui tipu daya, ketika seseorang menempatkan dirinya di atas kelompok yang telah memercayakan wewenang kepadanya, maka kewajiban itu telah diabaikan," tulis federasi-federasi tersebut.
Infantino terpaksa menyampaikan permohonan maaf secara terbuka usai mendapat penolakan masif dari federasi sepak bola global. Skema ini diketahui turut didukung oleh Thrive Capital milik Joshua Kushner-saudara dari menantu Trump, Jared Kushner.
Meski mendapat penolakan keras dari Eropa, Amerika Utara, dan Asia, Infantino masih mengantongi dukungan resmi dari federasi nasional Argentina, Meksiko, dan Qatar.
Infantino sejauh ini dikenal sebagai sosok sentral di balik komersialisasi masif FIFA, yang membawa Piala Dunia tahun ini menjadi turnamen terbesar dan paling menguntungkan sepanjang sejarah. Hubungan dekatnya dengan Trump pun kerap menjadi sorotan publik selama persiapan hingga penyelenggaraan turnamen tersebut.
Namun, kegagalan manuver komersial terbarunya kini menempatkan posisinya di puncak kepemimpinan sepak bola dunia berada dalam ancaman serius, terlepas dari pembelaan yang diberikan oleh Presiden AS.
(hsy/hsy)