Semakin Banyak Pria Putuskan Childfree, Bukan Cuma Soal Duit

Linda Hasibuan, CNBC Indonesia
Kamis, 23/07/2026 12:35 WIB
Foto: Ilustrasi (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Keputusan untuk hidup tanpa anak (childfree) kini tidak lagi hanya didominasi perbincangan kaum perempuan. Fenomena ini kian nyata di kalangan pria, didorong oleh berbagai faktor mulai dari latar belakang keluarga, kecemasan masa depan, hingga keinginan untuk hidup bebas dari norma sosial tradisional.

Mengutip ABC News, berdasarkan data survei Household, Income and Labour Dynamics in Australia (HILDA) 2025 yang dikutip dari ABC News, persentase pria Australia yang memilih untuk tidak memiliki anak melonjak menjadi 15 persen, naik dari 11 persen pada 2005.

Bagi Ian (48), seorang pria asal Adelaide, keputusan untuk tidak memiliki anak sudah tertanam sejak ia berusia 13 tahun, momen ketika ayahnya pergi meninggalkan keluarga.


"Saya mungkin ditakdirkan untuk tidak memiliki anak karena pengalaman saya pribadi tentang laki-laki di keluarga. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan ayah saya," ujar Ian.

Sebagai seorang yang berjiwa "pengembara", Ian merasa bahwa memiliki anak akan membatasi impiannya untuk menjelajahi dunia. Keputusan ini pun semakin kuat setelah ia bertemu dengan istrinya 16 tahun lalu, yang ternyata memiliki prinsip hidup yang sama.

Dr. Imogene Smith, seorang psikolog klinis dan dosen di The Cairnmillar Institute, melakukan penelitian mendalam terhadap kelompok pria yang memilih childfree ini.

Berdasarkan studinya, ia membeberkan beberapa alasan mengapa pria di Australia enggan menjadi ayah:

Faktor Keluarga Asal

Banyak pria yang memiliki hubungan renggang dengan ayah mereka, atau tumbuh di keluarga besar dan melihat betapa beratnya beban orang tua mereka terdahulu.

Keinginan Menjadi "Alternatif"

Adanya dorongan kuat untuk tampil berbeda dan tidak mau terikat oleh norma sosial yang mewajibkan pernikahan harus diikuti dengan memiliki keturunan.

Kekhawatiran Global & Kesehatan

Banyak pria cemas terhadap isu perubahan iklim, kondisi politik yang tidak menentu, serta ketakutan mewariskan penyakit fisik atau gangguan mental bawaan kepada anak.

Masalah Finansial

Meski mayoritas responden Dr. Smith berasal dari kelas menengah dan pekerja profesional, mereka tetap merasa terbebani secara ekonomi, terutama dalam hal kemampuan membeli rumah yang layak untuk anak.

Pengaruh Lingkungan Sekitar

Mengamati realitas kehidupan teman-teman mereka yang sudah memiliki anak, termasuk hilangnya waktu intim dan kehidupan seks bersama pasangan.

"Seorang pria mengatakan sesuatu bahwa memiliki anak bisa merusak kehidupan seksnya. Dia berkata, 'Teman-teman saya yang punya dua anak, mereka berhubungan seks seperti Dora the Explorer... seberapa lama episode itu berlangsung, selama itulah mereka melakukannya," paparnya.

Tekanan Sosial: Pria Lebih "Kebal" Dibanding Wanita

Berbeda dengan perempuan yang kerap mendapat stigma negatif yang berat saat memilih childfree, pria cenderung menghadapi tekanan sosial dengan lebih santai. Dr. Smith menyebutkan bahwa mayoritas pria dalam studinya hanya menertawakan atau mengabaikan tekanan tersebut.

"Mereka hanya tertawa ketika saya bertanya tentang hal itu, mereka tidak merasa terganggu," ungkapnya.

Bagaimana pria tanpa anak dipandang oleh orang lain

Hal ini diperkuat oleh penelitian dari Profesor Tom Denson dari School of Psychology UNSW. Studi tersebut menemukan bahwa bias negatif masyarakat lebih condong menyudutkan wanita.

Penelitian tersebut menemukan bahwa pria yang memilih untuk tidak memiliki anak mengalami bias yang lebih sedikit daripada wanita yang memilih untuk tidak memiliki anak.

"Pria yang memilih untuk tidak memiliki anak dinilai lebih memiliki kehangatan interpersonal daripada wanita yang memilih untuk tidak memiliki anak, yang dipandang kurang hangat," kata Profesor Denson.

Sebuah studi tentang stigma dan tekanan sosial terhadap pria dan wanita yang secara sukarela memilih untuk tidak memiliki anak menemukan bahwa wanita dipandang oleh masyarakat sebagai perawan tua, sementara pria dianggap sebagai sosok yang sedang menjalani impian.

Alih-alih meninggalkan warisan lewat garis keturunan atau nama keluarga, mereka memilih berkontribusi kepada masyarakat dengan cara lain, seperti aktif dalam kegiatan amal, berdonasi, atau membimbing generasi muda. Mereka memiliki keyakinan kuat bahwa pilihan hidup ini tidak membuat mereka lebih rendah daripada pria yang memiliki anak.

"Mereka merasa cukup nyaman berkontribusi kepada masyarakat dengan cara mereka sendiri. Dan memiliki keyakinan kuat bahwa pilihan ini tidak membuat dirinya lebih rendah daripada seseorang yang memiliki anak," pungkasnya.


(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Puji Piala Dunia 2026 sebagai Salah Satu Acara Terbesar


Related Articles