Yovie Naik Panggung, JEC Mendadak Jadi Tempat Karaoke
Yogyakarta, CNBC Indonesia - Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto sukses menyihir Jogja Expo Centre (JEC) menjadi tempat yang romantis. Penampilan Yovie yang membahas mengenai soft power, kebudayaan, musik dan kecerdasan buatan (Artificial Intellegence) turut memeriahkan acara Jogjakarta Financial Festival 2026.
Meski topik bahasan serius, Yovie ternyata menyelipkan aksi bermain piano dan mengajak penonton bernyanyi. Yovie membawakan berbagai lagi ciptaannya, seperti 'Cantik', 'Mantan Terindah' dan 'Soulmate'.
Para pengunjung Jogja FinFest pun terbuai dengan lantunan lagu ciptaan Yovie yang ramah di hati. Mendadak Jogja FinFest pun jadi tempat karaoke bersama.
Musisi dengan karya istimewa di Indonesia hadir dalam Jogja Financial Festival membicarakan soal potensi ekonomi yang besar dari penciptaan dan hak cipta suatu karya.
Yovie mengatakan walaupun saat ini industri kreatif mulai tersaingi oleh hadirnya kecerdasan buatan (AI), namun ada perbedaan mendasar.
"Buat lagi dari AI bisa sangat cepat, tapi AI tidak memiliki hati," katanya di JEC pada Jumat (22/5/2026).
Dalam sesi tersebut, Yovie bahkan sempat mendemonstrasikan kemampuannya membuat lagu secara cepat bersama peserta. Dengan memasukkan not angka secara acak, AI disebut mampu membentuk komposisi lagu dalam waktu sekitar 60 detik.
Meski demikian, pencipta lagu "Mantan Terindah" itu menilai AI seharusnya hanya menjadi alat bantu, bukan fondasi utama dalam proses kreatif manusia.
"Jadikanlah AI itu sebagai alat atau mitra kita dalam berkarya. Tapi jangan jadi alat utama atau jadi andalan kita bersandar pada AI," ujarnya.
Yovie menilai kemajuan teknologi memang tidak bisa dihindari. Ia pun mengaku selalu mengikuti perkembangan teknologi musik sejak era rekaman kaset, pita analog, hingga platform digital saat ini.
"Kalau saya tidak pelajari teknologi, pasti tertutup dan hilang oleh zaman," katanya.
Dalam paparan Musical Talks di Jogja Financial Festival 2026, Yovie mencontohkan Korea Selatan, sebagai salah satu negara dengan industri musiknya yang berhasil karena menampilkan strategi creative soft power. Ia menyoroti bagaimana Korea Selatan berhasil mengubah K-pop, film, drama, fesyen, hingga gim menjadi identitas nasional sekaligus mesin ekonomi negara.
"Jika dikelola dengan baik, karya kreatif bisa menjadi identitas nasional, instrumen diplomasi, mesin ekonomi, sampai pengaruh global," kata Yovie.
Indonesia, kata ia, sebenarnya memiliki modal budaya yang tak kalah besar. Yovie mencatat, Indonesia memiliki lebih dari 550 simpul budaya dari Sabang sampai Merauke. Bahkan, perbedaan budaya bisa ditemukan hanya dalam satu wilayah yang berdekatan.
"Jogja Selatan sama Jogja Utara beda. Sleman sama Bantul juga punya gaya berbeda," katanya.
Oleh sebab itu, ia menilai budaya lokal Indonesia seharusnya bisa diolah menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tinggi lewat teknologi, branding, storytelling, dan distribusi digital.
"Melalui branding, storytelling, dan distribusi digital, nilai budaya dapat melintas batas ruang, waktu, dan pasar," kata Yovie.
(haa/haa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]