Ahli Temukan Silent Killer Baru, Mulai Banyak Menyerang Anak Muda
Jakarta, CNBC Indonesia - Penyakit ginjal kronis (PGK) menjadi salah satu ancaman kesehatan global yang terus membesar dan dijuluki silent killer. Kondisi ini kerap berkembang tanpa gejala jelas pada tahap awal, tetapi dapat berujung pada gagal ginjal, dialisis, hingga transplantasi.
Melansir Science Daily, analisis global yang diterbitkan pada 2025 menunjukkan jumlah penderita penyakit ginjal kronis melonjak dari sekitar 378 juta orang pada 1990 menjadi 788 juta orang pada 2023. Angka tersebut setara dengan sekitar 14% populasi dewasa dunia.
Penelitian yang melibatkan peneliti dari NYU Langone Health, University of Glasgow, dan Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) itu juga memperkirakan sekitar 1,5 juta orang meninggal akibat penyakit ginjal kronis pada 2023.
Sering Tidak Menimbulkan Gejala
Salah satu masalah terbesar penyakit ginjal kronis adalah perkembangannya yang sering tidak disadari. Pada tahap awal, seseorang dapat mengalami penurunan fungsi ginjal tanpa merasakan keluhan berarti.
Jika tidak terdeteksi dan ditangani, kerusakan ginjal dapat semakin parah hingga membutuhkan cuci darah atau transplantasi.
"Penelitian kami menunjukkan bahwa penyakit ginjal kronis adalah penyakit yang umum terjadi, mematikan, dan kian memburuk sebagai masalah kesehatan masyarakat yang utama," ujar salah satu penulis senior studi tersebut, Josef Coresh, MD, PhD, direktur Optimal Aging Institute di NYU Langone.
Para peneliti menilai penyakit ginjal kronis perlu mendapatkan perhatian yang setara dengan penyakit tidak menular utama lainnya, seperti penyakit jantung dan kanker.
Berkaitan Erat dengan Penyakit Jantung
Dampak penyakit ginjal kronis tidak hanya terbatas pada fungsi ginjal. Penurunan fungsi ginjal juga menjadi faktor risiko penting penyakit kardiovaskular. Studi tersebut memperkirakan penyakit ginjal kronis berkontribusi terhadap sekitar 12% kematian akibat penyakit kardiovaskular di seluruh dunia.
Faktor risiko utama yang ditemukan meliputi gula darah tinggi, tekanan darah tinggi, dan indeks massa tubuh (BMI) yang tinggi.
Deteksi Dini Jadi Kunci
Kabar baiknya, sebagian besar penderita dalam penelitian masih berada pada tahap awal penyakit. Kondisi ini penting karena penanganan lebih cepat dapat membantu memperlambat perkembangan kerusakan ginjal.
Perubahan gaya hidup dan pengobatan yang tepat dapat membantu menekan risiko penyakit berkembang menjadi kondisi berat yang membutuhkan dialisis atau transplantasi.
Morgan Grams, MD, PhD, salah satu penulis utama studi, menekankan pentingnya pemeriksaan untuk menemukan penyakit ginjal sejak dini.
Menurutnya, tes urine perlu lebih banyak digunakan untuk mendeteksi gangguan ginjal sebelum penyakit berkembang lebih jauh. Akses terhadap pengobatan juga perlu diperluas agar pasien yang telah terdiagnosis dapat memperoleh terapi yang dibutuhkan.
(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]