Usai Turki, Mesir Ikut Tolak Kapal Pesiar yang Bawa Turis LGBTQ

Linda Hasibuan, CNBC Indonesia
Selasa, 14/07/2026 13:00 WIB
Foto: Ilustrasi bendera pelangi. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nasib malang menimpa para penumpang kapal pesiar khusus LGBTQ yang tengah melakukan perjalanan di kawasan Mediterania. Setelah beberapa hari sebelumnya dilarang mengunjungi Turki, kapal sewaan tersebut kini dilaporkan ditolak masuk ke pelabuhan penggantinya di Mesir.

Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh Rich Campbell, Presiden dan CEO Atlantis Events selaku operator pelayaran, melalui pernyataan tertulis kepada USA TODAY.

Kapal pesiar mewah Scarlet Lady milik Virgin Voyages tersebut awalnya dijadwalkan berlabuh di Alexandria, Mesir, pada 9 Juli sebagai bagian dari paket pelayaran Mediterania selama 10 malam yang berangkat sejak 5 Juli lalu.


Rute ke Mesir dan Pulau Kreta di Yunani ini sebenarnya dipilih untuk menggantikan jadwal kunjungan ke Turki yang dibatalkan sepihak oleh otoritas setempat.

"Kami sudah mendapat persetujuan untuk bersandar di Mesir tapi empat jam sebelum kami sampai, kami diberitahu bahwa kapal tidak diizinkan masuk ke pelabuhan. Tidak ada penjelasan yang diberikan untuk keputusan ini dan kami sangat kecewa," ujar Campbell.

Hingga berita ini diturunkan, otoritas pelabuhan Mesir belum memberikan tanggapan resmi terkait alasan penolakan tersebut.

Penolakan ini dinilai mengejutkan karena Atlantis Events mengaku telah berulang kali membawa wisatawan ke negara piramida tersebut tanpa kendala di masa lalu.

"Tahun lalu, kami membawa 2.500 tamu ke Alexandria dan tahun sebelumnya 1.200, keduanya tanpa insiden dan aman. Setidaknya sudah 5 kali berlabuh di Mesir di masa lalu," paparnya.

Sebelum insiden di Mesir, kapal ini sudah mendapat penolakan keras di Turki akhir Juni lalu. Otoritas Provinsi Aydın, tempat pelabuhan populer Kusadasi berada, secara terbuka melarang kapal tersebut bersandar.

Berdasarkan rilis resmi pemerintah lokal Turki, kunjungan kapal pesiar LGBTQ dinilai "memicu kekhawatiran publik yang signifikan karena hubungannya dengan kelompok yang perilakunya tidak sesuai dengan struktur masyarakat dan nilai-nilai moral."

Menanggapi boikot beruntun ini, Campbell mengkritik keras kebijakan diskriminatif yang diambil oleh negara-negara tujuan wisata tersebut.

"Jika bisnis Anda adalah pariwisata, Anda tidak bisa memilih dan memilah siapa tamu Anda. Begitu Anda melakukannya, Anda menanamkan rasa takut pada kelompok tersebut. Ini adalah langkah yang sangat picik," tegasnya.


(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Veddriq & Desak Raih Medali Emas Kejuaraan Dunia Panjat Tebing 2026