Menkes Soroti Harga Obat di RI, Bisa 6x Lebih Mahal dari Pasaran
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti tingginya harga sejumlah obat hepatitis di Indonesia yang disebut masih jauh lebih mahal dibandingkan harga pasar global. Itu ia disampaikan pada kesempatan peringatan Hari Kesehatan Hati Sedunia bertajuk "Kebiasaan Solid, Hati yang Kuat" di Jakarta pada Selasa (2/6/2026).
Budi bilang, harga beberapa obat hepatitis B dan hepatitis C di Indonesia masih berada pada kisaran dua hingga enam kali lipat dibandingkan harga internasional.
"Saya masih lihat ini anomali di Indonesia. Harga obat di Indonesia masih dua sampai enam kali harga obat di dunia," kata Budi.
Ia memaparkan salah satu contoh adalah obat Tenofovir Disoproxil Fumarate (TDF) untuk hepatitis B yang di Indonesia dibanderol sekitar US$ 4,8, sementara harga globalnya hanya sekitar US$ 2,4. Kemudian Entecavir (ETV) yang di Indonesia mencapai sekitar US$ 18 per dosis, sedangkan harga global hanya sekitar US$ 7,5.
Perbedaan yang lebih besar terjadi pada sejumlah obat hepatitis C. Salah satunya Direct Acting Antiviral (DAA) yang disebut mencapai US$ 152 di Indonesia, padahal harga internasional sekitar US$ 24.
Sementara kombinasi Sofosbuvir dan Velpatasvir yang digunakan untuk pengobatan hepatitis C tercatat sekitar US$ 1.100 di Indonesia, dibanding harga global sekitar US$ 174.
Oleh sebab itu, Kementerian Kesehatan berencana melakukan negosiasi lebih lanjut untuk menurunkan harga obat hepatitis agar pengobatan lebih mudah dijangkau masyarakat. Selain menekan harga obat, pemerintah juga tengah mengkaji perluasan layanan diagnosis dan pengobatan hepatitis hingga tingkat puskesmas.
Menurut Budi, langkah tersebut diperlukan mengingat jumlah penderita hepatitis di Indonesia sangat besar sehingga tidak mungkin seluruh penanganan hanya dilakukan di rumah sakit. Pemerintah, kata Budi, juga berencana melatih dokter umum di puskesmas agar mampu melakukan diagnosis sederhana, mendeteksi fibrosis hati lebih dini, serta memberikan terapi awal kepada pasien hepatitis.
"Kita harus memastikan early treatment bisa diturunkan ke puskesmas. Jadi begitu ketahuan, pasien bisa langsung mendapat pengobatan," katanya.
Di sisi lain, pemerintah juga menargetkan peningkatan layanan transplantasi hati nasional. Budi bahkan meminta agar kemampuan transplantasi hati dapat diperluas hingga seluruh provinsi di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
Budi bilang, transplantasi hati tetap menjadi pilihan terapi terakhir bagi pasien yang mengalami kerusakan hati berat atau gagal hati stadium lanjut.
"Transplantasi hati harus bisa dilakukan lebih luas di Indonesia," ujarnya.
(hsy/hsy) Add
source on Google