WHO Tetapkan Wabah Ebola Darurat Global, 88 Orang Meninggal
Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) resmi menetapkan wabah Ebola di Democratic Republic of the Congo (DRC) dan Uganda sebagai "darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional" atau public health emergency of international concern (PHEIC).
Penetapan status darurat global ini dilakukan setelah wabah Ebola menewaskan hampir 90 orang dan menyebar lintas negara di kawasan Afrika Timur. Wabah terbaru ini berasal dari Provinsi Ituri di timur DRC dan disebabkan oleh strain langka Bundibugyo, varian Ebola yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus yang disetujui.
"Setelah berkonsultasi dengan #DRC dan #Uganda, tempat penyakit #Ebola yang disebabkan oleh virus Bundibugyo diketahui sedang terjadi saat ini, saya menetapkan bahwa epidemi tersebut merupakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (PHEIC), sebagaimana didefinisikan dalam ketentuan IHR," kata
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dikutip dari Al Jazeera, Senin (18/5/2026).
Otoritas kesehatan menyebut risiko penyebaran regional tergolong tinggi karena kasus telah terdeteksi di Uganda dan sejumlah pasien terkait wabah juga ditemukan di ibu kota Kongo, Kinshasa. Meski demikian, WHO belum menetapkan situasi ini sebagai pandemi global karena dinilai belum memenuhi kriteria tertinggi.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika atau Africa CDC melaporkan hingga Sabtu (16/5/2026) terdapat 88 kematian dan 336 kasus suspek Ebola. Wabah pertama kali terdeteksi di Mongwalu, kawasan pertambangan padat penduduk di Ituri dekat perbatasan Uganda dan Sudan Selatan.
Pasien pertama diketahui merupakan seorang perawat yang datang ke fasilitas kesehatan di Bunia, ibu kota Ituri, pada 24 April dengan gejala menyerupai Ebola. Setelah itu, sejumlah pasien bepergian keluar daerah untuk mencari pengobatan sehingga memperluas penyebaran penyakit.
Di Uganda, pemerintah melaporkan dua kasus terkonfirmasi laboratorium yang terkait dengan pelaku perjalanan dari DRC, termasuk satu pasien yang meninggal dunia di ibu kota Kampala.
Organisasi kemanusiaan Doctors Without Borders atau MSF memperingatkan lonjakan kasus dan kematian dalam waktu singkat sangat mengkhawatirkan. Kondisi keamanan yang buruk serta akses layanan kesehatan yang terbatas di Ituri disebut dapat memperumit upaya penanganan wabah.
Apa Itu Ebola?
Ebola merupakan penyakit virus mematikan yang pertama kali ditemukan pada 1976 di dekat Sungai Ebola di wilayah yang kini menjadi DRC. Virus ini diyakini berasal dari hewan liar, terutama kelelawar, sebelum menular ke manusia.
Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh seperti darah, muntahan, air mani, maupun benda yang terkontaminasi, termasuk pakaian dan tempat tidur. Seseorang baru bisa menularkan virus setelah gejala muncul.
Gejalanya meliputi demam, muntah, diare, nyeri otot, tubuh sangat lemas, hingga perdarahan internal maupun eksternal pada kasus berat. Masa inkubasi penyakit dapat berlangsung antara dua hingga 21 hari.
Menteri Kesehatan DRC Samuel-Roger Kamba mengatakan, strain Bundibugyo memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi hingga mencapai 50%. Ia menegaskan hingga kini belum tersedia vaksin maupun terapi spesifik untuk varian tersebut.
WHO Minta Negara Tetangga Perketat Pengawasan
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, negara-negara tetangga berada dalam risiko tinggi akibat mobilitas penduduk, aktivitas perdagangan, dan perjalanan lintas batas yang masih berlangsung.
WHO meminta negara-negara di kawasan segera mengaktifkan sistem darurat kesehatan, memperketat pemeriksaan lintas perbatasan, serta mengisolasi pasien terkonfirmasi secepat mungkin. Kontak erat pasien juga diminta dipantau setiap hari dan orang yang terpapar disarankan tidak bepergian ke luar negeri selama 21 hari.
Meski begitu, WHO mengingatkan negara-negara agar tidak menutup perbatasan karena pembatasan perjalanan justru dapat memicu jalur penyeberangan ilegal yang sulit dipantau dan memperburuk pengendalian wabah.
DRC sendiri tercatat telah mengalami sedikitnya 17 wabah Ebola sejak virus itu pertama kali ditemukan pada 1976. Wabah terbesar terjadi pada 2018-2020 dan menewaskan hampir 2.300 orang. Secara keseluruhan, Ebola telah membunuh sekitar 15 ribu orang sejak pertama kali ditemukan, hampir seluruhnya di Afrika.
WHO juga memperingatkan konflik bersenjata di wilayah timur DRC berpotensi menjadi tantangan besar dalam penanganan wabah. Kawasan kaya mineral tersebut selama puluhan tahun dilanda konflik kelompok bersenjata yang memperebutkan wilayah tambang.
(hsy/hsy) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]