Karyawan RI Rentan ISPA, Usia 30-an Banyak Alami Gangguan Otot

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Kamis, 16/07/2026 15:15 WIB
Foto: Seorang pekerja melintas di depan mural ilustrasi di Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta Selatan, Senin, (13/10/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penyakit yang menyerang pekerja di Indonesia ternyata berubah seiring bertambahnya usia. Karyawan muda lebih rentan terserang infeksi saluran pernapasan, sedangkan pekerja berusia di atas 50 tahun mulai didominasi penyakit kronis seperti gangguan jantung hingga kanker.

Temuan tersebut terungkap dalam laporan Indonesia Employee Health & Benefit Insight 2026 oleh Halodoc yang disusun dari lebih dari 1 juta transaksi layanan kesehatan selama kuartal I-2026. Itu mencakup lebih dari 3.000 diagnosis ICD-10 dan lebih dari 30 sektor industri di Indonesia.

Chief of Medical Halodoc, dr. Irwan Heriyanto, MARS, mengatakan, pola penyakit karyawan sangat dipengaruhi oleh kelompok usia. Ia mencatat, ada tiga batasan usia untuk melihat pola penyakit pada pekerja diantanya di bawah 30 tahun, 30-49 tahun dan 50 tahun ke atas.

"Kita lihat dari usia, di bawah 30 tahun banyak penyakit akut seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Lalu usia 30-49 tahun didominasi gangguan muskuloskeletal, seperti penyakit otot dan sendi. Sementara usia di atas 50 tahun mulai didominasi penyakit kardiovaskular dan penyakit kronis lainnya," ujar Irwan dalam peluncuran laporan tersebut di Jakarta, Kamis (16/6/2026).

Ia bilang, tingginya kasus ISPA pada pekerja muda tidak lepas dari tingginya mobilitas serta aktivitas di ruang publik dan transportasi umum yang meningkatkan risiko penularan virus. Sementara itu, pada kelompok usia produktif 30-49 tahun, keluhan otot dan sendi banyak berkaitan dengan aktivitas kerja, mulai dari pekerjaan fisik hingga duduk terlalu lama di depan komputer.


"Dan untuk yang memasuki usia di atas 50 tahun, risiko penyakit kronis meningkat karena mulai muncul berbagai penyakit penyerta seperti hipertensi maupun diabetes yang berujung pada penyakit kardiovaskular," jelas dr. Irwan.

Tak hanya berbeda berdasarkan usia, laporan tersebut juga menemukan perbedaan profil penyakit berdasarkan gender. Sebanyak 81% pasien dengan penyakit kardiovaskular merupakan laki-laki.

"Sementara 72% pasien kanker atau neoplasma merupakan perempuan, dan ini dipengaruhi oleh faktor biologis seperti organ reproduksi, hormon, hingga faktor genetic," kata ia.

Untuk diagnosis rawat jalan, penyakit yang paling sering ditemukan masih didominasi ISPA dengan gejala seperti demam, batuk, pilek atau hidung tersumbat, serta sakit kepala. Sementara pada layanan rawat inap, kasus yang banyak ditemukan antara lain gangguan saluran pencernaan seperti GERD, influenza dan pneumonia, serta penyakit pernapasan lainnya.

Industri Tambang Catat Biaya Kesehatan Tertinggi

Selain memotret pola penyakit, laporan tersebut juga mengungkap besarnya pemanfaatan manfaat kesehatan (medical benefit) di berbagai sektor industri. Chief Marketing Officer Halodoc Fibriyani Elastria mengatakan, industri energi dan pertambangan menjadi sektor dengan pemanfaatan layanan kesehatan sekaligus biaya kesehatan tertinggi.

Sebanyak 44% karyawan di sektor tersebut memanfaatkan manfaat kesehatan, dengan rata-rata biaya mencapai Rp2,3 juta per peserta hanya dalam tiga bulan. Sebagai perbandingan, sektor teknologi mencatat tingkat pemanfaatan sebesar 40% dengan rata-rata biaya Rp1 juta per peserta.


Kemudian sektor perbankan sebesar Rp680 ribu, ritel Rp500 ribu, sedangkan manufaktur menjadi salah satu sektor dengan biaya paling rendah, sekitar Rp465 ribu per peserta selama tiga bulan.

"Tingginya biaya di sektor energi dan pertambangan dipengaruhi karakter pekerjaan yang lebih kompleks, memiliki risiko lebih tinggi, serta umumnya didukung manfaat kesehatan yang lebih lengkap," katanya.

Di sisi lain, sektor teknologi memiliki biaya kesehatan yang lebih rendah karena pekerjanya lebih terbiasa memanfaatkan layanan digital seperti telemedicine yang lebih efisien dari sisi biaya.

Sementara itu, kelompok usia 30-39 tahun menjadi penyumbang pengeluaran kesehatan terbesar secara total karena merupakan kelompok pekerja produktif yang umumnya sudah memiliki keluarga. Namun, biaya rata-rata per peserta justru paling tinggi terdapat pada kelompok usia di atas 50 tahun karena penyakit yang ditangani lebih kompleks dan membutuhkan penanganan jangka panjang.

Penyakit Kronis Bisa Melonjakkan Biaya hingga 3 Kali Lipat

Irwan mengatakan, perusahaan perlu mulai menggeser fokus dari pengobatan menuju pencegahan penyakit. Ia menyarankan perusahaan rutin menggelar skrining kesehatan atau medical check up, mendorong pola hidup sehat, aktivitas fisik, pengelolaan stres, hingga menyediakan program vaksinasi sesuai kebutuhan karyawan.

dr. Irwan menekankan, langkah preventif tersebut bukan hanya menjaga kesehatan pekerja, tetapi juga menekan biaya kesehatan perusahaan.

"Vaksin influenza saja dapat mengurangi kunjungan pasien hingga 66%," katanya.

Selain itu, pasien dengan penyakit kronis dapat menghabiskan biaya kesehatan rata-rata tiga kali lebih besar dibanding pasien lainnya. Jika penyakit kronis disertai komorbiditas, beban biaya kesehatan bahkan dapat meningkat hingga 11 kali lipat.

"Jadi, saya ulangi lagi balik lagi, skrining rutin dan vaksinasi menjadi investasi penting bagi perusahaan untuk menjaga produktivitas sekaligus mengendalikan biaya kesehatan jangka Panjang bagi pekerja," kata dr. Irwan.


(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Veddriq & Desak Raih Medali Emas Kejuaraan Dunia Panjat Tebing 2026