Yovie Widianto Bicara AI di Musik RI: Bisa Presisi Tapi Tak Punya Hati
Fergi Nadira,
CNBC Indonesia
22 May 2026 16:42
Jakarta, CNBC Indonesia - Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto mengingatkan generasi muda agar tidak sepenuhnya bergantung pada artificial intelligence (AI) dalam berkarya musik.
Menurut musisi senior itu, AI memang bisa membantu proses kreatif dengan cepat dan presisi. Namun teknologi tetap tidak bisa menggantikan rasa dan hati manusia dalam menciptakan karya seni.
"AI bisa bikin musik dengan sekejap saja, bisa buat lagu. Tapi AI enggak punya hati," kata Yovie dalam diskusi pada Jogjakarta Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (22/5/2026).
Meski demikian, pencipta lagu "Mantan Terindah" itu menilai AI seharusnya hanya menjadi alat bantu, bukan fondasi utama dalam proses kreatif manusia.
"Jadikanlah AI itu sebagai alat atau mitra kita dalam berkarya. Tapi jangan jadi alat utama atau jadi andalan kita bersandar pada AI," ujarnya.
Yovie menilai kemajuan teknologi memang tidak bisa dihindari. Ia pun mengaku selalu mengikuti perkembangan teknologi musik sejak era rekaman kaset, pita analog, hingga platform digital saat ini.
"Kalau saya tidak pelajari teknologi, pasti tertutup dan hilang oleh zaman," katanya.
Namun di tengah perkembangan AI, Yovie mengingatkan pentingnya menjaga orisinalitas dan sentuhan manusia dalam karya seni.
"Adik-adik suka cinta yang artifisial atau cinta sejati?," tanya Yovie kepada peserta Jogja Financial Festival.
"Kalau cinta sejati, maka perjuangkan manusia-manusia sejati, bukan manusia-manusia artifisial," lanjutnya.
Musik Tak Sekadar Teknologi
Dalam kesempatan itu, Yovie juga menekankan, karya musik besar lahir bukan semata karena teknologi, tetapi dari pengalaman hidup, emosi, dan nilai budaya. Ia mencontohkan lagu "Cantik" yang lahir dari hubungan emosionalnya dengan sang ibu dan nasihat ayahnya sejak kecil.
Menurut Yovie, diferensiasi dan identitas budaya menjadi kekuatan utama musisi Indonesia untuk bertahan di tengah perkembangan global dan otomatisasi teknologi. Ia bilang, lagu Indonesia harus punya cita rasa Indonesianya.
Ia menyebut unsur-unsur vokal khas Indonesia seperti "hei ya ya" dalam lagu-lagunya menjadi bagian penting dalam membangun identitas musik nasional.
"Teknologi akan terus berubah, tapi karya yang lahir dari rasa dan pengalaman manusia akan selalu punya tempat," kata Yovie. (miq/miq) Add
source on Google [Gambas:Video CNBC]