8 Penyakit Keturunan yang Sulit Dicegah, Kebotakan Termasuk
Jakarta, CNBC Indonesia - Tidak semua penyakit muncul akibat pola hidup atau faktor lingkungan. Beberapa kondisi kesehatan diketahui dapat diwariskan dari orang tua kepada anak melalui faktor genetik.
Penyakit keturunan merupakan gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kelainan gen atau kromosom tertentu. Dalam sejumlah kasus, orang tua hanya menjadi pembawa sifat atau carrier tanpa mengalami gejala. Namun penyakit bisa muncul pada anak atau generasi berikutnya ketika dipicu faktor lain seperti gaya hidup dan lingkungan.
Menurut International Bioscience melansir Intitut Pertanian Bogor (IPB), ada sejumlah penyakit keturunan yang cukup sulit dicegah karena berkaitan langsung dengan faktor genetik. Oleh sebab itu, pemeriksaan kesehatan sebelum menikah dinilai penting untuk mengetahui risiko penyakit yang bisa diwariskan kepada anak.
Berikut delapan penyakit keturunan yang perlu diwaspadai:
1. Hemofilia
Hemofilia merupakan gangguan pembekuan darah akibat kekurangan faktor pembeku darah tertentu, yakni faktor 8 atau 9. Penyakit ini berkaitan dengan kromosom X sehingga lebih banyak dialami laki-laki, sementara perempuan umumnya menjadi carrier.
Kondisi ini biasanya sudah muncul sejak usia anak-anak dan sulit dicegah karena diwariskan secara genetik dari orang tua.
2. Buta Warna
Buta warna terjadi akibat gangguan kemampuan membedakan warna tertentu. Kondisi ini umumnya diwariskan melalui mutasi genetik pada kromosom X.
Selain faktor keturunan, buta warna juga dapat dipicu kerusakan pada mata, saraf, atau otak akibat paparan bahan kimia tertentu. Gejalanya bisa muncul sejak kecil maupun saat dewasa.
3. Diabetes Melitus
Diabetes melitus juga memiliki kaitan kuat dengan faktor genetik. Penyakit ini ditandai tingginya kadar gula darah akibat gangguan kerja insulin dalam tubuh.
Risiko diabetes tipe 1 meningkat pada seseorang yang mewarisi antigen leukosit tertentu dari orang tuanya. Sementara diabetes tipe 2 juga dapat diwariskan, terutama jika disertai faktor lain seperti obesitas, hipertensi, dan pola hidup tidak sehat.
4. Thalasemia
Thalasemia merupakan kelainan darah yang menyebabkan hemoglobin mudah rusak. Penyakit ini diturunkan apabila kedua orang tua sama-sama membawa sifat carrier.
Anak penderita thalasemia biasanya tampak pucat dan memerlukan transfusi darah rutin untuk menjaga kadar hemoglobin tetap stabil.
5. Kebotakan
Kebotakan tidak hanya dipengaruhi usia atau hormon, tetapi juga faktor keturunan. Risiko kebotakan meningkat apabila terdapat riwayat keluarga dengan kondisi serupa.
Peneliti dari Columbia University Medical Center, dr, Angla Christiano menemukan gen APCDD1 yang berkaitan dengan penipisan rambut hingga kebotakan.
6. Alergi
Faktor genetik juga berperan besar terhadap munculnya alergi. Risiko anak mengalami alergi disebut lebih tinggi apabila kedua orang tua memiliki riwayat alergi.
Namun, alergi juga dapat dipengaruhi lingkungan dan paparan zat tertentu yang memicu reaksi tubuh.
7. Albino
Albino merupakan kondisi genetik akibat gangguan produksi melanin, pigmen yang memberi warna pada kulit, rambut, dan mata.
Penyakit ini biasanya muncul jika anak mewarisi gen albino dari kedua orang tua, meski orang tua hanya berstatus carrier dan tidak menunjukkan gejala.
8. Asma
Asma termasuk penyakit keturunan yang dapat dipicu faktor lingkungan atau alergen tertentu. Risiko penurunan asma disebut lebih besar berasal dari faktor ibu dibanding ayah.
Meski demikian, pada sebagian orang, gejala asma bisa membaik atau menghilang saat memasuki usia dewasa apabila terkontrol dengan baik.
IPB menyebut salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penyakit keturunan adalah menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum menikah. Pemeriksaan ini membantu mengetahui kemungkinan adanya gen penyakit yang dapat diwariskan kepada anak di masa depan.
(hsy/hsy) Add
source on Google