FOTO

BI Gelar Pameran Wayang, Hiburan Rakyat dari Krisis ke Krisis

CNBC Indonesia/Fakhriansyah, CNBC Indonesia
Kamis, 04/06/2026 11:25 WIB

Di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat, mulai dari maraknya PHK hingga menurunnya daya beli, pertunjukan wayang justru mengalami peningkatan peminat.

1/7 Pameran Ing Lakon: Wayang Wong Dadi Saksi di Museum Bank Indonesia, Rabu (3/6/2026). (CNBC Indonesia/Fakhriansyah)

Bank Indonesia lewat Museum Bank Indonesia kembali mengadakan Pameran D'Commentry bertajuk "Iŋ Lakon: Wayang Wong Dadi Saksi" yang dibuka pada Rabu (3/6/2026). Pameran ini mengangkat kisah wayang orang dalam perjalanan sejarah ekonomi Indonesia, khususnya terkait perkembangan bank sentral dan mata uang. (CNBC Indonesia/Fakhriansyah)

2/7 Pameran Ing Lakon: Wayang Wong Dadi Saksi di Museum Bank Indonesia, Rabu (3/6/2026). (CNBC Indonesia/Fakhriansyah)

Wayang orang sendiri awalnya bersifat sakral, terbatas dan hanya dinikmati kalangan keraton. Masyarakat biasa tak bisa leluasa menikmatinya. Namun,"tembok" penghalang ini runtuh ketika seorang Tionghoa bernama Gan Kam berhasil mengkomersialisasi wayang orang, sehingga membuat masyarakat bisa menonton. Bahkan, saat terjadi krisis ekonomi 1930-an atau periode malaise, wayang orang menjadi hiburan warga yang sangat dinantikan. (CNBC Indonesia/Fakhriansyah)

3/7 Pameran Ing Lakon: Wayang Wong Dadi Saksi di Museum Bank Indonesia, Rabu (3/6/2026). (CNBC Indonesia/Fakhriansyah)

Tim kurator pameran menuliskan, di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat, mulai dari maraknya PHK hingga menurunnya daya beli masyarakat, pertunjukan wayang orang justru mengalami peningkatan peminat. Bagi masyarakat, pertunjukan wayang orang menjadi sarana hiburan untuk melepas penat dan stres di tengah situasi sulit. Sementara bagi para pelaku dan penyelenggara pertunjukan, meningkatnya minat penonton menjadi cara untuk bertahan hidup melalui pendapatan dari pagelaran yang digelar. (CNBC Indonesia/Fakhriansyah)

4/7 Pameran Ing Lakon: Wayang Wong Dadi Saksi di Museum Bank Indonesia, Rabu (3/6/2026). (CNBC Indonesia/Fakhriansyah)

Kenaikan minat masyarakat terhadap wayang orang kemudian dimanfaatkan pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk menunjukkan keberpihakan di tengah krisis ekonomi. De Javasche Bank (Bank Sentral era Hindia Belanda) kemudian mencetak uang kertas bergambar wayang orang untuk mengangkat identitas dan kesenian budaya lokal. (CNBC Indonesia/Fakhriansyah)

5/7 Pameran Ing Lakon: Wayang Wong Dadi Saksi di Museum Bank Indonesia, Rabu (3/6/2026). (CNBC Indonesia/Fakhriansyah)

Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Sani Eka Duta, mengungkap, di tengah derasnya arus modernisasi, pelestarian wayang orang dan kisah-kisah yang ditampilan menjadi semakin penting agar warisan budaya itu tidak hilang ditelan zaman. Atas dasar itu, Bank Indonesia merasa perlu ikut menjaga dan memperkenalkan kembali budaya yang telah menjadi bagian panjang dari sejarah Indonesia tersebut.

(CNBC Indonesia/Fakhriansyah)

6/7 Pameran Ing Lakon: Wayang Wong Dadi Saksi di Museum Bank Indonesia, Rabu (3/6/2026). (CNBC Indonesia/Fakhriansyah)

Pameran "Iŋ Lakon: Wayang Wong Dadi Saksi" diadakan di Museum Bank Indonesia dari tanggal 3 Juni sampai 30 Agustus 2026. Selain pameran, Museum Bank Indonesia juga menghadirkan kegiatan lain berupa workshop seni, walking tour, wcrafting workshop. treasure hunt, dan story telling yang akan diadakan dalam waktu terpisah dan diumumkan di sosial media Museum Bank Indonesia. (CNBC Indonesia/Fakhriansyah)

7/7 Pameran Ing Lakon: Wayang Wong Dadi Saksi di Museum Bank Indonesia, Rabu (3/6/2026). (CNBC Indonesia/Fakhriansyah)

Pameran juga menampilkan berbagai kesenian pendukung wayang yang didatangkan langsung berkat kerjasama dari Keraton Yogyakarta dan Mangkunegaran. Gusti Kanjeng Ratu Bendara yang hadir mewakili Keraton Yogyakarta mengungkap pameran ini cukup unik karena tidak hanya memamerkan mata uang lama tapi bagaimana mengkorelasikan sejarah dari mata uang tersebut ke dalam budaya. "Jadi harapannya pameran temporer ini bagi generasi muda bisa mendapatkan sejarah dari beberapa sisi," ungkapnya, kepada CNBC Indonesia, Rabu (4/6/2026)

(CNBC Indonesia/Fakhriansyah)

Add as a preferred
source on Google