Studi Baru: Narsisme Ternyata Bisa Diturunkan dari Orang Tua

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Kamis, 18/06/2026 13:20 WIB
Foto: Ilustrasi (Designed by Waewkidja / Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Selama bertahun-tahun, banyak teori psikologi meyakini orang tua berperan besar dalam membentuk anak menjadi pribadi narsistik, baik karena terlalu memanjakan maupun kurang memberikan kasih sayang. Namun, penelitian terbaru justru menemukan hal yang berbeda.

Melansir PsyPost, Kamis (18/6/2026), sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Social Psychological and Personality Science menunjukkan, kecenderungan narsisme dalam keluarga diwariskan hampir sepenuhnya melalui faktor genetik, bukan karena pola pengasuhan atau lingkungan rumah tangga.

Narsisme merupakan sifat kepribadian yang ditandai dengan rasa superior, merasa berhak mendapatkan perlakuan istimewa, serta keinginan kuat untuk memperoleh status sosial. Orang dengan tingkat narsisme tinggi sering kali terlihat percaya diri dan mampu meraih kesuksesan awal dalam hubungan sosial maupun kepemimpinan. Namun, dalam jangka panjang sifat ini juga kerap memicu konflik, pengambilan keputusan berisiko, hingga masalah di lingkungan kerja.

Selama ini, banyak teori menyebut narsisme terbentuk akibat pola asuh tertentu. Ada yang beranggapan anak menjadi narsistik karena orang tua terlalu mengagungkan mereka, sementara teori lain menyebut sifat tersebut muncul sebagai respons terhadap orang tua yang dingin dan kurang kasih sayang.

Untuk menguji anggapan tersebut, tim peneliti yang dipimpin psikolog Mitja Back dari University of Münster, Jerman, melakukan analisis terhadap ribuan anggota keluarga dalam proyek penelitian besar bernama TwinLife di Jerman.

Penelitian ini melibatkan 6.715 responden yang terdiri dari pasangan kembar identik dan non-identik, saudara kandung, ayah, ibu, serta pasangan mereka. Struktur keluarga seperti ini memungkinkan peneliti membedakan pengaruh genetik dan lingkungan dalam pembentukan kepribadian.

Para peserta mengisi serangkaian kuesioner psikologis yang mengukur berbagai aspek narsisme, mulai dari perasaan istimewa, kemampuan memimpin, keinginan mengendalikan orang lain, hingga kebutuhan akan perhatian, kekaguman, dan prestise sosial.

Peneliti kemudian membandingkan tingkat kemiripan sifat narsisme di antara anggota keluarga yang memiliki tingkat kesamaan genetik berbeda-beda.

Hasilnya menunjukkan sekitar 50% perbedaan tingkat narsisme antarindividu dipengaruhi oleh faktor genetik. Sementara 50% sisanya berasal dari pengalaman hidup yang bersifat personal atau unik bagi masing-masing individu.

Sebaliknya, lingkungan keluarga yang sama, termasuk pola pengasuhan umum, kondisi ekonomi rumah tangga, maupun kehangatan orang tua, hampir tidak memberikan pengaruh terhadap terbentuknya sifat narsistik.


"Kami tidak menemukan bukti bahwa orang tua menurunkan narsisme kepada anak melalui perilaku atau metode pengasuhan mereka," tulis para peneliti dalam studi tersebut.

Meski orang tua dan anak memang menunjukkan tingkat narsisme yang mirip, kemiripan itu sepenuhnya dijelaskan oleh faktor biologis yang mereka warisi bersama.

Temuan lain yang menarik adalah adanya fenomena assortative mating, yakni kecenderungan seseorang memilih pasangan dengan karakteristik yang mirip dengan dirinya. Dalam penelitian ini, pasangan suami istri cenderung memiliki tingkat narsisme yang serupa.

Hasil tersebut bertolak belakang dengan anggapan populer bahwa individu narsistik biasanya memilih pasangan yang pasif atau memiliki karakter berlawanan.

Peneliti juga menemukan pengaruh genetika dan pengalaman hidup individual terhadap narsisme relatif stabil pada berbagai kelompok usia, mulai dari remaja hingga dewasa muda. Artinya, kontribusi faktor biologis terhadap sifat ini tidak banyak berubah seiring bertambahnya usia.

Meski demikian, para peneliti menegaskan faktor genetik bukanlah satu-satunya penentu. Setengah dari variasi narsisme masih berasal dari pengalaman hidup yang unik pada setiap individu.

Dengan demikian, penelitian selanjutnya perlu menelusuri lebih jauh bagaimana lingkungan pertemanan, hubungan romantis, pengalaman kerja, hingga berbagai bentuk penghargaan sosial dapat memperkuat kecenderungan narsistik seseorang.

Selain itu, ilmuwan juga ingin memahami mekanisme biologis yang terlibat, termasuk kemungkinan peran hormon seperti testosteron maupun sistem saraf yang mengatur respons terhadap penghargaan dan ancaman sosial.


(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Cuan Bisnis Apparel Olahraga Saat Warga RI Doyan Lari-Main Bola