Asbes Ubah Kota Jadi Beracun, 4.000 Orang Meninggal

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Minggu, 24/05/2026 16:45 WIB
Foto: Pita peringatan asbes terlihat di Sekolah Black Mountain di Canberra, Australia, 17 November 2025. Hampir 70 sekolah negeri di Canberra akan ditutup hari ini karena potensi kontaminasi asbes. (via REUTERS/LUKAS COCH)

Jakarta, CNBC Indonesia — Sebuah kota di sebelah utara Perth yakni Wittenoom, dikenal sebagai lokasi bencana industri besar di Australia. Aktivitas tambang asbes di daerah tersebut telah menyebabkan sekitar 4.000 kematian akibat penyakit yang dipicu oleh paparan serat berbahaya.

Karena risiko kesehatan yang sangat tinggi, pemerintah Australia Barat telah menutup kota tersebut dan merobohkan seluruh bangunan yang tersisa. Saat ini, akses ke lokasi dilarang keras, dan siapapun yang melanggar dapat dikenakan denda hingga 500 dolar Australia.

Kepala Eksekutif Asbestos Disease Society of Australia Melita Markey mengingatkan bahwa dampak dari paparan asbes tidak bisa diperbaiki atau ditarik kembali. Hal itu menegaskan betapa berbahayanya wilayah tersebut sehingga harus benar-benar dihindari oleh masyarakat.


Anehnya, meski tahu kota tersebut beracun, seorang travel blogger asal Queensland justru mengunjungi bekas kota tambang asbes Wittenoom di Australia Barat bersama putrinya yang masih berusia empat tahun. Kunjungan tersebut direkam dan diunggah ke media sosial serta kanal YouTube miliknya yang memicu kecaman dari pegiat kesehatan akibat risiko paparan asbes mematikan.

"Sebagai orang tua, sebagai ibu, pemandangan ini sangat menyedihkan," ujarnya menanggapi kunjungan tersebut, dikutip dari ABC News, dikutip Minggu (24/5/2026).

Ia menegaskan, seseorang tidak perlu lama berada di lokasi untuk menghirup serat crocidolite, jenis asbes biru yang sangat berbahaya dan tak terlihat oleh mata telanjang. Bahkan, sejumlah joki yang hanya beberapa kali menghadiri balapan di Wittenoom dilaporkan kemudian meninggal akibat penyakit terkait asbes, dengan lokasi itu menjadi satu-satunya sumber paparan yang diketahui.

Tambang asbes di sana memang ditutup pada 1966, tetapi kota tersebut tetap beroperasi selama beberapa dekade setelahnya. Sekolah baru ditutup pada 1985 dan balapan kuda masih digelar hingga 1991.

Markey juga mengingatkan, di Australia terdapat remaja yang menderita mesothelioma, kanker langka yang berkaitan langsung dengan paparan asbes. Meski masih ada wisatawan yang nekat datang, pemerintah Australia Barat menyatakan tidak berencana menambah patroli atau pengamanan.

Departemen Perencanaan, Pertanahan, dan Warisan setempat menegaskan, akses tetap dilarang dan masyarakat diminta mematuhi rambu peringatan demi keselamatan. Polisi Australia Barat juga menyampaikan kekhawatiran, promosi di media sosial dapat mendorong lebih banyak orang untuk berkunjung.

Mereka menegaskan Wittenoom bukan destinasi wisata dan risiko kesehatannya signifikan serta bersifat permanen. "Melakukan hal itu akan membuat individu terpapar risiko kesehatan serius yang terkait dengan kontaminasi kontaminasi asbes," kata mereka.

"Kontaminasi di Wittenoom bersifat permanen, dan risikonya terhadap kesehatan sangat signifikan," tambahnya.

Risiko yang Diperhitungkan

Sang blogger, Ronelle Fotinis, mengaku tertarik mengunjungi tempat yang dianggap tidak biasa dan membandingkan Wittenoom dengan versi Australia dari Chernobyl. Ia bilang, telah mengambil langkah pencegahan, seperti tidak keluar dari mobil, menutup jendela, serta mengatur pendingin udara dalam mode sirkulasi ulang.

"Saya tidak pernah keluar dari mobil. Kami tidak menyentuh tanah atau apa pun di sana," katanya.

Namun ia juga mengakui, dalam penyesalan, seharusnya tidak membawa putrinya ke lokasi tersebut. Fotinis menyebut akses ke area terlarang relatif mudah dilewati dan saat itu ada kendaraan lain yang juga masuk. Ia mengaku tidak menyesal berkunjung, tetapi memastikan tidak akan kembali.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Candi Hindu di Tengah Universitas Islam, Simbol Toleransi