Cara Mudah Mengenali Bos yang Narsis Menurut Ahli Psikologi

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
10 April 2026 10:30
Ilustrasi
Foto: Hunters Race via Unsplash

Jakarta, CNBC Indonesia - Gaya kepemimpinan para bos perusahaan kini makin jadi sorotan, terutama ketika batas antara percaya diri dan narsistik makin tipis. Di tengah maraknya figur CEO yang karismatik sekaligus ego-sentris, para peneliti mencoba menjawab satu pertanyaan penting: bagaimana cara mengenali bos yang narsis?

Selama ini, narsisme dikenal sebagai gangguan kepribadian yang ditandai rasa superior, haus pengakuan, dan rendah empati, sebagaimana dijelaskan dalam pedoman psikiatri DSM. Namun, mengukur sifat ini di dunia kerja, terutama pada level eksekutif, bukan perkara mudah.

Tes psikologi seperti Narcissistic Personality Inventory (NPI) memang umum digunakan, tetapi hampir mustahil diterapkan langsung pada CEO atau pimpinan perusahaan. Karena itu, para peneliti mengembangkan cara lain yang lebih halus dengan mengamati perilaku dan cara komunikasi para pemimpin.

Melansir The Conversation, salah satu pendekatan awal datang dari riset yang mengamati jejak narsisme melalui hal-hal sederhana. Misalnya, seberapa dominan foto CEO dalam laporan tahunan, seberapa sering nama mereka muncul dalam siaran pers, hingga kebiasaan menggunakan kata "saya" dibanding "kami" saat wawancara.

Bahkan, hal seperti besaran gaji CEO dibanding eksekutif lain juga dianggap bisa menjadi indikator ego yang tinggi. Penelitian lanjutan kemudian memperluas indikator ini, termasuk panjang biografi resmi, jumlah penghargaan yang dicantumkan, hingga gaya tanda tangan.

Tanda tangan yang besar dan mencolok disebut-sebut berkorelasi dengan tingkat narsisme yang lebih tinggi. Dan berbagai indikator ini terbukti memiliki hubungan kuat dengan hasil tes psikologi klasik, sehingga dinilai cukup akurat untuk membaca kecenderungan narsistik tanpa perlu tes langsung.

Di era digital, media sosial membuka cara baru untuk mengamati karakter pemimpin. Platform seperti LinkedIn kini menjadi ladang data bagi peneliti.

Beberapa indikator yang dianalisis antara lain jumlah foto profil, panjang deskripsi diri, jumlah pengalaman kerja yang dicantumkan, hingga daftar keahlian dan sertifikasi. Semakin penuh dan menonjol profil tersebut, semakin besar kemungkinan adanya kecenderungan narsistik, meski tidak selalu berarti negatif.

Namun, peneliti juga mengingatkan bahwa media sosial memang mendorong orang untuk lebih mempromosikan diri, sehingga bisa memperkuat kesan narsistik.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article 6 Hal yang Sebaiknya Dirahasiakan dari Orang Lain Menurut Psikolog


Most Popular
Features